
KABARMUH.ID, Banyuwangi – Upaya merawat bumi dan menghadapi krisis iklim dapat dimulai dari langkah sederhana di tingkat masyarakat. Hal inilah yang dilakukan SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi melalui kegiatan Kick Off Inkubasi Ecosociopreneur Selai Buah Naga yang digelar di rumah Indri Ratna Sari, Dusun Sumberjambe, Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi, Ahad (10/5/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi anak muda lintas agama, perempuan, dan masyarakat lokal untuk belajar mengembangkan potensi pangan lokal berbasis usaha berkelanjutan. Peserta yang hadir berasal dari berbagai organisasi dan komunitas, mulai dari, Nasyiatul Aisyiyah, pemuda lintas agama, APUNA (Asosiasi Pengusana Nasyiatul Aisyiyah) Banyuwangi, (Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia) hingga komunitas AMONG (Anak Muda Eco Bhinneka Blambangan).
Focal Point SMILE Eco Bhinneka Banyuwangi, Zahrotul Janah, menjelaskan bahwa Desa Temurejo memiliki potensi besar melalui komoditas buah naga yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat. Melalui program inkubasi ini, masyarakat didampingi mulai dari proses produksi, keamanan pangan, standar kualitas, pengemasan, hingga pemasaran digital agar produk lokal mampu memiliki nilai tambah ekonomi.
“Desa Temurejo sangat lekat dengan pertanian buah naga sebagai komoditas utama. Hari ini kita belajar bersama bagaimana buah naga dapat diolah menjadi produk lain seperti selai dan makanan olahan lain sehingga memiliki nilai ekonomi lebih tinggi,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa menjaga pangan lokal dan membangun usaha ramah lingkungan merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap bumi.
“Mengatasi krisis iklim tidak selalu dimulai dari hal besar; menjaga pangan lokal, mencintai bumi, dan membangun usaha yang berkelanjutan adalah bentuk perlawanan nyata yang bisa dimulai dari langkah kecil bersama,” tambahnya.
Ketua Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur, Desi Ratnasari, mengapresiasi kolaborasi yang dibangun Eco Bhinneka Muhammadiyah bersama pemuda lintas iman dalam memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi hijau masyarakat.
Menurutnya, ecosociopreneur tidak hanya berbicara tentang keuntungan ekonomi, tetapi juga bagaimana usaha yang dijalankan dapat turut menjaga keseimbangan lingkungan dan melestarikan potensi lokal.
“Ada potensi lokal yang harus dijaga dan dikembangkan secara kreatif dan kolaboratif sehingga dapat melahirkan pengusaha perempuan yang mandiri, inovatif, dan peduli lingkungan,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Program Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, menyampaikan bahwa perubahan iklim telah berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat, termasuk menurunnya hasil panen dan hilangnya berbagai pangan lokal akibat cuaca yang tidak menentu.
Ia menilai pengolahan buah naga menjadi produk pangan berkelanjutan merupakan salah satu bentuk perlawanan terhadap krisis iklim sekaligus edukasi kepada masyarakat untuk lebih mencintai bumi.
“Tidak semata tentang jual beli, tetapi membangun rasa cinta terhadap bumi dan menghadirkan produk olahan yang tidak memperparah krisis iklim,” katanya.
Dalam sesi praktik, peserta mendapatkan pendampingan langsung dari Nina Rosita dari Departemen Ekonomi dan Kewirausahaan PDNA Banyuwangi mengenai produksi selai buah naga berbasis zero waste. Seluruh bagian tanaman buah naga dimanfaatkan, mulai dari buah, kulit, hingga batangnya sehingga tidak meninggalkan sampah produksi.
Selain praktik produksi, peserta juga didorong menggunakan kemasan ramah lingkungan seperti botol kaca dan konsep membawa wadah sendiri guna mengurangi sampah plastik.
Melalui kegiatan ini, Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi berharap lahir pengusaha muda berbasis pangan lokal yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga mampu menjaga kelestarian lingkungan, memperkuat solidaritas lintas iman, dan membangun masa depan bumi yang lebih berkelanjutan.


