
KABARMUH.ID, Yogyakarta – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Tengah dan IMM DIY mengadakan pertemuan dengan Majelis Pembina Kesehatan Umum Pimpinan Pusat (MPKU PP) Muhammadiyah. Pertemuan ini membahas integrasi program Medical First Respon (MFR) dan Psychological First Aid (PFA) dalam lingkup agenda Holistik IMM Care.
Kabid Kesehatan DPD IMM Jateng, Fu’ad Minan Zuhri menyebut inisiatif ini sebagai langkah mengkolaborasikan kesehatan fisik dan mental. “Program MFR diinisiasi untuk menjawab kegelisahan akibat minimnya wadah dan fasilitas resmi bagi kader mahasiswa dalam aktivitas kesehatan dan kebencanaan di Jawa Tengah,” ujarnya, Jumat, (24/4).
Senada dengan Fu’ad, Sekbid Kesehatan DPD IMM Jateng, Ulin Nuha menyoroti tingginya kebutuhan dukungan psikologis di lingkungan pendidikan. ”Kampus sangat membutuhkan ruang aman. Pelatihan PFA menjadi fondasi bagi kader IMM agar mampu memberikan ruang aman tanpa penghakiman kepada teman sebayanya,” tegas Ulin.
Terkait arah gerak program, Kabid Kesehatan IMM DIY, Afghan, menjelaskan bahwa MFR ditargetkan untuk menindaklanjuti program Ambulanmu di Yogyakarta dengan tenaga terlatih dari kader. “Sementara untuk PFA, kami menargetkan kader menjadi peer counselor lintas kampus. Pertemuan ini adalah upaya membuat payung resmi agar peran IMM makin konkret,” jelasnya.
Inisiatif yang berangkat dari akar rumput ini disambut positif oleh jajaran MPKU PP Muhammadiyah. Sekretaris MPKU PP Muhammadiyah, dr. Ekorini Listiowati, MMR menyarankan IMM untuk mereplikasi model program kesehatan jiwa remaja yang juga digarap MPKU bersama Lazismu di DIY.
“Program ini dinamai Bestiemu, sasaran awalnya adalah guru BK dan olahraga melalui pendekatan informal, lalu menyusun modul kegiatan seperti manajemen stres. Selain itu terdapat program screening untuk acceptance pasien di rumah sakit. Namun dalam lingkup komunitas, program terkait screening kesehatan jiwa di komunitas memang masih menjadi PR kita bersama,” papar dr. Ekorini.

Perwakilan MPKU PP Muhammadiyah lainnya, Agus Budiantoro, S.I.P., S.AP., mengingatkan agar program ini lebih banyak mengedepankan simulasi dan praktik lapangan dibanding sekadar teori. “Tingkatkan skill komunikasi empatik kader, dan yang terpenting adalah pelembagaan agar terbangun support system yang bersinergi,” pesannya.
Apresiasi juga datang dari apt. Siti Salimah, S.Si., MPH yang menilai program ini sangat relevan dengan tantangan kesehatan mental Generasi Z. “Semangat dari grassroots ini sangat bagus untuk mencegah risiko terburuk seperti adanya suicide di kalangan anak muda. Program ini harus dikemas agar bisa berkelanjutan,” tuturnya.
Sebagai tindak lanjut, pertemuan ditutup dengan penyerahan policy brief dari IMM kepada MPKU PP Muhammadiyah. Dokumen ini diharapkan menjadi pijakan kebijakan untuk mengeksekusi kolaborasi konkret antara IMM dan MPKU ke depannya.
Editor: Unaise Albunayya



