Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Gelombang Panas Global Kian Ekstrem, Guru Besar UMS: Indonesia Perlu Bersiap dengan Adaptasi Iklim, Bukan Sekadar Waspada

Gelombang Panas Global Kian Ekstrem, Guru Besar UMS: Indonesia Perlu Bersiap dengan Adaptasi Iklim, Bukan Sekadar Waspada

  • account_circle Adi Kurnia
  • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
  • visibility 45
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KABARMUH.ID; SURAKARTA – Gelombang panas ekstrem yang melanda berbagai negara di Eropa dalam beberapa pekan terakhir kembali memunculkan kekhawatiran dunia terhadap dampak nyata perubahan iklim. Suhu yang menembus lebih dari 40 derajat Celsius menyebabkan kebakaran hutan, gangguan kesehatan, hingga terganggunya aktivitas masyarakat. Fenomena tersebut juga memunculkan pertanyaan di Indonesia: apakah kondisi serupa dapat terjadi di tanah air?

Guru Besar Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Prof. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si., menegaskan bahwa masyarakat perlu memahami fenomena tersebut secara utuh. Menurutnya, gelombang panas (heatwave) yang terjadi di Eropa tidak dapat disamakan dengan kondisi cuaca panas yang dirasakan Indonesia, meskipun keduanya sama-sama dipengaruhi oleh perubahan iklim global.

“Heatwave di Eropa merupakan hasil interaksi berbagai faktor atmosfer, geografis, dan perubahan iklim. Fenomena ini berbeda dengan El Niño yang merupakan interaksi antara laut dan atmosfer di Samudra Pasifik. Namun, pemanasan global membuat peluang terjadinya suhu ekstrem menjadi semakin besar di berbagai belahan dunia,” jelasnya Senin, (6/7/2026).

Ia menerangkan, meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia telah menaikkan suhu rata-rata bumi. Ketika kondisi atmosfer tertentu terjadi, seperti sistem tekanan tinggi yang bertahan lama di Eropa, suhu udara dapat melonjak jauh di atas kondisi normal selama beberapa hari berturut-turut.

Selain perubahan iklim, terdapat sejumlah faktor geografis yang memperburuk gelombang panas di kawasan tersebut, mulai dari fenomena blocking high pressure, kekeringan tanah, meningkatnya suhu permukaan Laut Mediterania, hingga fenomena Urban Heat Island atau pulau panas perkotaan akibat dominasi beton, aspal, dan minimnya ruang hijau.

Meski demikian, Kuswaji menegaskan Indonesia memiliki karakter iklim tropis yang berbeda dengan negara-negara subtropis sehingga kecil kemungkinan mengalami heatwave dengan karakter yang sama seperti Eropa.

“Yang lebih mungkin terjadi di Indonesia adalah meningkatnya jumlah hari dengan suhu maksimum tinggi, indeks panas yang semakin besar karena kelembapan udara tinggi, serta meningkatnya risiko kekeringan ketika terjadi El Niño,” ujarnya.

Menurutnya, justru kombinasi suhu dan kelembapan yang tinggi membuat tekanan panas di Indonesia dapat terasa lebih berat dibandingkan wilayah yang udaranya kering. Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya melihat angka suhu udara, tetapi juga harus memperhatikan kelembapan, intensitas paparan matahari, dan lamanya aktivitas di luar ruangan.

Fenomena tersebut, lanjutnya, menjadi peringatan bahwa Indonesia perlu memperkuat strategi adaptasi terhadap perubahan iklim. Ia menilai pembangunan tidak lagi cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

Ia mencontohkan perkembangan kawasan perkotaan di Jawa Tengah, khususnya Solo Raya, yang terus mengalami alih fungsi lahan menjadi permukiman, kawasan perdagangan, industri, dan infrastruktur. Apabila pembangunan tersebut tidak diimbangi dengan penyediaan ruang terbuka hijau, maka suhu kawasan perkotaan akan semakin meningkat akibat efek pulau panas perkotaan.

