Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Menuju Akademia IMM

Menuju Akademia IMM

  • account_circle Dwi Kurniadi
  • calendar_month Selasa, 28 Okt 2025
  • visibility 43
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Agung Rezki

Masa-masa awal IMM sebagai organisasi perlawanan, kini hanya tinggal kenangan yang bisa dibaca di buku-buku sejarah IMM ataupun Muhammadiyah. Gerakan IMM saat ini cenderung berorientasi pada penyelesaian program yang telah dibentuk ketika rapat kerja pimpinan, bukan sebagai gerakan kolektif yang membantu perkembangan kader dan penanaman nilai atau core value. Ketidakmampuan kader dalam mengkritisi permasalahan dengan kerangka metodologis menjadi indikasi kematian sebuah organisasi. Terjadinya konflik internal, hilangnya nilai, matinya tradisi fastabiqul khairat menjadi hal yang lumrah kita temui pada tataran komisariat, cabang, daerah, bahkan pusat. IMM sebagai organisasi perkaderan dan pergerakan harus bangkit dari kebiasaan buruk itu, kebiasaan lama dan terlalu meromantisasi sejarah jangan menjadikan Ikatan terlena sehingga sulit untuk berkembang.

Salah satu tokoh yang membidani berdirinya IMM, Djazman Al-Kindi menyebutkan bahwa IMM merupakan sekelompok dari manusia akademi Indonesia. Kader IMM harus menjadikan kampus dan masyarakat sebagai tempat melatih diri dan meningkatkan ilmu sehingga kembali kepada identitas awal (Al-Kindi, 2020). Ideologi yang menjadi landasan gerakanpun tidak boleh hanya tertulis kusam di lembar buku karena jarang dibaca, akan tetapi menjadi hidup dengan gerakan yang kontekstual sesuai dengan Islam berkemajuan. Oleh karena itu, kader IMM harus mengembalikan identitas awal sebagai Akademia IMM sehingga  terbentuklah akademisi Islam yang berakhlak mulia.

Salah satu buku yang membahas tentang akademia IMM adalah buku IMM STUDIES karya M.Amin Aziz. Torehan dalam buku inilah yang menginspirasi penulis untuk menemukan langkah yang tepat dalam membentuk akademia IMM. Langkah yang bisa digunakan untuk menciptakan akademia IMM adalah;

Budaya Riset IMM

Akademia selama ini hanya diartikan sebagai institusi pendidikan kenegaraan yang memiliki hubungan antara peserta didik dalam menyelesaikan masa studinya. Pada konteks ke Indonesiaan, definisi ini tidaklah keliru. Namun, jika direkam kembali kepada akar sejarahnya, akademia merupakan tanah tempat plato mengajarkan ilmu kepada para muridnya (Aziz, 2022). Jika ditarik kepada realitas sekarang, dunia kampus menjadi salah satu bagian dari akademi itu sendiri, karena menjadi wadah pelajar untuk bertukar pikiran dan mencari ilmu seluas-luasnya.

Akan tetapi, hal yang menjadi perhatian penulis adalah terlalu banyaknya gagasan yang didiskusikan tanpa adanya tulisan yang mengikat. IMM sebagai organisasi intelektual sering mengagendakan program diskusi, workshop, debat, tetapi hanya sebatas forum mengadu gagasan tanpa adanya karya nyata dalam bentuk tulisan. Hal ini bukan mengatakan agenda diskusi dan literasi lainnya tidak berguna, akan tetapi era sekarang kita butuh semacam jurnal riset sebagai karya dalam mengeksplore ide-ide cemerlang kader.

Jika dilihat dari segi implikasi, penelitian memiliki peran sebagai metode pengembangan organisasi, metode penentuan konsep gerak, dan pengembangan individu kader secara akademis.

Dari aspek ideologi, penelitian menjadi kegiatan yang sesuai dengan ideologi IMM pada 6 penegasan, yakni ilmu amaliah amal ilmiah. Maka, sebagai upaya dinamisasi gerakan yang adaptif, perlu kiranya penelitian menjadi tradisi di IMM.

