KH. Agus Sukaca: Tauhid Adalah Ruh yang Menyatukan Seluruh Gerakan Muhammadiyah
Pengajian menghadirkan dua narasumber, yakni dr. KH. Agus Sukaca, M.Kes. dengan materi "Rintisan Tauhidul Ulum dan Perkembangannya, KH Ahmad Dahlan" serta Drs. H. Jaswadi, M.Si. yang membahas "Visi K.H. Ahmad Dahlan: Pendidikan Muhammadiyah yang Unggul Berkemajuan." Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda pembinaan ideologi bagi pimpinan Persyarikatan agar semakin kokoh dalam menjalankan amanah dakwah dan tajdid di Kalimantan Timur.

Samarinda – Di tengah semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi Muhammadiyah memasuki abad kedua, penguatan ideologi gerakan menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Pesan itulah yang mengemuka dalam Pengajian Pimpinan Muhammadiyah Kalimantan Timur yang disampaikan oleh Wakil Ketua PWM Kalimantan Timur, dr. KH. Agus Sukaca, M.Kes., Sabtu (18/7/2026) di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT). Mengangkat tema “Tauhid Sebagai Paradigma Gerakan Muhammadiyah: Membaca Kembali Tauhid al-‘Ulum dalam Perspektif KH Ahmad Dahlan”, ia mengajak seluruh pimpinan Persyarikatan kembali kepada akar yang selama lebih dari satu abad menjadi kekuatan Muhammadiyah, yakni tauhid.
Menurut KH. Agus Sukaca, keberhasilan Muhammadiyah membangun ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, hingga berbagai amal usaha bukanlah semata-mata karena kekuatan organisasi. Seluruh aktivitas itu dipersatukan oleh satu nilai fundamental. “Yang sesungguhnya menyatukan seluruh gerakan Muhammadiyah adalah tauhid. Bukan sekadar tauhid sebagai akidah yang diyakini, tetapi tauhid sebagai cara memandang kehidupan,” tegasnya. Tauhid, lanjutnya, menjadi sumber nilai yang mengarahkan cara berpikir, cara memimpin, cara bekerja, mengembangkan ilmu pengetahuan, hingga melayani masyarakat.
Ia kemudian mengajak peserta membaca kembali sejarah KH. Ahmad Dahlan. Menurutnya, banyak orang mengenang pendiri Muhammadiyah sebagai pembaru pendidikan atau pendiri organisasi besar. Namun sesungguhnya, yang pertama kali dibangun KH. Ahmad Dahlan bukanlah sekolah ataupun organisasi. “Yang pertama kali beliau bangun adalah cara berpikir umat,” ungkapnya. Dari cara berpikir itulah lahir kesadaran bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi harus diwujudkan dalam amal nyata yang membawa perubahan bagi kehidupan.
Karena itu, KH. Agus menegaskan bahwa tauhid tidak boleh berhenti pada pengakuan lisan mengenai keesaan Allah. Tauhid harus melahirkan transformasi sosial. “Keimanan harus melahirkan amal saleh. Ilmu harus melahirkan kemanfaatan. Organisasi harus menjadi sarana menghadirkan rahmat bagi sesama,” ujarnya. Dari fondasi inilah Muhammadiyah lahir sebagai gerakan dakwah yang membangun pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, hingga berbagai bentuk pelayanan kemanusiaan.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa konsep Tauhid al-‘Ulum bukanlah istilah akademik yang hanya relevan bagi perguruan tinggi Muhammadiyah. Paradigma tersebut merupakan cara pandang bahwa seluruh ilmu berasal dari Allah, dipelajari sebagai amanah dari Allah, dan harus digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan sesuai kehendak-Nya. Karena itu, Muhammadiyah tidak mengenal dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Seluruh cabang ilmu memiliki tujuan yang sama, yakni mengabdi kepada Allah melalui pelayanan terbaik kepada manusia.
Dalam pandangan KH. Agus Sukaca, paradigma inilah yang menjadi dasar lahirnya gagasan Islam Berkemajuan. Kemajuan tidak dimaknai sebagai mengejar modernitas semata, melainkan menghadirkan nilai-nilai Islam dalam menjawab tantangan zaman. “Semakin kuat tauhid seseorang, semakin besar dorongannya untuk belajar, bekerja secara profesional, berinovasi, serta memberikan manfaat bagi masyarakat,” jelasnya. Sebaliknya, kemajuan yang terlepas dari tauhid hanya akan kehilangan arah dan mudah terjebak pada orientasi material semata.
Di hadapan para pimpinan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, KH. Agus juga mengingatkan pentingnya membangun sinergi antaramal usaha Muhammadiyah. Menurutnya, memasuki abad kedua, tantangan umat tidak mungkin diselesaikan secara sektoral. Sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, majelis, lembaga, Lazismu, organisasi otonom, hingga unit-unit ekonomi harus bergerak dalam satu arah. “Muhammadiyah yang berkemajuan bukan sekadar Muhammadiyah yang memiliki banyak amal usaha, tetapi Muhammadiyah yang mampu menyinergikan seluruh amal usahanya dalam satu paradigma tauhid,” tegasnya.
Menutup paparannya, KH. Agus Sukaca mengajak seluruh pimpinan Persyarikatan melakukan refleksi mendalam. Kesibukan mengurus anggaran, akreditasi, pembangunan fisik, regulasi, maupun target organisasi jangan sampai membuat Muhammadiyah kehilangan ruh perjuangannya. “Kekuatan Muhammadiyah selama lebih dari satu abad bukan terutama terletak pada banyaknya sekolah, rumah sakit, perguruan tinggi ataupun amal usaha yang dimiliki. Akar yang sesungguhnya adalah tauhid,” ujarnya. Selama akar itu tetap kokoh, Muhammadiyah akan terus tumbuh, berbuah, dan memberi manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Bagi Muhammadiyah, tauhid bukan hanya menjadi dasar ibadah personal, tetapi juga paradigma peradaban. Dari tauhid lahir ilmu, dari ilmu lahir amal, dan dari amal lahir kemaslahatan. Karena itu, masa depan Muhammadiyah tidak semata diukur dari bertambahnya gedung, mahasiswa, rumah sakit, atau amal usaha, melainkan dari kemampuannya menjaga tauhid sebagai ruh yang menggerakkan setiap keputusan, kebijakan, dan pengabdian kepada masyarakat. Selama tauhid tetap menjadi kompas gerakan, Muhammadiyah akan terus tampil sebagai Gerakan Islam Berkemajuan yang mencerahkan kehidupan dan membangun peradaban yang berkeadaban.(ay.1)



