Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Waspadalah dari Sengkuni Zaman Now!

Waspadalah dari Sengkuni Zaman Now!

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Kamis, 13 Agt 2020
  • visibility 7.655
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Waspadalah dari Sengkuni Zaman Now!

| Oleh: M. Andhim | Editor: AM |

Semasa kecil, saya suka mendengarkan cerita dari ayah.  Namun, tidak seperti teman-teman  pada umumnya.  Kebanyakan mereka diberikan cerita oleh orang tuanya tentang dongeng “kancil mencuri timun”, “ayam dan elang” ataupun “kisah mulia para nabi dan rasul yang penuh keteladanan”. Sebelum tidur, saya terbiasa mendengar kisah-kisah pewayangan yang kisahnya heroik, dramatis dan sesekali jenaka. Di sela-sela itu ayah selalu menyampaikan pesan tersirat dibalik apa yang telah diceritakan.

Banyak kisah yang telah saya dengarkan dari beliau. Namun kisah yang sampai saat ini masih saya ingat ialah kisah perang Mahabharata. Perang saudara antara putra-putra dari Destrarata dan istrinya Gendari yang masyhur dengan sebutan kurawa. Melawan pasukan  pandawa yang taklain ialah putra-putra dari adiknya Destrarata sendiri yakni prabu Pandu. Dalam perang ini pihak pandawa sebagai simbol kebaikan (protagonis) sedangkan kurawa beserta sekutunya adalah simbol kejahatan (antagonis). Perang ini terjadi karena pandawa yang terus didzholimi oleh pasukan kurawa. Di sisi lain pihak kurawa dengan jumawanya merasa benar sendiri. Sehingga pertempuran 18 hari yang dikenal dengan perang Mahabharata ini terjadi. akhir tragis menimpa kurawa karena kemenangan telak ada di tangan pandawa.

Di balik huru-hara Mahabharata ada banyak tokoh yang terlibat di dalamnya. Dan hemat saya, salah satu tokoh yang masih populer sampai detik ini ialah Sengkuni. Buktinya hari ini jika ada seseorang yang namanya dinisbatkan sebagai Sengkuni maka ia akan merasa risih dan tidak menyukainya. Mengapa Sengkuni?

Sengkuni merupakan biang-keladi dari huru-hara di kerajaan Kurusetra dalam kisah Mahabharata. Ia adalah aktor intelektual yang bekerja di balik layar sehingga terjadi perang saudara yang maha dahsyat.  Kebencian Sengkuni bermula sejak melihat saudarinya (Gendari) menikah dengan Destrarata si buta. Baginya menjadi istri dari orang yang buta merupakan sebuah penghinaan terhadap kehormatan keluarganya. Sehingga ia bersumpah akan membuat keluarga dari Destrarata dan adiknya (Pandu) menjadi hancur sehancur-hancurnya. Karena baginya hanya dengan melihat kehancuran yang ada pada keluarga merekalah, kehormatan keluarganya bisa kembali sedia kala.

Singkat cerita Sengkuni ditunjuk oleh saudarinya untuk mengasuh putra-putranya yang tak kurang dari 100 bersaudara. Anak yang paling tua dari mereka bernama Duryudhana. Dialah yang menjadi pemimpin pasukan kurawa ketika pecah perang mahabharata. Sejak kecil pasukan kurawa ditanamkan rasa kebencian oleh sang paman (Sengkuni). Sehingga dendam yang membara memenuhi ruang dada mereka terhadap lima bersaudara dari pandawa. Mereka berlima ialah Puntadewa, Werkudara, Arjuna, dan si kembar Nakula-Sadewa. Berbeda dengan Kurawa, para pundawa mendapat asuhan dari punakawan yang selalu mengajarkan kebaikan.

Dalam dunia pewayangan tokoh Sengkuni ini digambarkan dengan sosok yang lebar mulutnya. Filosofinya ialah karena ia ahli dalam bersilat lidah. Dengan kefasihan bertutur kata membuat orang yang bicara dengannya selalu menjadi terperdaya oleh manis bibirnya. Banyak kedustaan yang terucap dari mulutnya. Ketika ia mendapat kabar tentang sesuatu, dengan ‘kreatifitasnya’ ia pun merubahnya. Bisa dibilang dia ini  tidak amanah dalam menyampaikan suatu pesan berita. Kecerdikan dalam bersiasat yang ia punya,  menjadikan banyak orang tertipu oleh muslihatnya. Ia juga terkenal pandai merayu dan meyakinkan seseorang dengan susunan kata-kata yang ia racik. Sehingga Duryudhana dan para saudaranya tak bisa lepas dari pengaruh pamannya itu.