Revitalisasi Ideologi IMM

“Ideologi IMM saat ini layaknya candu, mudah dijual mudah juga dibeli” (Aziz, 2022), mengulas problem ideologi dalam artikel Matinya Ideologi IMM yang diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah, ada empat faktor matinya ideologi IMM, pertama Ideologi dianggap paradigma tertutup kedua Ideologi tidak mampu menjadi sumber inspirasi kader ketiga Ideologi tidak memberi makna mendalam terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan keempat Ideologi tidak mampu menjadi dasar moral kader. Oleh karena itu, tradisi pengajian harus selalu dimassifkan, perkaderan harus dimaknai sebagai gerakan penanaman ideologi, peran instruktur dalam mengawal perkaderan, dan implementasi cita-cita IMM harus menjadi dasar gerakan.

Tantangan terberat dalam revitalisasi ini adalah mengubah ideologi dari sekadar dokumen mati menjadi ruh yang hidup dalam setiap gerak kader. Ideologi IMM, seperti yang terkandung dalam Enam Penegasan, harus menjadi lensa yang digunakan kader untuk menganalisis dan merespons persoalan zaman. Misalnya, poin tentang “ilmu amaliah, amal ilmiah” bukan hanya slogan, melainkan panggilan untuk memastikan bahwa ilmu yang didapat di kampus harus memberi dampak nyata bagi masyarakat (amaliah), dan setiap tindakan atau program (amal) harus berbasis pada kajian dan data yang valid (ilmiah).

Peningkatkan peran instruktur menjadi vital. Mereka bukan sekadar fasilitator materi, tetapi teladan hidup yang merefleksikan nilai-nilai ideologi atau ideologi berjalan. Instruktur harus mampu menjadi mentor yang membimbing kader dalam mengkontekstualisasikan ideologi di tengah isu-isu kontemporer, seperti krisis lingkungan, tantangan digital, atau masalah keadilan sosial. Jika ideologi berhasil ditanamkan sebagai kesadaran moral yang mendalam, kader tak akan mudah terjerumus pada konflik internal atau pragmatisme program belaka. Mereka akan memiliki kompas yang jelas, yaitu fastabiqul khairat dalam bingkai Islam berkemajuan.

Penutup

Menuju Akademia IMM adalah sebuah keadaan yang pasti terjadi. Jalan menuju cita-cita ini terletak pada dua pilar utama: budaya riset yang mengikat gagasan dan menjadikannya karya nyata, serta revitalisasi ideologi melalui pengajian yang masif dan perkaderan yang dimaknai sebagai penanaman core value. IMM harus meninggalkan kenyamanan meromantisasi sejarah dan fokus pada tanggung jawab historisnya sebagai kelompok akademi Indonesia yang bergerak.

Dengan menjadikan kampus sebagai wadah akademi, fokus riset menjadi tradisi, dan ideologi sebagai dasar moral yang hidup, IMM akan bangkit dari stagnasi program menuju gerakan kolektif yang adaptif, kritis, dan berakhlak mulia. IMM harus kembali menjadi organisasi perlawanan intelektual di mana setiap kader adalah akademisi yang memiliki integritas keilmuan dan keislaman yang kokoh. Hanya dengan cara ini, Ikatan akan terus relevan dan mampu menjawab tantangan zaman, mengukir sejarah baru yang lebih cemerlang, dan mewujudkan cita-cita terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia.

Editor: Muhammad Farhan

  • Penulis: Dwi Kurniadi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kolaborasi Berkemajuan: ‘Aisyiyah Grogol Dorong Kemandirian Ekonomi Lewat Pelatihan Jenang Krasikan

    Kolaborasi Berkemajuan: ‘Aisyiyah Grogol Dorong Kemandirian Ekonomi Lewat Pelatihan Jenang Krasikan

    • calendar_month Rabu, 30 Jul 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 25
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Sukoharjo, Sabtu 26 Juli 2025 – Majelis Pengembangan Kader (MPK) bersama Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan (MEK) Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Grogol, Sukoharjo, bekerja sama dengan Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah Pondok menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan pembuatan makanan tradisional jenang krasikan. Kegiatan ini berlangsung di Home Industry Jenang Krasikan Bunga Kamboja, Tangkisan, Sukoharjo. Pelatihan diikuti oleh 40 anggota pengajian […]

