Jaswadi: Pendidikan Muhammadiyah Harus Kembali pada Visi Besar KH. Ahmad Dahlan
Jaswadi mengajak seluruh pengelola Amal Usaha Muhammadiyah untuk terus melakukan transformasi pendidikan tanpa kehilangan jati diri Persyarikatan. Ia menegaskan bahwa pendidikan Muhammadiyah hanya akan maju apabila seluruh pelakunya memiliki keberanian melakukan perubahan, memperkuat kolaborasi, dan tetap menjadikan nilai-nilai Islam Berkemajuan sebagai fondasi utama.

SAMARINDA – Pendidikan Muhammadiyah tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian akademik atau banyaknya peserta didik. Lebih dari itu, pendidikan harus menjadi instrumen dakwah yang melahirkan manusia beriman, berilmu, berakhlak, dan mampu menjawab tantangan zaman. Pesan tersebut disampaikan Drs. H. Jaswadi, M.Si. dalam Pengajian Pimpinan Muhammadiyah Kalimantan Timur di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), Sabtu (18/7/2026). Mengangkat tema “Visi K.H. Ahmad Dahlan: Pendidikan Muhammadiyah yang Unggul Berkemajuan”, Jaswadi mengajak seluruh pimpinan Muhammadiyah kembali membaca gagasan besar pendiri Persyarikatan sebagai pijakan membangun pendidikan masa depan.
Menurut Jaswadi, visi pendidikan KH. Ahmad Dahlan lahir dari semangat tajdid, yakni gerakan pemurnian dan pembaruan yang berpijak pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tajdid bukan sekadar mengoreksi praktik keagamaan yang menyimpang, tetapi juga menghadirkan pembaruan dalam sistem pendidikan, cara berpikir, dan kehidupan sosial agar umat Islam mampu bangkit dari keterbelakangan.
Ia menjelaskan, sepulang dari Makkah, KH. Ahmad Dahlan tidak hanya membawa ilmu agama, tetapi juga semangat perubahan. Salah satu langkah visionernya adalah meluruskan arah kiblat Masjid Gedhe Kauman berdasarkan ilmu falak. Meski mendapat penolakan keras, bahkan langgarnya sempat dibongkar, beliau tetap memilih jalan dialog, argumentasi ilmiah, dan kesabaran. Peristiwa itu menjadi pelajaran bahwa pembaruan selalu membutuhkan keberanian, ilmu, dan keteguhan prinsip.
Jaswadi menegaskan bahwa pembaruan terbesar KH. Ahmad Dahlan justru terjadi di bidang pendidikan. Pada 1 Desember 1911 beliau mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI), sekolah modern pertama yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Langkah tersebut merupakan terobosan besar pada masanya karena masyarakat masih memandang sistem sekolah modern identik dengan pendidikan kolonial. Namun bagi KH. Ahmad Dahlan, kemajuan umat hanya dapat diraih apabila ilmu agama berjalan seiring dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Beliau mendirikan sekolah agar anak-anak pribumi pintar ilmu agama dan pandai dalam urusan dunia, serta terlepas dari kebodohan,” terang Jaswadi. Bahkan ketika sekolah itu hanya memiliki delapan murid dan menghadapi keterbatasan dana, KH. Ahmad Dahlan rela menggunakan harta pribadinya demi memastikan pendidikan tetap berjalan. Baginya, pendidikan adalah investasi peradaban yang tidak boleh berhenti karena alasan ekonomi.
Jaswadi juga mengingatkan bahwa metode pendidikan KH. Ahmad Dahlan tidak berhenti pada transfer ilmu. Melalui pengajian tafsir Al-Qur’an secara terbuka, khususnya Surat Al-Ma’un, beliau mengajarkan bahwa pemahaman agama harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Dari pengajian itulah lahir panti asuhan, pelayanan kesehatan, dan gerakan sosial yang menjadi ciri khas Muhammadiyah hingga hari ini. Pendidikan, menurut KH. Ahmad Dahlan, harus melahirkan kepedulian sosial, bukan sekadar kecerdasan intelektual.
Lebih lanjut, Jaswadi menilai berdirinya Muhammadiyah pada tahun 1912 merupakan langkah strategis untuk menjamin keberlanjutan gerakan pendidikan. Organisasi dibangun bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai instrumen dakwah agar sekolah, kaderisasi, pelayanan sosial, dan pembinaan umat dapat berkembang secara sistematis dan berkesinambungan. Dari sinilah kemudian lahir jaringan sekolah, madrasah, Mu’allimin-Mu’allimat, TK ABA, hingga ribuan lembaga pendidikan Muhammadiyah yang kini tersebar dari Sabang sampai Papua bahkan merambah berbagai negara.
Mengakhiri pemaparannya, Jaswadi mengajak seluruh pengelola Amal Usaha Muhammadiyah untuk terus melakukan transformasi pendidikan tanpa kehilangan jati diri Persyarikatan. Ia menegaskan bahwa pendidikan Muhammadiyah hanya akan maju apabila seluruh pelakunya memiliki keberanian melakukan perubahan, memperkuat kolaborasi, dan tetap menjadikan nilai-nilai Islam Berkemajuan sebagai fondasi utama. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11, perubahan hanya akan terjadi apabila manusia mau mengubah dirinya sendiri. Karena itu, pendidikan Muhammadiyah harus terus meneguhkan visi, memperluas kolaborasi, dan menghadirkan transformasi untuk menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045 yang beriman, unggul, berkarakter, dan berkemajuan.(ay.1)



