Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Mencari Jalan Pemilu Tanpa Money Politic

Mencari Jalan Pemilu Tanpa Money Politic

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Sabtu, 10 Feb 2024
  • visibility 327
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Rendy Nanda Saputra
Ketua Umum PK IMM FAI UMY

Pesta Demokrasi di Indonesia dilaksanakan selama 5 tahun sekali. Diwaktu tersebut kalangan migran berbondong-bondong untuk pulang dengan niatan ikut serta dalam pemilihan dan sekalian berkunjung ke keluarga dikampung akantetapi, ada juga yang tidak memilih pulang dengan cara pindah TPS atau memilih golput. Pemilihan umum selayaknya media penyalur suara rakyat untuk memilih pemimpin yang di percayainya dengan berasaskan langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil atau biasa disebut dengan Luberjurdil. Faktanya pesta demokrasi yang 5 tahun sekali tersebut tak selalu sejalan dengan asas-asas yang telah ditetapkan, kecurangan berada Dimana-mana salahsatunya yakni politik uang atau biasa dikenal sebagai money politic.

Praktik money politik seakan menjadi penyakit kronis yang menggerogoti tubuh demokrasi Indonesia. Praktik politik uang atau money politic bisa muncul dimulai dari pra kampanye, saat kampanye bahkan serangan fajar yang mengetok pintu tiba-tiba demi meraih kemenangan. Masyarakat dihantui dengan bantuan sosial seperti beras, minyak, dll dengan jaminan ketika yang memberikan terpilih kehidupan rakyat akan makmur sejahtera. Praktik tersebut hanya akan menghasilkan pemimpin yang curang dan korup lantaran banyaknya biaya yang dikeluarkan, seperti biaya mahar politik, kendaraan partai, kampanye dll. Yang menjadi pertanyaan mengapa politik uang sungguh subur setiap pemilu berlangsung?

Praktik politik uang memiliki dampak buruk bagi cara berfikir masyarakat dan menghabiskan uang banyak bagi para calon pejabat yang akan mencalon. Money Politik akan menimbulkan politik transaksional yang sering dimaknai sebagai politik saling memberi dan menerima, politik simbiosis mutualisme, siapa dapat apa, hari ini menjadi problematika yang parah pada pesta demokrasi lima tahunan yang agaknya susah diurai dan diperbaiki. Pada tulisan kali ini penulis ingin sedikit mengulas mengenai bagaimana buruknya kualitas demokrasi lima tahunan yang ada di Indonesia, dan kemudian membahas mungkinkah politik uang atau money politic bisa dihilangkan atau setidaknya dikurangi.

Demokrasi dan Politik Uang yang Mencederai

Makna sederhana dari demokrasi adalah sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Artinya demokrasi mendudukan rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam sebuah negara. Mengutip dari Jean Jaques Rousseau dalam teori yang disebut sebagai contract social (perjanjian masyarakat) terdapat banyak prinsip penting demokrasi yang mengalami perubahan pasca reformasi. Diantarannya yakni pemilihan umum langsung, prinsip pemilihan umum tidak langsung, umum, bebas, dan rahasia (LUBER) akantetapi juga jujur dan adil (JURDIL). Perubahan ini idealnya memiliki kapasitas untuk meningkatkan kualitas demokrasi kita dibandingkan sebelumnya.

Pemilu yang digadang sebagai wujud demokrasi yang seseungguhnya justru tercederai dengan praktik kecurangan dan politik uang. Tujuan awal untuk mendaoatkan pemimpin yang ideal, pro rakyat, selalu membela hak-hak kaum tertindas, menemani rakyat dikala suka dan suka, namun sebaliknya pemimpin yang terpilih karena politik uang. Dalam pandangan Thomas Hobbes korupsi politik adalah sebuah praktik yang haram dilakukan berupa penyelewengan yang dilakukan pejabat atau politisi demi mengusung kepentingan pribadi dan meninggalkan kepentingan rakyat. Janji-janji yang terpampang pada baliho yang besar seakan menjadi janji manis yang jarang ter realisasikan. Begitu banyak kasus politik uang merajalela di negeri ini dari tataran pusat hingga daerah bahkan masuk ke ranah pelosok desa. Tentu hal tersebut menurut hemat penulis adalah sebuah kompetisi yang tidak fair, selayaknya para calon mengeluarkan gagasan yang apik dan kemudian di laksanakan ketika terpilih, bukan hanya janji manis yang tak berujung dan sumpah palsu yang di khianati.

