
KABARMUH.ID, TULUNGAGUNG – PK IMM Muhammad El-Fatih STAIM Tulungagung kembali menghadirkan ruang akademik melalui kegiatan Nobar & Diskusi Publik bertema “Pesta Babi: Analisis Kritis Dokumenter dan Suara Senyap dari Selatan Papua” yang berlangsung di Kampus STAI Muhammadiyah Tulungagung, Jumat (22/05/2026).
Kegiatan ini diprakarsai oleh PK IMM Muhammad El-Fatih sebagai bagian dari upaya menghadirkan ruang dialog yang terbuka, kritis, dan dekat dengan persoalan kemanusiaan serta kebangsaan.
Forum tersebut diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa STAIM Tulungagung, seluruh anggota PK IMM Muhammad El-Fatih, serta kader IMM se-Tulungagung. Diskusi berlangsung hangat dengan banyak tanggapan dan refleksi dari peserta mengenai budaya Papua, media, dan persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.
Ketua STAIM Tulungagung, Dr. Suripto, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab membangun mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial.
Kampus harus menjadi tempat lahirnya mahasiswa yang berani berpikir terbuka dan mampu membaca realitas sosial secara objektif serta berkeadaban, jelasnya.
Kegiatan ini juga menghadirkan Kepala Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PK IMM Muhammad El-Fatih, Ameliya Ardiani, dengan moderator Ghozi Hamdani.
Sementara itu, Ketua Umum PK IMM Muhammad El-Fatih, Syofatun Nadifah, menekankan pentingnya peran mahasiswa intelek dalam menjaga kesadaran sosial di tengah derasnya arus informasi. Dengan penyampaian yang komunikatif dan penuh refleksi, ia menyampaikan bahwa IMM harus menjadi ruang tumbuhnya keberanian berpikir dan kepedulian kemanusiaan.
Mahasiswa bukan sekadar penonton realitas. Mahasiswa adalah penjaga nurani bangsa yang harus mampu membaca persoalan sosial dengan akal sehat, empati, dan keberanian intelektual, ujarnya.
Menurutnya, diskusi publik seperti ini menjadi bagian dari ikhtiar IMM dalam membangun kesadaran kolektif mahasiswa agar tidak tumbuh menjadi generasi yang apatis terhadap persoalan bangsa.
Kami ingin menghadirkan budaya diskusi yang hidup, terbuka, dan mencerdaskan. IMM harus menjadi ruang bertemunya gagasan, empati sosial, dan gerakan intelektual yang progresif, lanjutnya.
Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai pandangan peserta mengenai representasi Papua dalam media, ketimpangan pembangunan, hingga pentingnya menghadirkan perspektif yang lebih manusiawi dalam memahami keberagaman Indonesia.
Melalui agenda ini, PK IMM Muhammad El-Fatih berharap lahir generasi muda yang lebih terbuka, peka terhadap isu kemanusiaan, dan mampu menghadirkan ruang dialog yang sehat di lingkungan akademik maupun masyarakat
Kontributor: Izza Pitriana



