Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Psikolog UMS Soroti Meningkatnya Kasus Perundungan: Lingkungan Pendidikan dan Keluarga Belum Jadi Tempat Aman

Psikolog UMS Soroti Meningkatnya Kasus Perundungan: Lingkungan Pendidikan dan Keluarga Belum Jadi Tempat Aman

  • account_circle Dwi Kurniadi
  • calendar_month Senin, 3 Nov 2025
  • visibility 61
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KABARMUH.ID, SURAKARTA – Meningkatnya kasus perundungan (bullying) di Indonesia menjadi perhatian serius para akademisi dan praktisi psikologi, termasuk dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Dosen Fakultas Psikologi UMS, Prilya Shanty Andrianie, S.Psi., M.Psi., Psikolog., menilai fenomena ini harus disikapi secara menyeluruh, terutama karena telah menimbulkan dampak psikologis yang berat hingga berujung pada kasus bunuh diri di kalangan pelajar dan mahasiswa.

Prilya menyoroti beberapa kasus yang baru-baru ini mencuat di media, seperti tragedi yang menimpa almarhum Timothy dan mahasiswa di Solo. Menurutnya, perundungan bukan satu-satunya faktor penyebab tindakan ekstrim seperti bunuh diri, namun bisa menjadi pemicu gangguan mental yang sudah ada sebelumnya.

“Kasus di Solo itu setelah saya telusuri, ternyata memang mahasiswa tersebut ada indikasi bipolar, yakni gangguan emosi dan mood. Jadi bisa jadi bukan murni perundungan, tetapi ada gangguan psikologis yang menjadi pemicu,” jelasnya, Sabtu (1/11).

Dosen Fakultas Psikologi UMS, Prilya Shanty Andrianie, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Federasi Serikat Guru Indonesia menunjukkan bahwa tahun 2023 terdapat 3.800 kasus bullying, dan pada 2024 jumlahnya meningkat hampir 100 kasus. Jenis bullying yang paling dominan adalah fisik (sekitar 55–56%), disusul verbal (29,3%), dan psikologis (15,2%).

“Bullying psikologis sering kali tidak disadari. Misalnya, ketika seseorang diabaikan, dikucilkan, atau tidak dilibatkan dalam pertemanan. Itu termasuk bentuk perundungan,” ujar Prilya.

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa ranah pendidikan dan keluarga kini menjadi dua lingkungan utama tempat perundungan terjadi. “Padahal seharusnya dua tempat itu menjadi ruang paling aman bagi anak dan remaja,” imbuhnya.

Menurut Prilya, fenomena perundungan di perguruan tinggi sering kali merupakan akumulasi dari pengalaman negatif di jenjang pendidikan sebelumnya.

“Bisa jadi pelaku atau korban pernah mengalami bullying sejak SD, SMP, atau SMA, dan tidak terselesaikan dengan baik. Akibatnya, saat kuliah, dampaknya muncul kembali dalam bentuk gangguan mental atau perilaku yang berulang,” terangnya.

Ia juga menyoroti adanya budaya senioritas dan balas dendam, yang memicu praktik perpeloncoan saat masa orientasi mahasiswa baru. “Budaya senior-junior ini harus diubah. Sistem orientasi seharusnya menumbuhkan rasa kekeluargaan, misalnya dengan konsep kakak asuh–adik asuh. Jadi mahasiswa baru merasa diterima dan aman,” sarannya.

Prilya menjelaskan, terdapat tiga pihak yang berperan dalam siklus bullying: pelaku, korban, dan bystander (penonton). Upaya pencegahan dapat dilakukan jika semua pihak memiliki sikap empati dan asertivitas.

“Empati membuat seseorang enggan membully karena bisa merasakan posisi korban. Sementara asertivitas berarti berani menyampaikan sesuatu secara positif, seperti menegur atau melapor saat melihat tindakan bullying,” jelasnya.

Selain itu, lingkungan sekitar perlu peka terhadap tanda-tanda korban bullying, seperti menarik diri, menjadi pendiam, mudah emosional, atau enggan masuk sekolah atau kuliah.

Dalam menangani korban, Prilya menekankan pentingnya PFA (Psychological First Aid) atau pertolongan pertama psikologis. Langkah ini meliputi kepekaan terhadap perubahan perilaku, kesediaan mendengarkan tanpa menghakimi, serta membantu korban mendapatkan rujukan profesional bila diperlukan.

“Kadang seseorang tidak butuh solusi langsung, tapi hanya ingin didengarkan. Kalau kita tidak mampu menanganinya, bantu dia untuk bertemu dengan psikolog atau psikiater,” tuturnya.

Sebagai langkah preventif di perguruan tinggi, Prilya mendorong adanya satuan tugas (Satgas) anti-bullying yang aktif melakukan sosialisasi dan kampanye tentang lingkungan kampus yang aman dan positif.