Sosok Sengkuni yang sakti mandraguna, tubuhnya kebal dari berbagai macam senjata. Ia terlampau besar kepala seakan tak ada yang mampu menggagalkan aksinya. Tragis, sayang sekali ia mati di hari terakhir peperangan Mahabharata. Kematiannya oleh tangan keponakannya sendiri si Duryudhana, setelah babak belur dihajar oleh Werkudara. kisah ini saya cukupkan sampai di sini. Jika penasaran seperti apa kisah lengkapnya, silahkan baca sendiri dalam kisah pewayangan.

Sahabat-sahabati yang budiman. Ada banyak hal yang dapat kita ambil pelajaran dari kisah tragisnya Sengkuni. Betapa cerdasnya ia, betapa kuatnya ia dan betapa hebatnya ia. Semua pemberian dari Yang maha kuasa telah ia salah gunakan. Kecerdikan telah berubah menjadi kelicikan dan melahirkan kepicikan sehingga ia tak mampu lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah.  Semua terjadi karena nafsu telah membutakan mata dzohir dan mata batinnya. Tetapi ternyata setiap keburukan akan berakhir pada kehancuran.

Sosok Sengkuni ini menjadi simbol keburukan yang sempurna dalam pewayangan. Di dalam ajaran Islam karakter yang melekat pada dirinya diabadikan dalam al-Qur’an maupun al-Hadits sebagai tanda-tanda kemunafikan. Ketika ia bicara, ia berdusta. Ketika diberikan amanat, ia berkhianat. Dan ketika berjanji, ia suka mengingkari. Sikap takabur atau besar kepala yang ia punya juga pernah disebutkan sebagai sikap yang dimiliki oleh iblis yang dulunya pernah di surga. Dari sikap takabur itulah, yang menyebabkan iblis dikeluarkan dari surga. Sehingga kebencian dan dendam membara iblis lampiaskan kepada Adam dan keturunannnya. Padahal di balik itu semua, sebenarnya Sengkuni memiliki tujuan yang mulia. Karena ia ingin mengangkat kehormatan keluarganya. Namun, jalan sesat yang ia pilih menjadikan kehancuran harus ia tebus sebagai konsekwensinya.

Beberapa sikap buruk di atas sering kali kita jumpai dalam kehidupan nyata. Bahkan tak jarang nampak  pada diri orang-orang di dekat kita. Atau justru mendarah daging dalam tubuh kita. Hanya kita yang tahu tentunya. Maka dari itu mari kita hindari. Dan sebisa mungkin kita perbaiki diri dari karakteristiknya  Sengkuni. Jika kita tidak mau dijuluki sebagai sengkuni-sengkuninya zaman ini.

Dalam tulisan kali ini selain mengajak saudara-saudari untuk mengambil ibrah dari pewayangan. Penulis juga ingin menyampaikan bahwa ada titik temu antara agama dan budaya yang terletak pada “nilai luhur” yang terkandung pada keduanya. Hal inipun pernah dicontohkan oleh raden Mas Said atau yang terkenal dengan Sunan Kalijaga. Beliau pernah berdakwah melalui pendekatan budaya berupa wayang sebagai media dakwahnya. Sayang sekali jika generasi saat ini lebih menyukai budaya luar daripada budaya bangsanya sendiri. Padahal darinya ada banyak hal yang dapat kita jadikan pelajaran untuk perbaikan diri.

