Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Bahasa Indonesia: Dari Bahasa Melayu Menjadi Anugerah Bangsa Indonesia

Bahasa Indonesia: Dari Bahasa Melayu Menjadi Anugerah Bangsa Indonesia

  • account_circle Dwi Kurniadi
  • calendar_month Selasa, 28 Okt 2025
  • visibility 76
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KABARMUH.ID, SURAKARTA – “Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Kalimat itu begitu melekat dalam ingatan bangsa. kalimat tersebut adalah satu butir dari beberapa butir keluaran Kerapatan Besar Pemuda II tahun 1928 yang mulai tahun 30-an disebut sebagai bagian dari tiga sumpah, dan sejak tahun 50-an hingga kini dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Di balik lahirnya kalimat bersejarah itu, tersimpan kisah tentang bagaimana bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan.

Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dipa Nugraha Suyitno, Ph.D., mengungkap bahwa perubahan dari bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia bukanlah proses yang terjadi seketika.

“Butir dari keluaran Kerapatan Besar Pemuda II tahun 1928 yang kemudian sekarang disebut Sumpah Pemuda. Itu sebenarnya proses yang tidak terjadi seketika. Jadi, mulai dari bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia itu ada ceritanya sendiri,” jelas Dipa, Selasa (28/10).

Menurutnya, kisah ini tak bisa dilepaskan dari peran Mohammad Tabrani, seorang wartawan asal Madura yang juga dikenal sebagai pahlawan nasional. Dalam buku Masa-masa Awal Bahasa Indonesia, Tabrani disebut Harimurti Kridalaksana sebagai pemberi nama Bahasa Indonesia. Lebih jauh lagi, ia juga menyebut bahwa bahasa Indonesia lahir tanggal 2 Mei 1926 sebab Tabrani mengusulkan nama bahasa Indonesia sebagai sebutan atas bahasa Melayu untuk kebangsaan Indonesia.

“Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia itu ada kaitannya dengan semangat yang dibawa oleh Tabrani. Seorang wartawan dari Madura, seorang pahlawan nasional yang kalau di bukunya Harimurti Kridalaksana itu, tanda petik, disebut sebagai pemberi nama Bahasa Indonesia,” ujarnya.

Sebelum peristiwa Kerapatan Besar Pemuda 1928 berlangsung, rancangan awal butir-butir yang akan disepakati masih menyebut Bahasa Melayu. Dalam draft itu, tidak tercantum istilah Bahasa Indonesia seperti yang dikenal saat ini.

“Waktu itu Tabrani berdiskusi dengan Muhammad Yamin. Tabrani berkata, ‘Loh, itu yang satu sudah berbangsa Indonesia, bertanah Indonesia, lah kok bahasanya Bahasa Melayu?’ Jadi Tabrani memprotes, dan dalam diskusi itu sebenarnya Muhammad Yamin bersikukuh untuk tetap menggunakan nama Bahasa Melayu,” Dipa memberi rekaan ulang diskusi.

Namun, 28 Oktober 1928 menjadi titik balik. Kertas yang diberikan Muhammad Yamin kepada Soegondo Djojopoespito kala itu ternyata sudah tertulis bahasa Indonesia.

“Lalu ketika 28 Oktober 1928, entah bagaimana ceritanya, kertas yang diberikan Muhammad Yamin pada Soegondo Joepoeswito bunyinya bahasa Indonesia. Jadi artinya Muhammad Yamin akhirnya menyadari kalau tetap menggunakan bahasa Melayu, mungkin ya, ini saya menduga saja, [bahasa Indonesia yang menjadi bagian dari kebangsaan Indonesia tidak pernah ada] karena Muhammad Yamin tidak pernah bercerita mengapa akhirnya dia menyetujui usulan Tabrani untuk mengubah menjadi bahasa Indonesia,” gelaknya.

Menurut Dipa, perubahan istilah ini bukan hanya soal nama, tetapi juga makna dan semangat kebangsaan yang ingin dirangkul oleh semua golongan.

“Tapi logika saja, jadi ketika bangsanya Indonesia, tanahnya Indonesia, maksudnya bahasanya bahasa Melayu. Dan itu juga dengan penggunaan nama bahasa Indonesia, bukan bahasa Melayu itu, kemudian membuat bahasa Indonesia merangkul semua yang menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Kalau Melayu kan nanti alam Melayu, tanah Melayu, orang Melayu. Jadi masuk akal [jika kemudian nama bahasa Indonesia harus lahir]. Itu sejarahnya bahasa Indonesia,” tuturnya.

Seiring waktu, muncul berbagai anggapan mengenai alasan pemilihan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Salah satunya, bahwa bahasa Indonesia dianggap mudah dipelajari dan bersifat egaliter.

“Jadi begini, ada mitos mengenai bahasa Indonesia. Mitos yang paling sering muncul ini ya, yang pertama adalah bahasa Indonesia dipilih karena bahasa Indonesia mudah dipelajari,” ujarnya.

Menurut Dipa, pandangan tersebut keliru jika tidak dilihat dari konteks sosial-politik yang melingkupinya. Ia menegaskan bahwa faktor politik dan kebijakan penerbitan buku oleh Balai Pustaka berperan besar dalam memperkuat posisi bahasa Indonesia di masyarakat.

