
KABARMUH.ID, SURAKARTA— Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pondok Hajjah Nuriyah Shobron Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) adakan bedah buku “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” yang ditulis oleh Brian Khrisna dan diterbitkan pertama kali pada Januari 2025 lalu. Agenda ini bertempat di Taman Djazman Kampus 1 UMS pada Senin, (24/11).

Pemas, selaku pemantik pertama, mengatakan bahwa sesi diskusi ini berpegang pada QS. Al-Ahzab ayat 21 yang membahas mengenai seorang Uswatun Hasanah atau teladan yang baik.
“Menjadi teladan yang baik itu penting, karena kami sebagai pimpinan harus menjadi uswatun hasanah. Dalam konteks diskusi ini, Shobron adalah ikon, dan anak-anak Shobron memang dikenal dengan tradisi diskusinya.” Ungkapnya. Senin, (24/11).
Ia juga sebutkan alasannya ingin membedah buku tersebut, yaitu karena dalam buku tersebut berisi banyak hal hal yang relevan dengan kehidupan kita.
“Buku ini membahas tentang pelajaran yang sangat relevan dan relate terhadap kehidupan yang kita jalani sekarang ini,” jelasnya.
Tak hanya itu, ia juga menyebutkan hikmah yang ia dapat dari membaca buku tersebut.
“Dari membaca buku ini saya yakin bahwa hal yang selama ini kita anggap remeh itu, ternyata dampaknya besar. Karena buku ini membahas tentang parenting, menghargai diri sendiri, bersyukur dan harus punya teman dan banyak lagi pelajaran yang kita ambil dari buku ini,” paparnya.
Hibatullah Al Mubarak selaku pemantik kedua, menceritakan keseluruhan kisah dalam buku tersebut. Ia membuka pemaparannya dengan kalimat
“Laki-laki tidak bercerita, tiba-tiba pilih bunuh diri,” tegasnya.
Ia menceritakan bagaimana Ale, yang merupakan tokoh utama dalam buku tersebut, menderita depresi karena hidup tanpa adanya dukungan dari keluarga maupun dari teman-temannya. Ale pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya pada usianya yang genap 37 tahun, namun sebelum itu, ia merencanakan untuk memakan seporsi mie ayam sebelum mengakhiri hidupnya.

Ternyata warung mie ayam langganannya itu tutup, sehingga rencananya untuk memakan seporsi mie ayam agar tidak mati dalam keadaan lapar itu gagal. Namun hal itu justru membawanya ke perjalanan yang membuatnya memutuskan untuk tetap hidup.
Kembali ke pemantik pertama, Pemas menekankan bahwa keluarga seharusnya menjadi tempat pulang yang aman, bukan sumber tekanan mental. Ia menyoroti bagaimana Ale justru menjadi tulang punggung keluarga, tetapi tetap mendapatkan cacian dan perbandingan dengan adiknya.
“Kita tidak bisa hidup sendiri. Orang yang menyakiti dirinya bukan selalu ingin mati, tetapi ingin didengar,” terang Pemas.
Di penghujung diskusi, Pemas memberikan refleksi dari kutipan buku.
“Kunci untuk bertahan hidup bukan selalu berpikir positif, tetapi memiliki kemampuan untuk menerima. Menerima bahwa tidak semua hari akan berjalan baik, tidak semua rencana akan berjalan lancar, dan tidak semua orang akan bersikap baik meskipun kita telah berbuat baik kepada mereka dan semua itu tidak apa-apa,” tutupnya.
Kontributor: Choiril Amirah Farida
Editor: Nurul Ramadhani



