Ibu sebagai Pahlawan Energi! Konservasi Energi sebagai Amal Jariyah dan Jihad Ekologis

KABARMUH.ID, Jakarta – Perempuan, khususnya ibu rumah tangga, disebut sebagai aktor strategis dalam mengubah perilaku konsumsi energi keluarga. Hal ini menjadi poin penting dalam Sosialisasi Konservasi Energi yang digelar secara daring oleh Kementerian ESDM melalui Dirjen EBTKE bersama Program 1000 Cahaya Muhammadiyah dan LLHPB Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah pada Selasa (5/8).
Direktur Program 1000 Cahaya Muhammadiyah, Hening Parlan, menekankan bahwa perubahan kecil dalam pola konsumsi energi oleh ibu rumah tangga, seperti mengatur listrik dan memilih peralatan dapat mengurangi emisi karbon keluarga hingga 15 persen dan menjadi amal jariyah yang berdampak berkelanjutan.
“Dari cara ibu mengatur konsumsi listrik, air, memasak, sampai memilih peralatan rumah tangga, semuanya berpengaruh besar terhadap keberlanjutan. Bahkan, dengan mengubah perilaku energi di rumah, seorang ibu bisa menghemat hingga 15% emisi karbon keluarga, ini merupakan sebuah amal jariyah.” ungkapnya.

Hening juga menekankan, “Kami melakukannya melalui dua langkah utama: efisiensi energi dan pemanfaatan energi terbarukan, yang digerakkan melalui masjid, ranting, sekolah, pondok pesantren, dan tentu saja melalui ‘Aisyiyah.” Ia menyebut para ibu sebagai Green Hero, pahlawan bumi yang membawa cahaya ilmu dan kesadaran ekologis.
Dalam kesempatan yang sama, Devi Laksmi, Koordinator Pengembangan Usaha Konservasi Energi menyoroti kaitan erat antara energi dan isu perubahan iklim.
“Emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil adalah penyebab utama pemanasan global. Padahal, energi kini menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari—mulai dari gas, transportasi, hingga komunikasi seperti mengisi daya ponsel,” ungkapnya.
Mengutip QS Al-A’raf ayat 56, Devi menegaskan pentingnya kesadaran spiritual dalam konservasi energi. “Maka mari kita gunakan peralatan sesuai kebutuhan, jika tidak digunakan, matikan saja,” ujarnya.
Sementara itu, Endang Widayati, Widyaiswara Ahli Madya PPSDM KEBTKE, menambahkan bahwa hunian sehat dan hemat energi dapat dimulai dari kebersihan, tata udara, dan pencahayaan yang efisien. “Udara segar sangat memengaruhi kebugaran dan daya kerja kita,” tegasnya. Ia mendorong penggunaan ventilasi alami sebagai bagian dari gaya hidup sehat.
Dari sisi konsumen, Herlin Herlianika dari CLASP mengingatkan pentingnya memilih peralatan listrik yang efisien.
“Saat membeli alat elektronik seperti rice cooker, mesin cuci, atau lampu, pastikan memilih yang memiliki label hemat energi dengan jumlah bintang yang banyak,” ujarnya. Herlin mengajak peserta untuk menyebarkan pengetahuan ini di komunitas, “Edukasi soal memilih peralatan listrik yang efisien ini sangat penting dan bisa jadi investasi yang menguntungkan, baik untuk pengeluaran rumah tangga maupun untuk kelestarian bumi,” tegasnya.
Dengan lebih dari 285 peserta, kegiatan ini diharapkan mampu menggerakkan keluarga-keluarga Indonesia menjadi pelopor gaya hidup hemat energi yang Islami dan berkelanjutan.



