Launching Magazine “Polyphonia” & Studium Generale Dirasah Nisaiyah PK IMM FAI UMY

KABARMUH.ID, Kegiatan Studium Generale yang dilaksanakan dengan Launching Magazine Polyphonia Dirasah Nisaiyah diselenggarakan oleh Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Jumat, 24 April 2026. Acara ini berlangsung di Ruang Sidang SC Lt. 2 mulai pukul 13.15 hingga 15.55 WIB, dengan mengusung tema “Membangun Kesadaran Kritis dan Kepekaan Terhadap Isu Perempuan.”
Kegiatan ini menghadirkan Dr. Dyah Pikanthi Diwanti, S.E., M.M. sebagai pemateri, dengan moderator Pretty Aisyah serta dipandu oleh Master of Ceremony (MC) Inayah Suci Utami. Acara dibuka secara formal dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Muhammadiyah, dan Mars IMM yang diikuti dengan khidmat oleh seluruh peserta.
Memasuki sesi sambutan, Immawati Seftin Nafila selaku Ketua Panitia menyampaikan rasa terima kasih atas partisipasi seluruh pihak serta harapan agar kegiatan ini mampu menjadi ruang refleksi kritis bagi kader IMM. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Immawan Agung Rezki selaku Ketua Umum PK IMM FAI UMY periode 2025/2026, yang menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam merespons isu-isu perempuan secara bijak. Selanjutnya, Immawan Shidiq Setyo Adhi Nugroho sebagai Ketua Umum PC IMM AR Fachrudin turut memberikan penguatan terkait peran kader IMM dalam membangun wacana keislaman yang progresif. Acara kemudian secara resmi dibuka oleh Sobat M. Johari, S.E.I., M.Sc., Ph.D., selaku Wakil Dekan I Bidang Kemahasiswaan dan Akademik.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan prosesi launching Magazine “Polyphonia.” Peluncuran ini menjadi momentum penting sebagai bentuk karya intelektual kader IMM dalam menyuarakan gagasan dan pemikiran kritis. Penyerahan majalah dilakukan secara simbolis oleh Ketua Umum PK IMM FAI UMY kepada perwakilan Fakultas serta perwakilan PC IMM AR Fachrudin, yang menandai resmi diperkenalkannya majalah tersebut kepada publik.
Memasuki inti acara, pemaparan materi berlangsung dengan metode interaktif dua arah. Pemateri tidak hanya menyampaikan materi secara satu arah, tetapi juga berkeliling di antara peserta untuk membangun suasana diskusi yang inklusif dan partisipatif. Hal ini membuat peserta lebih aktif dalam menyampaikan pandangan serta pengalaman mereka.
Dalam pemaparannya, Dr. Dyah Pikanthi menyoroti berbagai isu strategis terkait perempuan. Ia menjelaskan bahwa perempuan merupakan makhluk yang unik dan memiliki potensi besar sebagai sumber inspirasi. Namun, fenomena “independent woman” di era modern seringkali disalahpahami dan dikaitkan dengan meningkatnya angka perceraian, sehingga memunculkan stereotip negatif terhadap perempuan. Menurutnya, hal ini perlu dilihat secara lebih bijak dengan mempertimbangkan perubahan sosial dan perkembangan pendidikan.
Lebih lanjut, pemateri mengangkat perspektif kepemimpinan perempuan dalam Islam dengan merujuk pada kisah Ratu Balqis. Kisah tersebut menunjukkan bahwa perempuan memiliki kemampuan memimpin dengan komunikasi yang baik dan kebijaksanaan. Oleh karena itu, diperlukan adanya dukungan antar perempuan untuk memperkuat representasi perempuan di ruang publik.
Dalam konteks kesetaraan gender, dijelaskan bahwa Islam memandang laki-laki dan perempuan sebagai makhluk yang setara, dengan perbedaan utama terletak pada tingkat ketakwaannya. Pendidikan menjadi kunci utama dalam meningkatkan kesejahteraan, sehingga perempuan didorong untuk terus mengembangkan keterampilan tanpa terkungkung oleh stigma pekerjaan tertentu. Pemateri juga menekankan bahwa ketahanan keluarga merupakan fondasi bagi ketahanan negara. Hubungan suami-istri yang dibangun atas dasar saling menghormati, komunikasi, dan keadilan akan menciptakan keluarga yang harmonis (sakinah, mawaddah, warahmah), yang pada akhirnya berkontribusi terhadap stabilitas sosial yang lebih luas.
Sesi diskusi berlangsung dengan antusias. Beberapa pertanyaan diajukan oleh peserta dari berbagai tingkatan kader. Pertanyaan pertama membahas tentang bagaimana menyikapi pandangan masyarakat desa yang cenderung lebih mendorong perempuan untuk bekerja daripada melanjutkan pendidikan. Pemateri menjawab bahwa kader IMM dapat berperan sebagai mediator dengan memberikan informasi terkait beasiswa, menyediakan ruang belajar, serta memanfaatkan jaringan sosial untuk melindungi perempuan dari ketidakadilan di dunia kerja.
Pertanyaan berikutnya menyoroti bagaimana menyeimbangkan karakter “independent woman” agar tidak berdampak negatif dalam kehidupan pernikahan. Dalam jawabannya, pemateri menekankan pentingnya proses ta’aruf sebagai sarana saling memahami sebelum menikah, serta perlunya sikap saling menghormati antara suami dan istri dalam menjalankan peran masing-masing.
Pertanyaan terakhir membahas stereotip bahwa perempuan lebih mengandalkan perasaan sementara laki-laki lebih dominan dalam logika. Pemateri menegaskan bahwa tidak ada bukti empiris yang mendukung anggapan tersebut, karena baik laki-laki maupun perempuan memiliki kemampuan menggunakan logika dan perasaan secara seimbang sesuai konteks.
Sebagai penutup, pemateri menyampaikan closing statement yang menekankan pentingnya kesinambungan dalam proses belajar, berbagi pengalaman, serta menjaga interaksi yang intensif antar kader agar dapat terus berkembang bersama. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat kepada pemateri sebagai bentuk apresiasi, yang diserahkan oleh Ketua Bidang Immawati Annisa Nayah. Kegiatan ditutup dengan sesi dokumentasi berupa foto bersama dan secara resmi ditutup oleh MC pada pukul 15.55 WIB.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, diharapkan seluruh peserta mampu meningkatkan kesadaran kritis dan kepekaan terhadap isu-isu perempuan, serta mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam gerakan dakwah IMM ke depan.
Editor: Hammam Alghazy