Mungkingkah Politik Tanpa Uang?

Berangkat dari pertanyaan diawal “Mengapa politik uang sungguh subur setiap pemilu berlangsung?”. Menurut jurnal yang dirillis oleh Majelis Republik Indonesia setidaknya ada 3 penyebab mengapa politik uang tumbuh begitu subur. Pertama, karena ketidakmampuan dan rendahnya kempetensi kontestan sehingga harus menggunakan politik uang guna meraup suara rakyat sebanyak-banyaknya. Kedua, sikap pragmatis yang menilai pemilu tidak dapat merubah apa-apa termasuk nasibnya. Ketiga, pengawasan dan penegakan hukum terhadap politik uang yang lemah serta dalam rana habu-abu.

Fakta politik uang yang silang sengkarut terjadi dimata kita semua setiap pesta demokrasi berlangsung. Dibeberapa kalangan mahasiswa bertanya apakah bisa benang kusut politik transaksional ini bisa diurai? Sudah barang tentu yang menjawab hanyalah bersifat normatif dan kalaupun hal itu bisa diurai pasti tidak semudah seseorang dalam membalikkan tangan. Meningat money politik merupakan sebuah hal yang wajar bagi masyarakat bahkan menjadi sebuah budaya yang selalu dirawat sehingga, butuh waktu yang cukup panjang untuk proses netralisirnya.

Salah satu cara untuk bisa melawan politik uang adalah dengan politik bersih. Akantetapi penerapan politik bersih tidak semudah yang dibayangkan, karena kekuasaanlah adalah menjadi tujuan utama. Jika paradigma yang dikenakan adalah mengahalalkan segala cara untuk mencapai kekuasaan sulit mengharapkan politik uang sirna. Namun sebaliknya jika paradigma yang dikenakan adalah pemilu sebagai bukan sebagai ajang perebutan kekuasaan melainkan sebagai sarana mensejahterahkan rakyat, dan pemimpin sebagai pelayan dari Masyarakat masih memungkinkan upaya perubahan menuju politik bersih itu ada.

Rasanya tagline politik uang vs politik bersih bukan sebuah hal yang mudah disandingkan. Menurut Indah Sri Utari ada empat persoalan utama ditengah kompleksitas problematika politik uang. Pertama, Terjadinya krisis nilai yakni gejala kemerosotan :pola bersama” tentang apa yang benar, baik, dan luhur sebagai bangsa. Kedua, krisis kewibawaan hukum. Ketiga, belum terciptanya demokrasi yang terkonsolidasi, dan yang terakhir. Keempat, krisis sumber daya ekonomi.

Kesimpulan

Sejarah pesta demokrasi telah menyaksikan politik uang. Indonesia mungkin hanya model dan bentuknya yang selalu berubah sesuai dengan waktu dan kebutuhan. Politik transaksional melibatkan politisi dan mesin politiknya serta masyarakat pemilih yang pragmatis dan materialis. Hubungan simbiosis mutulisme ini telah secara bertahap merusak dan menghancurkan demokrasi. Politik uang yang menggurita dalam sendi-sendi kehidupan demokrasi kita tetap harus dilawan melalui kesadaran kolektif berupa sikap anti politik uang dan menggelorakan spirit politik yang bersih dan santun.

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Angkatan Muda Muhammadiyah Kutai Timur Bagikan Ratusan Masker dan Takjil

    Angkatan Muda Muhammadiyah Kutai Timur Bagikan Ratusan Masker dan Takjil

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2020
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 993
    • 0Komentar

    KABARMUH.COM, Kutai Timur – Dalam rangka membantu Gugus Tugas Percepatan Pencegahan Penyebaran Covid-19, PC. IMM dan PD. IPM Kutai Timur bergerak menyusuri sejumlah ruas jalan untuk membagikan ratusan masker dan paket takjil kepada masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19 (18/05). Sebagai daerah dengan kepadatan penduduk tertinggi di Kabupaten Kutai Timur, Kecamatan Sangatta Utara menjadi zona merah […]

