BPJS Kesehatan Goes To Campus, FIK UMS Dorong Mahasiswa Pahami Pentingnya Jaminan Kesehatan
- account_circle Unaise Albunayya
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID, SURAKARTA – Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjadi salah satu sasaran pelaksanaan program BPJS Kesehatan Goes To Campus. Kegiatan tersebut menjadi sarana edukasi bagi mahasiswa mengenai Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), manfaat jaminan kesehatan, serta peran mahasiswa bidang kesehatan dalam mendukung keberlanjutan program jaminan sosial.
Dekan FIK UMS, Prof. Dr. Umi Budi Rahayu, S.Fis., Ftr., M.Kes., menyampaikan apresiasi atas kehadiran Tim BPJS Kesehatan Kantor Cabang Surakarta dalam memberikan edukasi kepada mahasiswa UMS. Menurutnya, pemahaman mengenai jaminan kesehatan menjadi hal penting bagi mahasiswa FIK yang nantinya akan terjun langsung ke masyarakat sebagai tenaga kesehatan maupun profesional di bidang kesehatan.
“Beberapa waktu yang lalu, sebetulnya sudah cukup lama, BPJS ini kan menjadi suatu kewajiban. Kita juga sekarang, termasuk mahasiswa baru, kita arahkan semuanya ke BPJS,” ujarnya, Jumat (2/10/2026), di Auditorium Mohammad Djazman.

Pemberian cendera mata dari FIK UMS kepada BPJS Kesehatan Kantor Cabang Surakarta
Ia menjelaskan, kepesertaan BPJS Kesehatan juga menjadi perhatian FIK UMS dalam memberikan perlindungan kepada mahasiswa, termasuk mahasiswa yang menjalani praktik di rumah sakit maupun kegiatan akademik di luar negeri.
“Ini menjadi bagian yang penting. Kalau kami bilang, kebutuhan primer. Sehingga apa pun itu, demi kesehatan untuk kita semua, itu menjadi sesuatu yang sifatnya mutlak,” tuturnya.
Umi menambahkan, FIK UMS terus mengupayakan agar mahasiswa mendapatkan perlindungan kesehatan melalui kepesertaan BPJS Kesehatan. Menurutnya, langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya memberikan rasa aman kepada mahasiswa selama menjalani proses pendidikan.
“Termasuk mahasiswa baru yang kemarin juga semuanya untuk menjamin keselamatannya kita daftarkan semua ke BPJS,” jelasnya.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi dapat dilanjutkan melalui komunikasi dan kerja sama antara FIK UMS dengan BPJS Kesehatan. Terlebih, FIK UMS memiliki ribuan mahasiswa dari berbagai angkatan yang dapat memperoleh manfaat dari pemahaman mengenai layanan dan program JKN.
Sementara itu, perwakilan BPJS Kesehatan, Hardianto, menjelaskan bahwa Program JKN mengusung konsep gotong royong. Prinsip tersebut diwujudkan melalui kepedulian peserta untuk saling membantu, ketika peserta yang sehat turut berkontribusi dalam memberikan perlindungan bagi peserta yang sedang membutuhkan pelayanan kesehatan.
“JKN ini mengusung konsep gotong royong. Artinya apa? Ada kepedulian sosial di situ. Yang sehat membantu yang sakit,” ungkapnya.
Menurut Kepala Bagian Mutu Layanan Kepesertaan BPJS Kesehatan Kantor Cabang Surakarta, F. Hardianto Wijoyo, mahasiswa FIK UMS memiliki posisi strategis karena bidang keilmuan yang mereka pelajari berkaitan erat dengan pelayanan kesehatan dan penyelenggaraan JKN. Pengetahuan mengenai BPJS Kesehatan diharapkan dapat menjadi bekal mahasiswa ketika nantinya bekerja sebagai tenaga kesehatan, peneliti, maupun berada dalam lingkungan pemerintahan.
“Paling enggak, sudah mengenal dulu. Misalkan mau jadi peneliti, ada peluang yang memang bisa dikerjasamakan, salah satunya penelitian,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa kualitas pelayanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan tindakan medis, tetapi juga bagaimana masyarakat dapat mengakses perlindungan kesehatan.
Menurutnya, tenaga kesehatan yang nantinya terjun ke masyarakat perlu memahami bagaimana masyarakat di wilayahnya dapat memperoleh perlindungan melalui Program JKN.
“Kalau menjadi seorang bidan desa misalkan, bagaimana masyarakat sekitar kita itu bisa mendapatkan perlindungan dari negara. Salah satunya melalui program JKN ini,” katanya.
Lebih lanjut, Hardianto menjelaskan bahwa JKN merupakan bagian dari sistem jaminan sosial yang bertujuan memberikan perlindungan kesehatan kepada masyarakat. Ia menyebut kepesertaan JKN berlaku bagi seluruh penduduk dengan hak memperoleh pelayanan kesehatan sesuai ketentuan yang berlaku.
Ia juga menjelaskan posisi BPJS Kesehatan sebagai badan hukum publik yang menyelenggarakan program JKN dan bukan merupakan badan usaha yang berorientasi pada laba. Dalam penyelenggaraannya, keberlanjutan program JKN membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, akademisi, hingga peserta.
“BPJS Kesehatan enggak bisa berjalan sendiri menjalankan program JKN. Ada regulator, pemerintah, ada pelaku usaha, ada akademisi, dan peserta,” jelasnya.
Dalam konteks akademisi, Hardianto menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki peran dalam memberikan masukan, melakukan penelitian, serta mengevaluasi pelaksanaan program JKN di tengah masyarakat.
“Peran akademisi mungkin lebih ke mekanisme pelaksanaan, implementasi bagaimana program JKN ini yang berjalan di masyarakat. Tentunya perlu ada evaluasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemahaman mengenai jaminan sosial juga penting bagi mahasiswa untuk memahami berbagai bentuk perlindungan sosial yang tersedia. Selain JKN melalui BPJS Kesehatan, terdapat sejumlah program jaminan sosial ketenagakerjaan yang dapat dimanfaatkan pekerja, termasuk masyarakat yang bekerja sebagai wirausaha atau pekerja bukan penerima upah.
Hardianto juga mengajak mahasiswa untuk memahami prinsip perlindungan dalam JKN sejak dini. Menurutnya, kebutuhan terhadap jaminan kesehatan tidak dapat diprediksi karena kondisi kesehatan seseorang dapat berubah sewaktu-waktu.
“Pertama kita memberikan perlindungan diri kita sendiri. Karena kita enggak tahu,” katanya.
Melalui kegiatan BPJS Kesehatan Goes To Campus tersebut, mahasiswa FIK UMS diharapkan tidak hanya memahami manfaat kepesertaan JKN bagi diri sendiri, tetapi juga memiliki wawasan mengenai sistem jaminan sosial dan perannya dalam mendukung akses kesehatan masyarakat. (Maysali/Humas)
Editor: Unaise
- Penulis: Unaise Albunayya