
KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Kajian Tafsir Online dengan menghadirkan Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th. Pada kesempatan ini, ia mengupas secara mendalam rangkaian ayat 30–39 Surah Al-Baqarah, yang menjadi dasar teologis penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Mengawali penjelasan pada ayat 30, Rha’in menggambarkan sikap para malaikat ketika Allah memberitakan rencana penciptaan manusia. Para malaikat mempertanyakan potensi manusia yang dapat menimbulkan kerusakan dan menumpahkan darah.
“Para malaikat bukan menolak, tapi mereka heran sekaligus khawatir terhadap makhluk yang memiliki kecenderungan merusak. Namun Allah menjawab jelas bahwa Dia mengetahui apa yang tidak diketahui malaikat,” paparnya Minggu, (16/11).
Ia juga menekankan bahwa Allah memberitahu malaikat bukan dalam rangka meminta persetujuan.

“Ini penting. Allah tidak meminta izin. Sejak awal Adam sudah ditakdirkan menjadi penghuni bumi, bukan sekadar makhluk surga,” tegasnya.
Karena itu, manusia sejak penciptaannya memang diarahkan untuk menjadi khalifah, makhluk yang memakmurkan, menjaga, dan bertanggung jawab atas bumi.
Pada ayat 31–33, Rha’in memaparkan peran ilmu sebagai fondasi utama kekhalifahan. Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruh benda sebagai simbol anugerah intelektual.
“Pondasi segala hal adalah ilmu. Manusia diberi daya cipta, daya kreasi, akal, dan kemampuan memahami sesuatu. Inilah yang menjadikan manusia layak memikul amanah besar,” ungkapnya.
Karena itu, menurutnya, hubungan khalifah dan ilmu tidak dapat dipisahkan: semakin tinggi ilmu, semakin besar tanggung jawab yang harus dipikul manusia.
Ayat 34 menjadi penanda munculnya kesombongan pertama dalam sejarah, yaitu penolakan Iblis untuk sujud kepada Adam.
“Iblis enggan karena kesombongan. Ini bukan sekadar kisah, tetapi peringatan bahwa kekhalifahan bukan simbol kemuliaan yang membuat manusia boleh menyombongkan diri. Khalifah justru pelayan yang memberi kebermanfaatan,” tutur Rha’in.
Berlanjut pada ayat 35–36, ia menguraikan kehidupan Adam dan Hawa di surga yang penuh kelapangan, namun Allah memberikan satu larangan untuk tidak mendekati pohon khuldi. Godaan setan membuat keduanya tergelincir dan turun ke bumi sebagai bagian dari skenario ilahi.

Rha’in menambahkan, “Ayat ini juga menegaskan bahwa kehidupan manusia itu ada di bumi. Manusia tidak diciptakan untuk planet lain.”
Ayat 37 menjadi titik balik ketika Allah mengajarkan Adam cara bertaubat dengan kalimat-kalimat khusus. Rha’in membacakan doa tersebut secara lengkap:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Ia menegaskan bahwa doa itu adalah pengakuan manusia bahwa dirinya dapat berbuat salah namun tetap memiliki jalan pulang.
“Inilah bentuk kasih sayang Allah. Kesalahan Adam bukan akhir, karena Allah sendiri mengajarkan cara untuk kembali,” ujarnya.
Pada ayat 38, Rha’in menjelaskan bahwa siapa pun yang mengikuti petunjuk Allah akan terbebas dari rasa takut maupun kesedihan.
“Allah tidak membiarkan manusia berjalan tanpa arah. Petunjuk itu diberikan agar kita tetap teguh dan tidak tersesat,” jelasnya.
Terakhir, ayat 39 menjadi penutup rangkaian ini dengan penegasan tentang pentingnya syukur atas keimanan.
“Ayat ini mengingatkan bahwa orang beriman harus bersyukur karena petunjuk itu menyelamatkan. Mereka yang menolaknya akan menanggung konsekuensinya baik di dunia maupun akhirat,” tutupnya.
Kajian yang digelar pada Sabtu, (15/11) itu diakhiri dengan ajakan agar umat memahami kembali misi kekhalifahan sebagai amanah besar: memanfaatkan ilmu, menjaga bumi, menebar kebermanfaatan, dan selalu kembali pada petunjuk Allah dalam menjalani kehidupan. (Adi/Humas).
Editor: Nurul Ramadhani