Ada mitos mengapa Bahasa Indonesia itu menjadi Bahasa Nasional disebut karena mudah dipelajari dan egaliter. Padahal ada faktor lain seperti kebijakan politik yang dilakukan oleh Balai Pustaka dengan buku-buku terbitannya berbahasa Indonesia, meskipun ada beberapa terbitan dengan bahasa Sunda dan bahasa Jawa. Selain itu, percobaan yang dilakukan oleh Soekarno ketika mencoba menggunakan bahasa ngoko di dalam pergerakan nasionalisme namun mengalami kegagalan.

Ia menegaskan, mudah atau tidaknya sebuah bahasa bukanlah faktor utama dalam penetapan bahasa nasional.

“Jadi bukan karena bahasa Indonesia tanda petik bahasa Melayu itu mudah dipelajari, tidak. Atau misalkan ada yang menulis bahwa orang Jawa legawa, menerima saja penggunaan bahasa Melayu demi atau atas nama persatuan. Itu hanya dongeng saja,” katanya.

Sebenarnya, lanjutnya, satu bahasa dipilih menjadi bahasa nasional di dalam sejarah kebangsaan seluruh dunia tidak ada kaitannya dengan bahasa itu mudah atau susah dipelajari.

Dipa menyebut bahasa Indonesia sebagai salah satu anugerah terbesar bagi bangsa ini. Ia menjadi wadah komunikasi lintas suku, budaya, dan wilayah di tanah air.

“Kalau saya boleh sebut ya bahasa Indonesia itu anugerah bagi bangsa Indonesia. Tidak hanya sejarah perjalanan yang panjang, tetapi juga bahasa Indonesia itu mengerucut menjadi pilihan satu-satunya. Pilihan satu-satunya yang tersedia bagi para pemuda, pengusung gerakan kebangsaan Indonesia [sehingga memudahkan mereka melaju bersama dalam satu medium bahasa],” tuturnya.

Bagi Dipa, bahasa Indonesia bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga simbol identitas kolektif dan pengikat bangsa. Sejak 1950-an hingga kini, perayaan Sumpah Pemuda selalu menjadi momentum untuk meneguhkan semangat itu. “Nah poin ketiganya ada bahasa Indonesia di situ. Jadi akhirnya tercipta semacam, ini ya, sesuatu yang inherent atau ada di dalam bawah sadar kita semua tanda petik, bahwa paketnya itu ya kebangsaan Indonesia, ketanahairan Indonesia, kebahasaan Indonesia. Jadi menjadi satu paket itu [yang menguatkan ide kebangsaan Indonesia],” kata Dipa.

Ia menambahkan, kemampuan bangsa Indonesia untuk saling memahami melalui satu bahasa merupakan berkah besar dalam kehidupan bernegara. Apakah itu baik atau tidak? Baginya, itu adalah hal baik jika dalam konteks akhirnya penduduk dengan latar belakang yang berbeda akhirnya bisa berkomunikasi dan nyaman menggunakan bahasa Indonesia.

“Misalkan saya ketemu dengan orang asing yang sama-sama warga negara Indonesia, saat belum tahu latar belakangnya, saya bisa memulai pembicaraan dengan bahasa Indonesia,” tutur Dipa mencontohkan.

Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia telah menjadi bagian dari identitas nasional sebagai sesuatu yang melekat tanpa disadari. Bahkan di antara sesama penutur bahasa daerah yang sama pun, bahasa Indonesia secara “natural” digunakan dalam konteks formal.

“Jadi itu sebagai sesuatu yang tadi saya sebut menjadi semacam indera di dalam identitas kita sebagai, ya saya orang Jawa, tapi saya juga bagian dari bangsa Indonesia. Dan ketika kebangsaan yang tadi saya sebut, kebangsaan, ketanahairan Indonesia, dan kebahasaan Indonesia itu menjadi satu paket, ya itu sudah otomatis,” sebut Dipa.

Ia menutup refleksinya dengan pandangan bahwa meski bahasa Indonesia berakar dari bahasa Melayu Riau–Lingga, namun perubahan nama dan konteks kebangsaan telah menjadikannya milik bersama. Ditambah lagi dengan adanya politik bahasa nasional tahun 1975/1976, yang kemudian membuat pengembangan bahasa Indonesia menyerap dari bahasa-bahasa daerah yang ada di seluruh Nusantara sekaligus meletakkan bahasa Melayu sejajar sebagai satu dari sekian bahasa daerah di Nusantara, bahasa Indonesia menjadi satu bahasa “baru” milik bangsa Indonesia.