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Simposium Keilmuan BEM FAI dan Geografi UMS, Bahas Tuntas Perubahan Iklim

    Simposium Keilmuan BEM FAI dan Geografi UMS, Bahas Tuntas Perubahan Iklim

    • calendar_month Senin, 18 Mar 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 212
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surakarta – Pengaruh iklim telah menjadi isu global yang mendesak, membutuhkan tindakan kolektif untuk mengatasinya. Untuk menggali lebih dalam pemahaman akan implikasi yang dihadapi, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bekerjasama dengan BEM Fakultas Agama Islam (FAI) UMS mengadakan acara pemaparan yang berjudul “Bahas Tuntas Isu Pengaruh Iklim dan Membangun […]

  • Jangan  Jadikan Pergerakan  IMM  Sebagai Komoditas Politik

    Jangan Jadikan Pergerakan IMM Sebagai Komoditas Politik

    • calendar_month Jumat, 12 Jan 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 360
    • 0Komentar

    Oleh: Muhammad Adam Ilham Mizani (Aktivis DPD IMM dan PWPM Jawa Tengah) Pengkhianatan Kebijakan IMM Menjadi pemimpin memang menantang dan berat, apalagi memimpin di organisasi pergerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) penuh dengan  spirit perjuangan. IMM yang lahir bukan untuk  organisasi profit, apalagi bertujuan untuk money oriented sangat tidak dibenarkan, sekali lagi penulis mau mempertegas kalau […]

  • Dari Uganda ke Solo: Pengalaman Unik Mahasiswa Baru Kuliah di UMS

    Dari Uganda ke Solo: Pengalaman Unik Mahasiswa Baru Kuliah di UMS

    • calendar_month Minggu, 17 Nov 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 131
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surakarta – Yiga Shafiki, mahasiswa asing Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) asal Uganda, berbagi pengalaman menariknya selama menempuh pendidikan di Solo. Dalam wawancara, Shafiki yang mengambil jurusan Teknik Elektro, mengungkapkan kesannya terhadap kehidupan di Indonesia, termasuk budaya, makanan, dan lingkungan kampus UMS yang dinilai sangat mendukung. Hal tersebut disampaikan seusai mengikuti Masa Ta’aruf (Masta) Penyambutan Mahasiswa […]

  • PWNA Jateng Temui Ahmad Luthfi, Mantapkan Kolaborasi Dukung Program Pemerintah

    PWNA Jateng Temui Ahmad Luthfi, Mantapkan Kolaborasi Dukung Program Pemerintah

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 23
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Semarang — Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Tengah melakukan silaturahim dengan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu (11/2/2026). Pertemuan tersebut menjadi momentum strategis untuk memperkuat komunikasi sekaligus membahas rencana kolaborasi dalam mendukung program prioritas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, khususnya di bidang kepemudaan dan lingkungan hidup. Audiensi yang diikuti […]

  • Edukasi Limbah Rumah Tangga Lewat Prakarya, Eco Bhinneka Dorong Keadilan Gender di Surakarta

    Edukasi Limbah Rumah Tangga Lewat Prakarya, Eco Bhinneka Dorong Keadilan Gender di Surakarta

    • calendar_month Rabu, 18 Jun 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 31
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surakarta — Kesadaran akan pengelolaan limbah rumah tangga menjadi isu utama yang diangkat Eco Bhinneka Muhammadiyah Regional Surakarta melalui pelatihan bertajuk “Pengembangan Kreativitas dan Inovasi melalui Prakarya Limbah Rumah Tangga Melalui Keadilan Gender” pada Minggu (15/6/2025) di Pendopo Kelurahan Kratonan, Kecamatan Serengan, Surakarta. Kegiatan ini dirancang sebagai respons atas masih rendahnya pengelolaan sampah domestik, […]

  • RAKERDA LLHPB ‘AISYIYAH SUKOHARJO: SATUKAN LANGKAH GERAKAN KETAHANAN KELUARGA TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DAN BENCANA

    RAKERDA LLHPB ‘AISYIYAH SUKOHARJO: SATUKAN LANGKAH GERAKAN KETAHANAN KELUARGA TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DAN BENCANA

    • calendar_month Rabu, 29 Nov 2023
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 258
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Sukoharjo – Konsolidasikan organisasi dan program kerja, Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Daerah (PD) ‘Aisyiyah selenggarakan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) yang dihadiri 41 peserta dari pimpinan LLHPB Pimpinan Daerah dan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) se-Sukoharjo. Pembukaan Rakerda LLHPB yang mengangkat tema ‘Ketahanan Keluarga terhadap Perubahan Iklim dan Bencana untuk Mewujudkan Qoryah Thoyyibah Daerah […]

expand_less