Eco Bhinneka Muhammadiyah Angkat Potensi Lokal dan Inovasi Komunitas di Muktamar Nasyiatul Aisyiyah

KABARMUH.ID, SURAKARTA — Eco Bhinneka Muhammadiyah menggelar talkshow bertajuk “Menggerakkan Potensi Lokal, Menguatkan Komunitas” dalam rangkaian Tanwir III dan Muktamar XV Nasyiatul Aisyiyah di Hotel Dwangsa Lorin, Surakarta, Kamis (6/8/2026). Sesi ini menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai bagaimana pengetahuan dan potensi lokal dapat dikembangkan menjadi kekuatan untuk mendorong perubahan sosial, lingkungan, dan ekonomi di tingkat komunitas.
Talkshow menghadirkan Yayum Kumai, Focal Point SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Yogyakarta, dan Zahrotul Janah, Focal Point SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi. Diskusi dipandu oleh Maydini Eka Rizki, Fasilitator Daerah Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi sekaligus Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Banyuwangi.
Yayum berbagi pengalaman penggalian pengetahuan lokal masyarakat di kawasan Karst Pracimantoro, Yogyakarta. Melalui riset partisipatif yang melibatkan warga dan anak muda, Eco Bhinneka Muhammadiyah Yogyakarta mendokumentasikan dan membangun cerita pengetahuan terhadap alam yang dikembangkan menjadi lebih saintifik. Menyetarakan kedudukan pengetahuan lokal masyarakat agar sejalan dengan dinamika alam. Pengetahuan warga juga dikembangkan sebagai bahan advokasi lingkungan dan mendorong kebijakan yang lebih berbasis pada kondisi serta kebutuhan masyarakat.
“Banyak teori tentang aktivitas industri terjadi salah satunya karena kesalahan kita dalam memahami bumi. Manusia diberi kelebihan berupa akal, namun di era modern ini melaju terlalu jauh sehingga lupa pada hal-hal sederhana dan menjadi gagap dan asing terhadap alam.” ujar Yayum dalam kegiatan diseminasi hasil kajian yang sebelumnya dilakukan Eco Bhinneka Muhammadiyah Yogyakarta.
Sementara itu, Zahrotul membagikan pengalaman pengembangan eco sociopreneurship berbasis buah naga di Banyuwangi. Melalui pendampingan masyarakat, potensi buah naga yang selama ini sebagian besar dijual sebagai komoditas segar dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah, salah satunya Selai Buah Naga “Osing Naga”.
Inisiatif tersebut selain mendorong peningkatan nilai ekonomi produk, juga membuka ruang keterlibatan perempuan dan anak muda. Perempuan mulai terlibat dalam pengembangan usaha dan pengambilan keputusan ekonomi, sementara anak muda mengambil peran dalam pemasaran digital, desain kemasan, dan promosi produk.
Pengembangan Osing Naga juga mengangkat pendekatan ekonomi sirkular dengan memanfaatkan kulit buah naga yang sebelumnya dianggap sebagai limbah. Inovasi tersebut kemudian memperoleh apresiasi melalui Kompetisi Inovasi Banyuwangi (KOINWANGI) 2026 dan Piagam Penghargaan Bupati Banyuwangi.
Menutup sesi, Maydini Eka Rizki menegaskan bahwa perubahan besar tidak selalu harus dimulai dari hal yang jauh, melainkan dari keberanian melihat kembali apa yang kita miliki, lalu menguatkannya dengan inovasi dan kolaborasi. Perempuan muda memiliki peran penting untuk menggerakkan potensi tersebut menjadi aksi yang berdampak bagi masyarakat dan lingkungan,” ujarnya.
Talkshow ini sekaligus memperkuat semangat tema Muktamar “Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan”, dengan menunjukkan peran perempuan muda dalam menjaga pengetahuan lokal, mengembangkan inovasi, membangun usaha, serta menggerakkan komunitas menuju kehidupan yang lebih adil dan berkelanjutan.
Editor: Muhammad Farhan



