BeritaKaltimPersyarikatan

Meneladani Rasulullah dalam Kehidupan: Jangan Menyerah, Perbaiki Akhlak, dan Tebarkan Rahmat

Samarinda – Khatib Jumat, Ust. Bahril Maulana, S.Pd.I., M.M., mengajak jamaah untuk menjadikan momentum bulan Rabiul Awal sebagai sarana memperkuat kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. melalui keteladanan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan dalam khutbah Jumat di Masjid Ad-Dakwah, Jalan KH Siradj Salman, Pusat Dakwah Muhammadiyah Kalimantan Timur, Samarinda, Jumat (21/8/2026).

Dalam khutbahnya, Ust. Bahril Maulana mengawali dengan mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Ia kemudian mengingatkan bahwa umat Islam telah memasuki bulan Rabiul Awal, bulan ketiga dalam kalender Hijriyah yang memiliki makna penting karena menjadi bulan kelahiran Nabi Muhammad saw.

Namun, menurutnya, memperingati atau mengingat kelahiran Rasulullah tidak seharusnya hanya berhenti pada pertanyaan tentang kapan dan di mana beliau dilahirkan. Yang jauh lebih penting adalah mengambil pelajaran dari kehidupan Rasulullah dan menjadikannya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.

“Allah telah menegaskan bahwa pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagi umat manusia. Karena itu, kecintaan kepada Nabi harus diwujudkan dengan usaha sungguh-sungguh untuk meneladani kehidupan, perjuangan dan akhlak beliau,” demikian inti pesan yang disampaikan khatib.

Ust. Bahril kemudian menguraikan sejumlah hikmah dari kehidupan Nabi Muhammad saw. yang relevan untuk diamalkan dalam kehidupan masa kini.

Jangan Pernah Rendah Diri Karena Keadaan

Hikmah pertama yang disampaikan adalah agar manusia tidak merasa rendah diri karena keadaan hidupnya. Rasulullah saw. lahir dalam keadaan yatim dan tumbuh menghadapi berbagai ujian kehidupan. Namun, keadaan tersebut tidak menghalangi beliau menjadi manusia yang paling mulia.

Dari perjalanan hidup Rasulullah, jamaah diajak memahami bahwa masa lalu bukanlah penentu masa depan. Keterbatasan ekonomi, keadaan keluarga, kegagalan, bahkan pengalaman diremehkan oleh orang lain, tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti menjadi pribadi yang lebih baik.

Khatib juga berpesan kepada para orang tua agar tidak hanya mewariskan harta kepada anak-anaknya, tetapi juga mewariskan iman, akhlak, ilmu dan semangat bekerja keras.

“Boleh kita sederhana secara materi, tetapi jangan pernah sederhana dalam cita-cita, iman, ilmu dan akhlak,” menjadi salah satu penegasan penting dalam khutbah tersebut.

Ujian Hidup Bukan Alasan untuk Menyerah

Selanjutnya, Ust. Bahril Maulana mengingatkan bahwa kehidupan Rasulullah saw. tidak pernah lepas dari ujian. Beliau kehilangan orang-orang yang dicintai, menghadapi penolakan, hinaan, perlakuan menyakitkan hingga pengusiran. Namun, semua itu tidak membuat Rasulullah berhenti menjalankan amanah Allah.

Karena itu, umat Islam diajak untuk tidak menjadikan kesulitan hidup sebagai alasan untuk menyerah. Ketika menghadapi persoalan keluarga, kesulitan ekonomi, kegagalan usaha maupun berbagai masalah lainnya, seorang mukmin harus tetap berikhtiar, bergerak dan memohon pertolongan kepada Allah Swt.

Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah bahwa bersama kesulitan terdapat kemudahan. Ujian bukan akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses kehidupan yang harus dihadapi dengan kesabaran dan keteguhan iman.

Akhlak adalah Bukti Cinta kepada Rasulullah

Bagian penting lainnya dalam khutbah tersebut adalah penekanan tentang akhlak. Menurut Ust. Bahril, mengaku mencintai Rasulullah harus dibuktikan melalui perilaku sehari-hari.

Jamaah diajak untuk melakukan evaluasi diri. Apakah seseorang yang mudah marah kepada pasangan, kasar kepada anak, gemar menghina orang lain di media sosial, menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, atau mudah memutus silaturahmi, benar-benar telah berusaha meneladani akhlak Rasulullah?

Rasulullah saw., tegasnya, dikenal sebagai sosok yang memiliki akhlak agung. Karena itu, seorang muslim hendaknya menjaga agar lisan dan tangannya tidak menyakiti orang lain.

“Jangan sampai tangan kita rajin bersedekah, tetapi tangan yang sama menyakiti orang lain. Jangan sampai mulut kita rajin bershalawat, tetapi mulut yang sama menghina dan menyakiti saudara kita,” demikian penekanan yang disampaikan dalam materi khutbah.

Menjadi Pribadi yang Membawa Rahmat

Ust. Bahril juga mengajak jamaah untuk meneladani Rasulullah sebagai pribadi yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Sebagai umat Muhammad saw., kehadiran seorang muslim seharusnya memberikan manfaat dan ketenangan bagi lingkungan sekitarnya.

Di rumah, seorang muslim hendaknya menjadi sumber ketenangan. Di tempat kerja menjadi pribadi yang jujur. Di masyarakat menjadi penguat persatuan. Sementara di media sosial, seorang muslim semestinya menjadi penyebar informasi yang benar, bermanfaat dan menyejukkan.

“Jadilah seorang muslim yang ketika hadir, orang lain merasa aman. Ketika berbicara, orang lain mendapatkan kebaikan. Ketika bekerja, orang lain mendapatkan manfaat. Ketika berbeda pendapat, tetap menjaga persaudaraan,” pesan khatib.

Menjaga Lisan di Era Digital

Dalam konteks kehidupan modern, Ust. Bahril secara khusus menyinggung pentingnya menjaga lisan dan komunikasi di era media sosial. Jika pada masa lalu ucapan hanya dapat didengar oleh orang-orang tertentu, maka pada masa sekarang satu ucapan dapat tersebar kepada ribuan bahkan jutaan orang.

Karena itu, menjaga lisan pada masa kini juga berarti menjaga aktivitas digital, termasuk pesan WhatsApp, Facebook, Instagram, TikTok, komentar dan berbagai bentuk komunikasi lainnya.

Sebelum mengirim atau menyebarkan sesuatu, setiap muslim diajak untuk bertanya kepada dirinya sendiri: apakah informasi itu benar, bermanfaat, diperlukan dan tidak menyakiti orang lain?

Apabila tidak memberikan manfaat, maka diam lebih baik daripada menimbulkan persoalan.

Pada akhir khutbah, Ust. Bahril Maulana mengajak seluruh jamaah menjadikan momentum kelahiran Nabi Muhammad saw. sebagai momentum perubahan diri. Perubahan itu dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti memperbaiki salat, memperbaiki hubungan dengan Al-Qur’an, memperbaiki akhlak kepada pasangan dan anak-anak, menjaga cara berbicara, serta menjaga tangan dan jari dari menyebarkan keburukan.

Jamaah juga diajak untuk tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dan berusaha menjadi manusia yang membawa manfaat bagi sesama.

Sebab, Rasulullah saw. tidak hanya mengajarkan umatnya menjadi pribadi yang saleh secara individual, tetapi juga menjadi manusia yang memberikan kemanfaatan bagi kehidupan.

Semoga kecintaan kepada Rasulullah saw. tidak hanya berhenti di lisan, tetapi benar-benar tercermin dalam sikap, akhlak dan amal perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.(ay.1)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button