“Permukaan yang didominasi beton dan aspal akan menyerap panas lebih besar dibandingkan lahan yang masih memiliki vegetasi. Akibatnya, suhu udara di pusat kota akan terasa lebih tinggi dibandingkan daerah yang masih memiliki banyak pepohonan,” katanya.

Ia menambahkan, dampak peningkatan suhu tidak hanya dirasakan dari sisi kenyamanan masyarakat, tetapi juga memengaruhi sektor pertanian, kesehatan, hingga kebutuhan energi.

Di sektor pertanian, meningkatnya suhu menyebabkan kebutuhan air tanaman bertambah dan memperbesar risiko penurunan produktivitas. Sementara di perkotaan, penggunaan pendingin ruangan yang semakin tinggi akan meningkatkan konsumsi energi.

Dari sisi kesehatan, kelompok rentan seperti lansia, balita, ibu hamil, pekerja lapangan, serta masyarakat dengan penyakit kronis menjadi pihak yang paling berisiko mengalami gangguan akibat tekanan panas.

Karena itu, Guru Besar UMS mendorong pemerintah memperkuat sistem peringatan dini terhadap suhu ekstrem sebagaimana peringatan banjir atau gempa. Informasi mengenai indeks panas dan risiko kesehatan akibat cuaca panas dinilai perlu disampaikan secara rutin kepada masyarakat.

Di sisi lain, ia menilai perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam meningkatkan literasi perubahan iklim sekaligus menghasilkan solusi berbasis riset.

Menurutnya, mahasiswa dapat berkontribusi melalui penelitian menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG), penginderaan jauh, maupun survei lapangan untuk memetakan kawasan pulau panas perkotaan, mengidentifikasi wilayah rentan terhadap suhu tinggi, hingga menyusun rekomendasi tata ruang yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Selain itu, berbagai kegiatan pengabdian masyarakat, Kuliah Kerja Nyata (KKN), hingga gerakan kampus hijau dapat menjadi sarana membangun kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga lingkungan.

“Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, tetapi sedang terjadi saat ini. Karena itu, respons yang diperlukan bukan sekadar mengurangi emisi, melainkan membangun ketahanan wilayah melalui tata ruang yang adaptif, pelestarian ruang hijau, penguatan sistem peringatan dini, dan peningkatan literasi iklim masyarakat,” tegasnya.

Kuswaji berharap momentum meningkatnya perhatian masyarakat terhadap gelombang panas dunia dapat menjadi titik balik untuk memperkuat kesadaran ekologis di Indonesia. Menurutnya, setiap pohon yang ditanam, ruang hijau yang dipertahankan, penelitian yang menghasilkan solusi, hingga perubahan perilaku masyarakat merupakan investasi penting dalam menghadapi tantangan iklim di masa depan.

“Heatwave di Eropa mungkin terjadi ribuan kilometer dari Indonesia, tetapi perubahan iklim tidak mengenal batas negara. Pelajarannya bukan menunggu suhu mencapai 45 derajat Celsius, melainkan mulai membangun kota yang lebih hijau, menjaga sumber daya alam, dan memperkuat kemampuan masyarakat untuk beradaptasi sejak hari ini,” pungkasnya.

Kontributor: Fika/Humas

Editor: Nurul Fahri

  • Penulis: Adi Kurnia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kader HW UMS Sukses Jalani Pelatihan Vertical Rescue Nasional di Cibubur

    Kader HW UMS Sukses Jalani Pelatihan Vertical Rescue Nasional di Cibubur

    • calendar_month Selasa, 10 Jun 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 53
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surakarta, 2 Juni 2025 — Hizbul Wathan Universitas Muhammadiyah Surakarta (HW UMS) kembali menegaskan komitmennya dalam pengembangan kapasitas kader melalui partisipasi aktif di ajang nasional. Kali ini, HW UMS mengirimkan empat kader terbaiknya untuk mengikuti Sekolah Vertical Rescue Indonesia (VRI) yang diselenggarakan di Cibubur, Jakarta Timur, pada 2–4 Juni 2025. Kegiatan ini merupakan forum […]