“Itu juga penting menurut saya di dalam melihat bahasa Indonesia, karena kemudian ada bahasa Indonesia, di bawahnya ada bahasa-bahasa daerah, salah satunya bahasa Melayu. Jadi, “bahasa Indonesia itu unik,” tutupnya. (Maysali/Humas)

Editor: Choiril Amirah Farida

  • Penulis: Dwi Kurniadi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Majelis Diklitbang, MPKSDI, dan LazisMu Sukses Adakan Closing Agenda MSPP Batch VI

    Majelis Diklitbang, MPKSDI, dan LazisMu Sukses Adakan Closing Agenda MSPP Batch VI

    • calendar_month Rabu, 6 Mar 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 218
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, YOGYAKARTA — Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang), Lembaga Zakat,Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazimu), dan Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah sukses selenggarakan Closing Agenda Muhammadiyah Scholarship Preparation Program (MSPP) Batch VI pada Ahad—Selasa, 03—05/03/2024 yang dilangsungkan di Balai Latihan Pendidikan Teknik (BLPT) Yogyakarta. Perlu diketahui bahwa program […]

  • SMK Muhammadiyah Tanjung Redeb Perkuat Pendidikan Vokasi dan Siapkan Asrama Berkapasitas 100 Siswa

    SMK Muhammadiyah Tanjung Redeb Perkuat Pendidikan Vokasi dan Siapkan Asrama Berkapasitas 100 Siswa

    • calendar_month Minggu, 2 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Kabarmuh
    • visibility 76
    • 0Komentar

    Tanjung Redeb – SMK Muhammadiyah Tanjung Redeb terus memperkuat perannya sebagai lembaga pendidikan vokasi yang unggul dengan memadukan kompetensi kejuruan, pembinaan karakter Islami, dan penguatan kaderisasi Muhammadiyah. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pengembangan program pendidikan yang selaras dengan kebutuhan dunia industri sekaligus menjawab tingginya minat masyarakat terhadap sekolah ini. Kepala SMK Muhammadiyah Tanjung Redeb, Darul Ihsan, […]

  • Dua lemari buku kayu besar dengan pintu kaca berisi jajaran buku sekolah. Di atas lemari terdapat mesin tik tua, dan rak-rak buku ditandai dengan label kategori seperti Fisika dan Cerpen

    Tingkatkan Literasi, Mahasiswa KKN-DIK FKIP UMS Revitalisasi Perpustakaan MTs Muhammadiyah 3 Kerjo

    • calendar_month Kamis, 26 Mar 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 54
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Perpustakaan sekolah menjadi salah satu sarana strategis dalam menumbuhkan kebiasaan membaca dan memperluas wawasan siswa, mahasiswa KKN-Dik FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang ditugaskan di MTs Muhammadiyah 3 Kerjo Karanganyar, mengadakan kegiatan revitalisasi pada perpustakaan di sekolah tersebut. Kegiatan ini diikuti oleh beberapa peserta didik sebagai upaya dorongan budaya literasi dan minat […]

  • Melalui Kampanye Hirup Bersih, Mahasiswa Ilkom UMS Dorong Edukasi Udara Bersih dan Pencegahan TBC

    Melalui Kampanye Hirup Bersih, Mahasiswa Ilkom UMS Dorong Edukasi Udara Bersih dan Pencegahan TBC

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 72
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Tim Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan sebuah kampanye edukatif tentang bahaya asap rokok terhadap peningkatan risiko penularan TBC, terutama di kawasan permukiman padat. Kampanye tim Hirup Bersih melakukan kolaborasi bersama Kelurahan Panularan dan Puskesmas Penumping dalam peresmian Festival Srawung, Minggu (7/12). Tata Dewi, selaku anggota tim menjelaskan, kampanye mendapatkan […]

  • Kepala Desa Kalisumur Berikan Pesan di Hadapan Ribuan Jamaah Muhammadiyah-Aisyiyah Bumiayu Brebes yang Padati Pengajian Jum’at Kliwon

    Kepala Desa Kalisumur Berikan Pesan di Hadapan Ribuan Jamaah Muhammadiyah-Aisyiyah Bumiayu Brebes yang Padati Pengajian Jum’at Kliwon

    • calendar_month Minggu, 25 Mei 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 50
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Brebes – Suasana penuh semangat dan hikmah menyelimuti Pengajian Akbar Jum’at Kliwon yang digelar oleh Majelis Tabligh dan Pemberdayaan Masjid (MTPM) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bumiayu pada Jumat (23/5/2025). Bertempat di Jalan Raya Desa Kalisumur, Kecamatan Bumiayu, Brebes, kegiatan rutin ini sukses menyedot perhatian lebih dari 2.500 jamaah yang datang dari berbagai penjuru wilayah […]

  • Konferensi ICETIA-RAPI 2025 Dorong Solusi Teknik Berkelanjutan untuk Infrastruktur, Energi, dan Mobilitas Perkotaan

    Konferensi ICETIA-RAPI 2025 Dorong Solusi Teknik Berkelanjutan untuk Infrastruktur, Energi, dan Mobilitas Perkotaan

    • calendar_month Kamis, 4 Des 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 54
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan International Conference on Engineering, Technology, and Industrial Application ke-12 (ICETIA) dan Konferensi Rekayasa Aplikasi Perancangan dan Industri ke-24 (RAPI), yang diselenggarakan secara hybrid di Gedung Auditorium Mohammad Djazman, Kamis (4/12). Konferensi internasional ini mengusung tema Engineering The Future: Sustainable Infrastructure, Energy, and Mobility for […]

expand_less