- account_circle Choiril Amirah Farida
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 16
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tabligh Akbar Hari Jadi ke-68 UMS, Das’ad Latif Ajak Jaga Akidah dan Amalkan Nilai Islam dalam Kehidupan
SURAKARTA – Penguatan akidah, pendidikan agama dalam keluarga, dan pengamalan nilai-nilai Islam menjadi pesan utama Ustadz Dr. H. Das’ad Latif, M.Si. dalam Tabligh Akbar Hari Jadi ke-68 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Di hadapan ribuan peserta yang memadati Gedung Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, Minggu (18/10/2026), ia mengajak umat Islam untuk menjalankan ajaran agama secara kaffah sekaligus menjaga generasi muda dari berbagai tantangan zaman.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-68 UMS yang mengusung semangat bersinergi, berdampak, dan berkelanjutan. Selain sebagai ruang penguatan spiritual, Tabligh Akbar juga menjadi momentum mempererat silaturahmi antara warga Muhammadiyah, keluarga pelajar, dan masyarakat dari berbagai daerah.
Dalam tausiyahnya, Das’ad Latif menekankan pentingnya menjalankan Islam secara menyeluruh, bukan sekedar mengikuti tren atau menjadikan agama sebagai simbol dalam kepentingan tertentu. Menurutnya, keberislaman perlu diwujudkan melalui ketaatan, penjagaan akidah, serta perilaku sehari-hari yang mencerminkan nilai-nilai agama.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan menjaga akidah generasi muda semakin beragam, terutama di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi digital.
“Perlawanan saat ini bukan dengan senjata, melainkan dengan menjaga akidah generasi dari serangan internet dan HP,” ungkapnya.
Oleh karena itu, ia mengajak para orang tua untuk lebih memperhatikan pendidikan agama anak, termasuk dalam memilih lingkungan pendidikan yang tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk akhlak dan kepribadian Islami.
Menurut Das’ad Latif, pendidikan agama menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan prinsip dan keyakinan. Ia menilai perguruan tinggi Islam, termasuk UMS, memiliki peran strategis dalam membantu keluarga menjaga akidah sekaligus mengembangkan kapasitas intelektual generasi penerus.
Selain menjaga akidah, ia menguraikan ciri-ciri pengikut Nabi Muhammad SAW sebagaimana tercermin dalam Surat Al-Fath, yakni memiliki keteguhan dalam prinsip agama, kasih sayang terhadap sesama, serta kesungguhan dalam beribadah.
Karakter ruhamau bainahum, atau kasih sayang di antara sesama, menurutnya harus diwujudkan melalui kepedulian sosial. Salah satunya dengan membiasakan sedekah dan membantu masyarakat yang membutuhkan.
“Jadilah orang yang pandai menitipkan harta. Kalau ada harta, gunakan untuk sedekah dan membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan,” pesannya.
Ia mengajak peserta untuk memandang harta bukan semata-mata sebagai sarana memenuhi kebutuhan pribadi atau menunjukkan status sosial, melainkan juga sebagai amanah yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Kepedulian tersebut dapat diwujudkan melalui bantuan bagi masyarakat terdampak bencana maupun kelompok yang membutuhkan dukungan.
Lebih lanjut, Das’ad Latif menjelaskan bahwa karakter pengikut Nabi Muhammad SAW juga tercermin dalam kesungguhan menjalankan ibadah dan menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kebersihan diri, lingkungan, dan pekerjaan merupakan bagian dari upaya menghadirkan nilai-nilai ibadah dalam aktivitas sehari-hari.
Ia pun mengingatkan pentingnya mendidik anak dengan agama, menjaga keharmonisan keluarga, dan tidak pernah berhenti berdoa kepada Allah SWT.
Dalam kesempatan tersebut, Das’ad Latif turut menyampaikan apresiasinya terhadap lingkungan kampus UMS. Ia mengaku terkesan dengan infrastruktur, kebersihan, dan penghijauan di kawasan kampus, termasuk fasilitas Edutorium KH Ahmad Dahlan yang digunakan untuk kegiatan tersebut.
Menurutnya, lingkungan pendidikan yang baik dapat mendukung proses pembelajaran sekaligus memberikan kenyamanan bagi sivitas akademika dan masyarakat yang berkunjung.
Saat dimintai pandangan mengenai karakter kader Muhammadiyah, ia menekankan pentingnya semangat pembaruan atau inovasi. Menurutnya, gerakan pembaruan harus terus berjalan agar organisasi dan institusi pendidikan mampu menjawab tantangan serta kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
“Berkelanjutan itu pembaruan. Dia tidak akan puas dengan apa yang dimiliki sekarang, tetapi selalu mencari hal-hal yang baru,” jelasnya.
Ia membangkitkan semangat tersebut dengan pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi, khususnya penelitian dan penelitian, yang menjadi salah satu jalan untuk menghasilkan inovasi dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Pesan itu selaras dengan semangat Hari Jadi ke-68 UMS yang menekankan sinergi, dampak, dan keinginan. Bagi perguruan tinggi, pembaruan tidak hanya berkaitan dengan pengembangan sarana dan prasarana, tetapi juga peningkatan kualitas ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kontribusi sosial.
Menutup pesannya kepada generasi muda, Das’ad Latif mengingatkan bahwa proses tuntutan ilmu tidak selalu berjalan mudah. Tekanan psikologis, kesulitan menyelesaikan tugas akademik, hingga tantangan ekonomi merupakan bagian dari perjalanan yang perlu dihadapi dengan ketekunan.
Ia mengibaratkan kehidupan seperti roda yang harus bergerak naik dan turun. rasa sakit yang dialami seseorang dalam proses belajar, menurutnya, tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berusaha.
“Jangan pernah menyerah dalam menuntut ilmu. Kemiskinan, kampung, tidak boleh menjadi tantangan. Dia bisa menjadi motivasi untuk bergerak,” pesannya.
Ia juga mengingatkan bahwa ilmu akan mengangkat derajat seseorang jika dipelajari dan diamalkan dengan baik. Oleh karena itu, pelajar dan generasi muda terdorong untuk terus belajar, menjaga niat, serta menjadikan keterbatasan sebagai motivasi untuk berkembang. (Fika/Humas)
- Penulis: Choiril Amirah Farida