Run For Protest, Para Pelari Solo Mengubah Langkah Menjadi Suara Keadilan
- account_circle Kabar Muhammadiyah
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 24
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID, Surakarta – Olahraga lari tak selalu tentang mengejar personal best, memecahkan rekor, atau sekadar menjaga kebugaran. Di Solo, Minggu pagi, semangat berlari menjelma menjadi ruang untuk menyuarakan keresahan dan tuntutan terhadap kebijakan negara melalui aksi bertajuk RUN FOR PROTEST: PACE FOR JUSTICE.
Mengambil momentum Car Free Day (CFD), sejumlah pelari berkumpul di kawasan Margi Keprabon sejak pukul 06.00 WIB pada 1 November 2026. Dengan rute sepanjang Jalan Slamet Riyadi, mereka mengikuti fun run yang dikemas sebagai aksi protes damai.
Berbeda dari kegiatan lari pada umumnya, para peserta membawa berbagai media aspirasi, mulai dari poster, karton, banner kecil, hingga pesan-pesan tuntutan yang tertulis di kaus. Setiap langkah menjadi simbol bahwa ruang publik, termasuk lintasan lari, dapat menjadi tempat menyampaikan suara masyarakat.
Jimmy, inisiator gerakan ini, mengungkapkan bahwa RUN FOR PROTEST bermula dari spontanitas di media sosial. Sebuah cuitan sederhana yang ia unggah melalui Threads justru mendapatkan respons positif dari banyak pengguna media sosial, khususnya komunitas pelari.
“Saya dipercaya teman-teman di media sosial untuk bisa menginisiasi gerakan kita, para pelari fomo ini, bahwa sesungguhnya kita juga bisa bersuara. Dikarenakan kita sudah terlalu lelah dengan kebijakan-kebijakan negara yang terlalu why,” ujar Jimmy.
Menurutnya, gerakan ini menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap persoalan bangsa tidak harus disampaikan melalui demonstrasi konvensional. Anak muda, termasuk komunitas pelari, juga memiliki ruang dan cara tersendiri untuk menyampaikan aspirasi.
Jimmy menegaskan bahwa kegiatan ini bukanlah aksi untuk menciptakan keributan. Sejak awal, ia mengajak seluruh peserta menjaga ketertiban, menghormati pengguna CFD lainnya, dan memastikan kegiatan berlangsung secara damai.
“Ini adalah fun run yang disertai protes. Kita berlari bersama, tertib, dan tetap menghormati masyarakat lain yang sedang menikmati CFD,” demikian pesan Jimmy.
Dari Kalimantan Timur, Ikut Berlari Membawa Aspirasi
Semangat gerakan ini juga menarik perhatian peserta dari luar Solo. Salah satunya Alisah, mahasiswa asal Kalimantan Timur yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Solo.
Keikutsertaannya menunjukkan bahwa keresahan terhadap persoalan bangsa tidak mengenal batas daerah. Baginya, gerakan seperti ini menjadi ruang bagi anak muda untuk menunjukkan kepedulian dan mengambil bagian dalam menyuarakan aspirasi.
“Meskipun saya berasal dari Kalimantan Timur dan sekarang sedang kuliah di Solo, keresahan terhadap kondisi bangsa ini adalah keresahan kita bersama. Lewat aksi ini, saya ingin menunjukkan bahwa menyuarakan aspirasi bisa dilakukan dengan cara yang kreatif, damai, dan menyenangkan. Kami mungkin berlari, tetapi bukan berarti kami sedang lari dari masalah. Justru kami ingin ikut menyuarakan perubahan,” ungkap Alisah.
Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang memperlihatkan bahwa gerakan ini tidak sekadar mempertemukan orang-orang dengan hobi yang sama. Lebih dari itu, terdapat kesadaran bersama bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dan mengawal kebijakan publik.
Bukan Sekadar Pace, tetapi Suara yang Tidak Ingin Diam
RUN FOR PROTEST: PACE FOR JUSTICE membawa pesan bahwa olahraga dan kepedulian sosial bukanlah dua hal yang harus dipisahkan. Di tengah tren lari yang semakin populer di kalangan anak muda, gerakan ini mencoba menghadirkan makna baru. Berlari bukan hanya untuk kesehatan diri, tetapi juga sebagai ekspresi kepedulian terhadap masa depan bersama.
Aksi ini menjadi pengingat bahwa menyuarakan aspirasi dapat dilakukan dengan beragam cara, selama tetap mengedepankan kedamaian, ketertiban, dan penghormatan terhadap hak orang lain.
Sebab, pada akhirnya, setiap langkah memiliki makna. Dan kali ini, langkah para pelari bukan semata-mata mengejar garis finis, melainkan menyampaikan pesan bahwa keadilan tetap layak diperjuangkan.
- Penulis: Kabar Muhammadiyah
