EsaiInspirasi

Al-Qur’an di Tengah Layar Tantangan dan Peluang Dakwah di Era Digital

Oleh: Muhammad Fikri Azka

Di era digital, informasi mengalir cepat, visual lebih dominan, dan perhatian manusia semakin singkat. Generasi muda tumbuh dengan budaya “scroll”, “swipe”, dan “skip”. Tantangannya kemudian muncul: bagaimana Al-Qur’an tetap relevan, dipahami, dan dirasakan maknanya di tengah arus media yang serba instan?

Perubahan cara manusia berinteraksi dengan informasi telah menggeser banyak aspek kehidupan, termasuk cara beragama. Jika dahulu aktivitas keagamaan identik dengan ruang fisik seperti masjid, majelis taklim, dan kitab cetak, kini pengalaman beragama juga berlangsung di ruang digital. Al-Qur’an dibaca melalui aplikasi, didengarkan lewat podcast, dan direnungkan melalui potongan konten di media sosial. Layar ponsel perlahan menjadi ruang baru tempat manusia berjumpa dengan wahyu.

Data menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia merupakan kelompok pengguna internet terbesar dan paling aktif. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan di depan layar, baik untuk belajar, bekerja, maupun bersosialisasi. Dalam konteks ini, ruang digital tidak lagi bisa dipandang sekadar sebagai sarana hiburan, melainkan sebagai ruang hidup yang mempengaruhi cara berpikir, merasa, dan memaknai sesuatu, termasuk dalam hal keagamaan.

Kondisi tersebut menghadirkan peluang sekaligus kegelisahan. Di satu sisi, Al-Qur’an menjadi lebih mudah diakses oleh siapa saja, kapan saja, tanpa batas ruang dan waktu. Di sisi lain, kemudahan ini juga membawa risiko dangkalnya relasi manusia dengan Al-Qur’an. Ayat-ayat bisa dibaca cepat, tetapi belum tentu direnungkan. Pesan wahyu bisa lewat di linimasa, tetapi mudah pula terlewat tanpa meninggalkan bekas.

Di sinilah tantangan dakwah Al-Qur’an di era digital semakin nyata. Budaya instan yang melekat pada media digital sering kali bertabrakan dengan karakter Al-Qur’an yang mengajak manusia untuk berhenti, berpikir, dan merenung. Al-Qur’an tidak hanya menuntut dibaca, tetapi dipahami dan dihayati. Ketika ritme kehidupan digital mendorong kecepatan, dakwah Al-Qur’an justru perlu menghadirkan ruang perlambatan.

Menyadari realitas ini, ruang digital seharusnya tidak hanya diisi dengan pengulangan teks atau kutipan ayat, tetapi juga dengan upaya menghadirkan makna. Layar bisa menjadi jendela yang mempertemukan manusia dengan Al-Qur’an, tetapi bisa pula menjadi sekadar lalu lintas informasi jika tidak dirancang dengan kesadaran nilai. Oleh karena itu, kehadiran Al-Qur’an di tengah layar menuntut pendekatan yang lebih reflektif, bukan hanya informatif.

Ketika Popularitas Menggeser Otoritas Keilmuan

Salah satu kegelisahan utama dalam dakwah digital adalah kaburnya otoritas keilmuan. Di media sosial, siapa pun dapat berbicara tentang Al-Qur’an, menafsirkan ayat, bahkan menyampaikan hukum agama hanya bermodal potongan teks dan kepercayaan diri. Fenomena ini sejalan dengan apa yang disebut para pengamat sebagai “matinya kepakaran”, ketika suara yang paling keras dan paling viral sering kali lebih didengar daripada yang paling berilmu.

Profesor Quraish Shihab pernah mengingatkan bahwa persoalan umat bukan terletak pada kurangnya ayat Al-Qur’an, melainkan pada lemahnya upaya memahami maknanya secara utuh dan kontekstual. Ketika ayat hanya dipahami secara parsial dan instan, risiko salah tafsir menjadi semakin besar. Di sinilah media digital dapat menjadi pedang bermata dua bagi dakwah Al-Qur’an.

Media Digital sebagai Peluang Dakwah yang Membumi

Meski demikian, media digital tidak sepenuhnya membawa ancaman. Disisi lain, ia justru membuka peluang besar bagi dakwah Al-Qur’an yang lebih membumi. Penelitian tentang dakwah digital menunjukkan bahwa pendekatan yang empatik, naratif, dan tidak menghakimi lebih mudah diterima oleh generasi muda. Konten yang disampaikan dengan bahasa sehari-hari dan dekat dengan realitas hidup membuat Al-Qur’an terasa relevan, bukan menakutkan.

Nasaruddin Umar juga menegaskan bahwa Al-Qur’an akan selalu relevan sepanjang manusia mampu membaca pesan moralnya sesuai dengan tantangan zaman. Teknologi, dalam pandangannya, bukan musuh wahyu, melainkan alat. Artinya, media digital dapat menjadi sarana dakwah yang efektif jika diarahkan dengan kesadaran etis dan keilmuan.

Desain Media dan Tanggung Jawab Makna

Dalam konteks inilah desain media pengembangan Al-Qur’an menjadi sangat penting. Desain bukan sekadar soal tampilan visual yang menarik, tetapi tentang bagaimana media membantu pembaca berhenti sejenak, berpikir, dan merenung. Al-Qur’an sejatinya mengajak manusia untuk tadabbur, sementara budaya digital sering mendorong kecepatan dan konsumsi instan.

Jika desain media hanya mengejar perhatian tanpa memikirkan kedalaman makna, Al-Qur’an berisiko direduksi menjadi sekadar konten. Sebaliknya, desain yang sadar nilai dapat menjadikan media digital sebagai ruang refleksi, tempat ayat-ayat Al-Qur’an kembali dihayati, bukan sekadar dilewati.

Peran Mahasiswa di Tengah Arus Digital

Sebagai mahasiswa, kita berada di posisi yang cukup strategis. Kita hidup di tengah arus digital, tetapi juga masih memiliki akses pada tradisi keilmuan. Kita bisa memilih untuk sekadar menjadi konsumen konten keagamaan, atau mengambil peran lebih jauh sebagai generasi yang kritis dan bertanggung jawab dalam memproduksi serta menyebarkan pesan Qur’ani.

Sikap kritis ini penting agar Al-Qur’an tidak diperlakukan hanya sebagai bahan kutipan, tetapi tetap menjadi pedoman yang membentuk cara berpikir dan bersikap. Mahasiswa memiliki potensi besar untuk menjadi jembatan antara kedalaman makna Al-Qur’an dan bahasa yang dipahami oleh generasi digital.

Menjaga Arah di Tengah Layar yang Terus Menyala

Pada akhirnya, Al-Qur’an di tengah layar adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Layar akan terus menyala, konten akan terus berganti, dan arus informasi akan semakin deras. Tantangannya bukan menolak kehadiran Al-Qur’an di ruang digital, tetapi menjaga agar ia tidak kehilangan ruh dan arah.

Jika media digital mampu mengantar manusia untuk berhenti sejenak, merenung, dan kembali pada nilai-nilai Al-Qur’an, maka layar bukanlah ancaman. Ia justru bisa menjadi jalan dakwah yang relevan, bermakna, dan selaras dengan zaman.

Editor: Muhammad Farhan

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button