  • UMS Dorong Kampus Inklusif Lewat Webinar Pencegahan Perundungan Mahasiswa

    UMS Dorong Kampus Inklusif Lewat Webinar Pencegahan Perundungan Mahasiswa

    • calendar_month Rabu, 28 Mei 2025
    • account_circle Zulfan Falakhi
    • visibility 67
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Perundungan di lingkungan kampus kerap dianggap sebagai gurauan belaka, padahal dampaknya bisa sangat serius dan berkepanjangan. Menyikapi urgensi tersebut, Biro Kemahasiswaan bagian Student Mental Health and Wellbeing Support (SMHWS) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar webinar bertajuk “Lebih dari Sekadar Bercanda: Memahami dan Mencegah Perundungan di Lingkungan Kampus”. Ketua SMHWS UMS, Dra. Partini, […]

  • Mahasiswa Lintas Iman Perkuat Kolaborasi dalam NATIONAL YOUTH INTERFAITH LEADERSHIP FORUM SUMATERA UTARA 2026

    Mahasiswa Lintas Iman Perkuat Kolaborasi dalam NATIONAL YOUTH INTERFAITH LEADERSHIP FORUM SUMATERA UTARA 2026

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 93
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Medan – Semangat kolaborasi lintas iman dan kepedulian terhadap isu lingkungan hidup mewarnai pelaksanaan *NATIONAL YOUTH INTERFAITH LEADERSHIP FORUM SUMATERA UTARA 2026* yang mengusung tema “Sinergi Inklusif Ekospiritual Mahasiswa”. Kegiatan ini diselenggarakan pada 9 Mei 2026 di Aula Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara dan diikuti oleh 34 peserta dari berbagai latar belakang organisasi, […]

  • Tim UMS Raih Juara 2 Lomba Debat Mahasiswa Nasional Tahun 2025

    Tim UMS Raih Juara 2 Lomba Debat Mahasiswa Nasional Tahun 2025

    • calendar_month Kamis, 7 Agt 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 100
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam kancah nasional. Tim debat UMS yang terdiri dari Afrah Khoeronnisa (Prodi Bisnis Digital) dan Sintia Nafisa Munawaroh (Prodi Ilmu Komunikasi kelas internasional), dengan dosen pendamping lomba Qanita Masykuroh, S.S., M.Hum., berhasil meraih juara 2 dalam Lomba Debat Mahasiswa Nasional Tahun 2025 yang […]

  • BikersMu Chapter Kabupaten Bogor Ikuti Kemah Dakwah Muhammadiyah dan Ortomda

    BikersMu Chapter Kabupaten Bogor Ikuti Kemah Dakwah Muhammadiyah dan Ortomda

    • calendar_month Jumat, 31 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 55
    • 0Komentar

    KABARMUH. ID, BOGOR – 26 Oktober 2025 – Komunitas BikersMu Chapter Kabupaten Bogor turut serta dalam kegiatan Kemah Dakwah Muhammadiyah dan Ortomda yang diselenggarakan pada tanggal 25–26 Oktober 2025. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Milad Muhammadiyah ke-113 yang mengusung tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa.” Kehadiran BikersMu sebagai bagian dari Lembaga Muhammadiyah menunjukkan semangat dakwah yang […]

  • Kopdargab ke-1 Bikersmu Korwil Jawa Barat sekaligus Memperingati Milad Muhamnadiyah ke 113

    Kopdargab ke-1 Bikersmu Korwil Jawa Barat sekaligus Memperingati Milad Muhamnadiyah ke 113

    • calendar_month Sabtu, 22 Nov 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 47
    • 0Komentar

    KABARMUH,ID. JAWA BARAT – Hari senin,17/11/2025 seluruh member Bikersmu se-jawa barat bertolak ke ciwidey, tepatnya di Emte Highland Resort untuk menghadiri silaturahmi “Kopdargab BikersMu Korwil Jabar ke 1”, acara ini di gelar sebagai ajang silaturahmi antar chapter bikersmu se-jabar sekaligus pra pembentukan pengurus bikersmu korwil jabar,dan juga dalam mwnyambut Milad Muhamadiyah ke 113 thn. Pkl.14.00 wib […]

expand_less