Hadirkan Pakar Internasional, UMS Berdayakan PCA Gatak Lewat Pelatihan Obat Herbal Sambiloto
- account_circle Gissya Titania
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 15
- comment 0 komentar
- print Cetak

UMS Berdayakan PCA Gatak Lewat Pelatihan Obat Herbal Sambiloto
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id mendorong pemanfaatan tanaman obat keluarga secara bijak melalui pelatihan pembuatan obat herbal berbahan sambiloto bagi anggota Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Gatak, Sukoharjo. Kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan teknik budidaya dan pengolahan tanaman obat, tetapi juga membekali masyarakat dengan pemahaman mengenai bukti ilmiah, dosis, serta keamanan penggunaan herbal.
Pelatihan bertajuk “Pelatihan Pembuatan Obat Tradisional untuk Anggota Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Gatak” tersebut diselenggarakan melalui Direktorat Riset, Publikasi, Pengabdian, dan Sentra KI (DRPPS) UMS di Muhammadiyah Boarding School (MBS) Gatak, Sukoharjo, Sabtu (10/10). Kegiatan ini merupakan bagian dari program P2M: Dosen-Tendik Berkontribusi atau Pengabdian Masyarakat Berbasis Pengembangan Persyarikatan.
Program itu diketuai oleh Arga Seta Asmara Sakti, S.T., M.T., bersama tim dosen dan tenaga kependidikan UMS. Pelatihan melibatkan jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gatak, PCA Gatak, serta perwakilan dari 14 pimpinan ranting ‘Aisyiyah se-Kecamatan Gatak.
Melalui program P2M: Dosen-Tendik Berkontribusi, UMS berupaya menghadirkan pengabdian masyarakat yang tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi juga mendorong penerapan ilmu secara berkelanjutan.
“Pendekatan berbasis pengembangan Persyarikatan ini menjadi wujud sinergi perguruan tinggi dengan PCM, PCA, dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dalam memperkuat kapasitas masyarakat,” kata Arga Seta, Selasa (13/10/2026).
Untuk memperluas wawasan peserta, UMS menghadirkan Associate Professor Dr. Md. Sanower Hossain asal Bangladesh yang ahli dalam bidang kefarmasian. Ia menyampaikan materi mengenai pengenalan sambiloto, potensi pemanfaatannya berdasarkan penelitian, teknik budidaya, serta prinsip keamanan dalam penggunaan obat herbal.
Dalam pemaparannya, Sanower Hossain menjelaskan bahwa tanaman herbal merupakan bagian dari tradisi kesehatan masyarakat yang perlu dipahami melalui pendekatan ilmiah. Penggunaannya tidak cukup hanya mengandalkan kebiasaan turun-temurun, tetapi juga perlu mempertimbangkan bukti penelitian, ketepatan dosis, kondisi pengguna, dan kemungkinan interaksi dengan obat medis.

Pemaparan dari Dosen UMS Associate Professor Dr. Md. Sanower Hossain asal Bangladesh yang ahli dalam bidang kefarmasian
“Salah satu tanaman yang menjadi perhatian dalam pelatihan tersebut adalah sambiloto (Andrographis paniculata), yang dikenal memiliki rasa sangat pahit. Tanaman ini mengandung berbagai senyawa alami, termasuk andrografolida yang menjadi salah satu senyawa aktif utamanya,” ujarnya.
Berdasarkan materi penyuluhan yang disampaikan, sambiloto telah diteliti untuk membantu meredakan sejumlah gejala, terutama pilek dan sakit tenggorokan. Namun, kekuatan bukti ilmiah berbeda-beda untuk setiap klaim manfaat. Penggunaan sambiloto tidak dapat dianggap sebagai pengganti pengobatan medis, terutama untuk penyakit berat maupun penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.
Ia juga menekankan bahwa alami tidak selalu berarti aman. Penggunaan herbal secara berlebihan, kesalahan mengenali tanaman, serta interaksi dengan obat dokter dapat menimbulkan risiko kesehatan. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan dosis dan cara penggunaan serta berkonsultasi dengan dokter atau apoteker apabila sedang menjalani pengobatan rutin.
Dalam materi tersebut, sambiloto juga tidak dianjurkan bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak. Tanaman ini berpotensi memengaruhi tekanan darah, kadar gula darah, serta pembekuan darah sehingga penggunaannya memerlukan perhatian khusus, terutama bagi orang yang mengonsumsi obat hipertensi, diabetes, atau pengencer darah.
Melalui pendekatan tersebut, peserta diajak memahami bahwa pemanfaatan tanaman obat perlu berjalan beriringan dengan pengetahuan yang memadai. Dengan demikian, potensi tanaman lokal dapat dimanfaatkan secara lebih bertanggung jawab tanpa mengabaikan aspek keselamatan.
Kegiatan diawali dengan sambutan Bendahara PCM Gatak, Sugeng, yang hadir mewakili Ketua PCM Gatak, didampingi Drs. Hj. Salim dari Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PCM Gatak. Sugeng mengapresiasi kontribusi UMS melalui kegiatan pengabdian masyarakat tersebut.
“Semoga pelatihan ini dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai tanaman obat sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi keluarga melalui pemanfaatan potensi tanaman di lingkungan sekitar,” harapnya.
Sementara itu, Ketua PCA Gatak, Endang Mulyani, S.Pd., berharap kolaborasi pengabdian antara UMS dan ‘Aisyiyah dapat terus berlanjut. Ia mengajak para kader ‘Aisyiyah untuk mulai membudidayakan Tanaman Obat Keluarga (TOGA), seperti sambiloto, jahe, kunyit, dan kencur, di pekarangan rumah masing-masing.
Menurutnya, budidaya tanaman obat perlu diimbangi dengan pengetahuan mengenai pengolahan dan pemanfaatannya. Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat diharapkan mampu mengelola potensi tanaman lokal secara bijak sekaligus membangun kebiasaan hidup sehat di lingkungan keluarga.
Sebagai bentuk keberlanjutan program, tim pengabdian UMS menyerahkan bibit sambiloto secara simbolis kepada perwakilan pimpinan cabang untuk dibudidayakan di lingkungan PCM dan PCA Gatak. Penyerahan tersebut diharapkan mendorong peserta menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan dan memperluas praktik budidaya tanaman obat di masyarakat.
Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan teknis dan demonstrasi pembuatan racikan minuman herbal berbahan sambiloto. Peserta juga mengikuti diskusi interaktif bersama Sanower Hossain untuk memperdalam pemahaman mengenai budidaya, pengolahan, serta pemanfaatan tanaman tersebut secara tepat.
Kolaborasi DRPPS UMS bersama PCM dan PCA Gatak diharapkan memberikan manfaat nyata dalam pengembangan keterampilan budidaya tanaman obat, pemanfaatan sumber daya lokal, serta penguatan potensi ekonomi keluarga. Melalui kegiatan ini, UMS juga menegaskan komitmennya memperluas dampak tridarma perguruan tinggi melalui pemberdayaan masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan Persyarikatan Muhammadiyah. (Fika/Humas)
Editor: Gissya Titania
- Penulis: Gissya Titania