
KABARMUH.ID, SURAKARTA – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tapak Suci Putera Muhammadiyah Unit 003 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan bedah buku “Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM)”, bertempat di Posko Tapak Suci Unit 003 UMS.
Kegiatan ini diprakarsai oleh Departemen Keislaman dan Kemuhammadiyahan yang berkolaborasi dengan Departemen Kesejahteraan Anggota, serta mendapat dukungan penuh dari Pimpinan Umum Tapak Suci Putera Muhammadiyah Unit 003.
Ketua Umum Tapak Suci Putera Muhammadiyah Unit 003 UMS periode 2024/2025, Ulin Niam, mengungkapkan rasa bangga dan syukur atas terlaksananya kegiatan tersebut.
“Setelah diadakannya bedah buku ini, harapan dari kami selaku pimpinan, teman-teman anggota Tapak Suci dapat meningkatkan keilmuan dan Kemuhammadiyahan serta menjadikannya sebagai pegangan hidup di lingkungan kampus dan juga bekal untuk hidup dan mengabdi kepada masyarakat nantinya,” ungkapnya Minggu, (30/11).
Bedah buku ini menjadi momen penting untuk meningkatkan pemahaman serta mengaktualisasikan poin-poin yang terdapat dalam PHIWM di kehidupan sehari-hari.
Pemateri diskusi, Muhammad Arya Kautsar, seorang mahasiswa Program Studi Ilmu Qur’an dan Tafsir UMS, sekaligus kader intelektual Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pondok Shabran UMS, menjelaskan bahwa kehidupan keluarga merupakan pendidikan diniyah pertama bagi seorang anak.
Ia juga memaparkan lima konsep kehidupan agar pemuda Muhammadiyah berjalan sejalan dengan nilai-nilai yang diinginkan persyarikatan. Menurutnya, orang yang memahami PHIWM akan cenderung aktif di organisasi, khususnya ortom Muhammadiyah.
“Kita sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah, memahami PHIWM adalah keharusan agar memiliki arah dan strategi kehidupan sesuai nilai-nilai persyarikatan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa PHIWM harus dipahami agar kader mampu menjadi pelopor di daerah masing-masing serta menjadikannya pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Pada sesi tanya jawab, muncul pertanyaan menarik mengenai fenomena mahasiswa yang aktif berorganisasi namun kurang aktif di perkuliahan, meski memiliki kemampuan presentasi yang baik. Menanggapi hal tersebut, Arya menjelaskan bahwa PHIWM mengajarkan keseimbangan.
“Kuliah adalah bakti kita kepada orang tua, sedangkan berorganisasi adalah bakti kita terhadap Muhammadiyah. Aktivitas organisasi tidak boleh mengabaikan kewajiban utama sebagai mahasiswa, yaitu belajar. Justru organisasi harus menjadi sarana untuk menguatkan karakter, kedisiplinan, dan etos belajar,” jelasnya.
Dengan menjadikan PHIWM sebagai pedoman, mahasiswa diharapkan tetap mampu mencapai tujuan akademik dan organisatoris secara seimbang.
Ia juga berpesan agar setiap kader minimal sekali seumur hidup mempelajari PHIWM.
“Siapa lagi yang akan melanjutkan nilai dan perjuangan Muhammadiyah kalau bukan kita? PHIWM ini adalah produk pemikiran Muhammadiyah, dan sebagai kader Muhammadiyah serta anggota Tapak Suci Unit 003 UMS, kita harus mendalaminya,” tegasnya.
Kegiatan yang digelar pada Kamis, (27/11) itu, diharapkan menjadi titik awal meningkatnya literasi PHIWM di kalangan mahasiswa, khususnya kader Tapak Suci Putera Muhammadiyah Unit 003. (Bayu/Adi/Humas)
Editor: Farhan Shiddiq