  • Upgrading IMM KIP 26/27 Perkuat Disiplin dan Tanggung Jawab Kader

    Upgrading IMM KIP 26/27 Perkuat Disiplin dan Tanggung Jawab Kader

    • calendar_month Rabu, 16 Sep 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 80
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, PURWOKERTO — Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) KIP Universitas Muhammadiyah Purwokerto periode 2026/2027 melaksanakan kegiatan Upgrading IIM KIP di kawasan Hutan Pinus Baturraden, Purwokerto, pada Minggu (13/9/2026). Kegiatan yang diikuti 31 peserta dari pimpinan umum dan berbagai bidang tersebut menjadi momentum untuk memperkuat ikatan antar sesama pimpinan sekaligus membangun kultur organisasi yang […]

  • PM3 IMM Jawa Tengah di Karanganyar, Mubalig Muda Ditempa Hadapi Krisis Umat dan Tantangan Digital

    PM3 IMM Jawa Tengah di Karanganyar, Mubalig Muda Ditempa Hadapi Krisis Umat dan Tantangan Digital

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 43
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Karanganyar – Pelatihan Mubalig Mahasiswa Muhammadiyah (PM3) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Tengah resmi dibuka di Kabupaten Karanganyar, Jumat (13/2/2026). Agenda yang diinisiasi DPD IMM Jawa Tengah ini menjadi langkah strategis dalam menyiapkan mubalig muda agar mampu merespons berbagai krisis umat di tengah dinamika sosial dan tantangan era digital. Pembukaan kegiatan berlangsung khidmat dan […]

  • Silaturahim di Samarinda, Wali Kota Balikpapan Nyatakan Dukungan untuk Hari Lingkungan Hidup 2026

    Silaturahim di Samarinda, Wali Kota Balikpapan Nyatakan Dukungan untuk Hari Lingkungan Hidup 2026

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Kabarmuh
    • visibility 37
    • 0Komentar

      SAMARINDA — Komitmen membangun sinergi antara organisasi kemasyarakatan dan pemerintah daerah kembali diperlihatkan melalui silaturahim antara Wali Kota Balikpapan, H. Rahmad Mas’ud, S.E., M.E., dengan jajaran Pimpinan Wilayah Aisyiyah Kalimantan Timur di Kantor PWA Kaltim, Balai Lansia Aisyiyah, Jalan Wiratama Samarinda, Kamis (30/4). Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam mematangkan persiapan peringatan Hari Lingkungan […]

  • Perempuan dan Pencak Silat: Antara Stigma dan Prestasi

    Perempuan dan Pencak Silat: Antara Stigma dan Prestasi

    • calendar_month Jumat, 26 Sep 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 28
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Pukulan, tendangan, dan bantingan dari perempuan tomboy dan pecicilan ternyata membawanya menapaki arena besar Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XIX 2025 di Gedung Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS. Dialah Febrila Widya Noer Azizah, pesilat putri kontingen Jawa Tengah, yang akrab dipanggil Bela oleh rekan-rekannya. Di kontingen Jawa Tengah, Bela dikenal sebagai atlet […]

  • Islam Wasathiyah Dalam Muhammadiyah: Menjaga Keseimbangan Puritanisme dan Kemajuan

    Islam Wasathiyah Dalam Muhammadiyah: Menjaga Keseimbangan Puritanisme dan Kemajuan

    • calendar_month Jumat, 7 Mar 2025
    • account_circle Najihus Salam
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Oleh: Muhammad Awaluddin Rahmat (Kader IMM FAI UMY) Islam hadir sebagai ajaran yang memberikan pedoman hidup bagi umat manusia dengan menekankan keseimbangan antara nilai-nilai spiritual dan realitas kehidupan. Dalam sejarah perkembangannya, Islam sering dihadapkan pada tantangan bagaimana mempertahankan kemurnian ajarannya di tengah dinamika sosial dan kemajuan zaman. Di Indonesia, Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi Islam […]

expand_less