Mahasiswa HW UMS Bersama Warga Kedunglengkong Perkuat Kesiapsiagaan Bencana dan Pengelolaan Sampah
- account_circle Kabar Muhammadiyah
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 21
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID, BOYOLALI – Mahasiswa HW Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Sistem Mitigasi Desa Kedunglengkong: Penguatan Tim Tanggap Bencana dan Standardisasi Pengelolaan Limbah Sampah” di Desa Kedunglengkong, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi bersama masyarakat mengenai kesiapsiagaan bencana dan pengelolaan sampah di lingkungan desa.
Kegiatan tersebut melibatkan warga, Tim Tanggap Bencana Desa Kedunglengkong, serta pengelola sampah setempat. Dua materi utama disampaikan oleh pemateri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boyolali dan dosen Kesehatan Masyarakat UMS yang berpengalaman di bidang lingkungan.
Pada sesi pertama, pembahasan berfokus pada penguatan peran Tim Tanggap Bencana dan kesiapan desa dalam menghadapi potensi bencana. Pemateri menekankan pentingnya keberadaan tim siaga yang didukung pembagian tugas, standar operasional prosedur (SOP), informasi kebencanaan, serta peralatan yang memadai untuk penanganan di lapangan.

Diskusi juga membahas potensi kebakaran dan tanah longsor di Desa Kedunglengkong. Dalam sesi tanya jawab, masyarakat menyampaikan perlunya dukungan peralatan untuk menangani keadaan darurat, termasuk pohon tumbang yang dapat menghambat akses jalan. Selain itu, muncul usulan agar kebutuhan peralatan dan anggaran penanggulangan bencana dibahas lebih lanjut bersama pemerintah desa dan pemerintah kabupaten.
Berbagai masukan tersebut menjadi bahan untuk merangkum kebutuhan dan kendala dalam upaya kesiapsiagaan bencana. Pembahasan diarahkan pada pentingnya perencanaan kebutuhan yang jelas, pembagian tanggung jawab, serta koordinasi dengan pihak terkait agar usulan masyarakat dapat ditindaklanjuti.
Pada sesi kedua, kegiatan dilanjutkan dengan materi standardisasi pengelolaan sampah rumah tangga. Pemateri dari UMS mengajak peserta membahas pentingnya memulai pengelolaan sampah dari rumah masing-masing. Materi mencakup pemilahan sampah organik, anorganik, dan bahan berbahaya dan beracun (B3), serta pemanfaatan sampah organik melalui pengolahan menjadi kompos atau eco-enzyme.
Pembahasan juga menyinggung program Boyolali Hompimpa sebagai salah satu contoh upaya pengelolaan sampah dari sumbernya. Melalui sesi ini, peserta diajak berdiskusi mengenai kebiasaan masyarakat dalam menangani sampah serta pentingnya keterlibatan warga dalam pengelolaan sampah di lingkungan desa.
Rangkaian kegiatan dilengkapi dengan diskusi dan evaluasi bersama warga, Tim Tanggap Bencana, serta pengelola sampah. Berbagai masukan yang disampaikan menjadi bahan untuk merangkum kebutuhan masyarakat, baik dalam kesiapsiagaan bencana maupun pengelolaan sampah rumah tangga.
Sebagai tindak lanjut, mahasiswa HW UMS merencanakan audiensi awal dengan Pemerintah Desa Kedunglengkong dan Pemerintah Kabupaten Boyolali untuk membahas usulan kebutuhan anggaran. Audiensi tersebut diarahkan untuk menyampaikan hasil diskusi masyarakat, khususnya terkait kebutuhan peralatan penanggulangan bencana dan dukungan untuk menunjang kesiapsiagaan desa. Langkah ini diharapkan menjadi awal komunikasi antara masyarakat, mahasiswa HW UMS, dan pemerintah mengenai berbagai kebutuhan yang telah dibahas.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa HW UMS tidak hanya menyelenggarakan pengabdian sebagai sarana penyampaian materi, tetapi juga membuka ruang untuk mendengarkan masukan warga dan membahas langkah tindak lanjut sesuai dengan kebutuhan Desa Kedunglengkong. Hasil diskusi tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam upaya memperkuat mitigasi bencana dan pengelolaan sampah di tingkat desa.
Penulis : Rasya Raesita
Editor : Irsyad Hakim Affandi
- Penulis: Kabar Muhammadiyah