“Kampus perlu memiliki sistem yang jelas untuk pelaporan, peer counseling, dan sosialisasi keberanian bersikap. Dengan begitu, UMS maupun perguruan tinggi lain bisa menjadi rumah yang benar-benar aman bagi mahasiswa,” pungkasnya.

Kontributor: Fika

Editor: Alfarabi

  • Penulis: Dwi Kurniadi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • UMS dan SIT Selandia Baru Jajaki Kerja Sama Strategis, Siapkan Pilot Project

    UMS dan SIT Selandia Baru Jajaki Kerja Sama Strategis, Siapkan Pilot Project

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 99
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menerima kunjungan balik dari Southern Institute of Technology (SIT) Selandia Baru. UMS sendiri telah melakukan kunjungan ke SIT pada Mei lalu. Kegiatan kunjungan ini berlangsung hangat dan terbuka, Rabu (22/7/2026) di Gedung Induk Siti Walidah. Kedua belah pihak saling berdiskusi dan membuka peluang kerja sama yang bisa […]

  • LKSA Panti Asuhan Yatim Putri ‘Aisyiyah Kukuhkan Pengurus dan Susun Program Kerja

    LKSA Panti Asuhan Yatim Putri ‘Aisyiyah Kukuhkan Pengurus dan Susun Program Kerja

    • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 149
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Grogol — Panti Asuhan Yatim Putri ‘Aisyiyah menggelar kegiatan Pengukuhan dan Rapat Kerja (Raker) Pengurus sebagai bagian dari upaya memperkuat kepengurusan, meningkatkan kualitas pelayanan, serta menyusun program kerja Panti Asuhan untuk periode 2026 – 2031. Kegiatan yang dilaksanakan pada Ahad, 13 September 2026 di Aula LKSA Panti Asuhan Yatim Putri ‘Aisyiyah Grogol  tersebut dihadiri […]

  • Tradisi Penyambutan Tanah Karang Panas Biak

    Tradisi Penyambutan Tanah Karang Panas Biak

    • calendar_month Minggu, 11 Agt 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 251
    • 0Komentar

    Oleh : Naufal Febrian, Mahardika Bakti Nusantara Mengawali perjalanan panjang ini komunitas yang bernama Mahardika Bakti Nusantara generasi ke-9 memutuskan untuk melangkah menuju tanah karang panas demi melaksanakan pengabdiannya. Pengabdian ini dilakukan sesuai dengan tujuan Mahardika Bakti Nusantara dibentuk yaitu selalu menjayakan dan muliakan Nusantara, mengenalkan kepada masyarakat yang berada diluar tanah timur, adat-adat yang […]

  • FORDIGIMU, Jawaban Muhammadiyah atas Kebutuhan Mendesak Dakwah Digital

    FORDIGIMU, Jawaban Muhammadiyah atas Kebutuhan Mendesak Dakwah Digital

    • calendar_month Selasa, 22 Jul 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 95
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Jakarta — Perubahan lanskap dakwah di era digital menuntut kehadiran aktor-aktor baru yang tak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga piawai dalam menjangkau audiens melalui platform digital. Dalam konteks inilah, Forum Dai Digital Muhammadiyah (FORDIGIMU) lahir sebagai jawaban atas urgensi dakwah yang adaptif, terstruktur, dan berkelanjutan di era teknologi informasi. Transformasi digital telah menggeser […]

  • Perwakilan Mahasiswa Internasional UMS Ikuti Festival Handai Indonesia 2025 di Jakarta

    Perwakilan Mahasiswa Internasional UMS Ikuti Festival Handai Indonesia 2025 di Jakarta

    • calendar_month Kamis, 13 Nov 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 54
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Perwakilan mahasiswa internasional dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) turut berpartisipasi dalam Festival Handai Indonesia (FHI) 2025, yang diselenggarakan di Hotel Le Meridien, Jakarta, pada tanggal 25–31 Oktober 2025. Kegiatan ini diikuti oleh peserta apresiasi terpilih yang berasal dari 23 negara, yaitu Timor Leste, Italia, Rusia, Filipina, Turki, Pakistan, Amerika Serikat, Thailand, Korea […]

  • Jakarta sampai Papua! PSBPS UMS Mengawali Roadshow Pelatihan Nasional “Pancasila sebagai Laku”

    Jakarta sampai Papua! PSBPS UMS Mengawali Roadshow Pelatihan Nasional “Pancasila sebagai Laku”

    • calendar_month Kamis, 25 Apr 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 290
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Jakarta – Pancasila sebagai dasar negara dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan nasional dihadapkan pada tantangan serius karena kurangnya upaya yang sungguh-sungguh dalam menyebarluaskan, menginternalisasikan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Meskipun Pancasila diakui sebagai falsafah dan pondasi keindonesiaan, penerapannya belum menjadi kebiasaan yang mewujud dalam kehidupan sehari-hari. Sikap dan […]

expand_less