  • FAI UMS Edukasi Mahasiswa tentang Pencegahan Kekerasan dan Perlindungan Hukum di Kampus

    FAI UMS Edukasi Mahasiswa tentang Pencegahan Kekerasan dan Perlindungan Hukum di Kampus

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 71
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan talkshow layanan kemahasiswaan yang diikuti seluruh mahasiswa semester 2, Selasa (2/6), di Ruang Seminar Gedung Induk Siti Walidah UMS. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari bidang hukum, psikologi, dan layanan kemahasiswaan guna memberikan pemahaman terkait perlindungan mahasiswa, kesehatan mental, hingga berbagai layanan pendukung yang […]

  • Workshop Ketahanan Digital dalam Pendidikan Keluarga di Era Smart Society 5.0

    Workshop Ketahanan Digital dalam Pendidikan Keluarga di Era Smart Society 5.0

    • calendar_month Minggu, 4 Feb 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 179
    • 1Komentar

    KABARMUH.ID, Yogyakarta – Workshop “Ketahanan Digital dalam Pendidikan Keluarga di Era Smart Society 5.0” dilaksanakan pada 3 Februari 2024 di SD Muhammadiyah Prambanan Yogyakarta. Kegiatan ini diadakan oleh tim pengabdian masyarakat dari Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Peserta berasal dari wali siswa perwakilan dari masing-masing kelas 1 sampai dengan 6. Workshop ini dilatar belakangi adanya permasalahan […]

  • Lazismu Metro dan Payungi Cetak Penggerak Baru melalui Pelatihan Urban Farming dan Ruang Kreatif

    Lazismu Metro dan Payungi Cetak Penggerak Baru melalui Pelatihan Urban Farming dan Ruang Kreatif

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 56
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, METRO – Guna memperkuat kemandirian ekonomi berbasis komunitas, Lazismu Kota Metro berkolaborasi dengan Pesantren Wirausaha Payungi menggelar Pelatihan Penggerak Ruang Kreatif dan Urban Farming. Kegiatan ini berlangsung dan dipusatkan di kawasan Pesantren Wirausaha Payungi, Kota Metro. selama dua hari, Sabtu-Ahad 27–28 Desember 2025. Hal ini di ungkapkan H.Bekti Satriadi, selaku ketua LazisMu Kota Metro, […]

  • PDM Lampung Timur Gelar Baitul Arqam Usung Meneguhkan Komitmen, Memaksimalkan Peran Persyarikatan

    PDM Lampung Timur Gelar Baitul Arqam Usung Meneguhkan Komitmen, Memaksimalkan Peran Persyarikatan

    • calendar_month Jumat, 19 Sep 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 42
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, LAMPUNG – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lampung Timur menyelenggarakan Baitul Arqam Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Se-Lampung Timur Tahap 1 yang berlangsung pada Jum’at – Ahad, 19 – 21 September 2025 dengan tema “Meneguhkan Komitmen, Memaksimalkan Peran Persyarikatan”. Baitul Arqam diselenggarakan untuk memperkokoh komitmen kader Muhammadiyah dalam berjuang di jalan dakwah, sekaligus memaksimalkan peran pimpinan […]

  • FKIP UMS Gelar Pengajian, Kuatkan Spiritualitas dengan Meneladani Amalan Rasulullah

    FKIP UMS Gelar Pengajian, Kuatkan Spiritualitas dengan Meneladani Amalan Rasulullah

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 66
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Pengajian jelang UAS Semester Gasal, bertempat di Gedung Auditorium Moh. Djazman Kampus 1 UMS pada Selasa, (30/12). Dekan FKIP UMS, Prof. Dr. Anam Sutopo, M.Hum., mengawali sambutannya dengan menafsirkan makna 2 jari tangan yang dijadikan sebagai simbol identitas FIKP. “Ibu jari […]

expand_less