Opini

Ikhtiar Dakwah IMM Saat Awal Mahasiswa Baru

Oleh: Moch. Muzaki, TKK DPD IMM Jatim

Masa awal menjadi mahasiswa adalah sebuah fase peralihan yang tidak sederhana. Seseorang yang sebelumnya berada dalam dunia sekolah, dengan pola kehidupan yang relatif terarah, tiba-tiba memasuki ruang baru bernama kampus. Ia bertemu dengan lingkungan yang lebih luas, karakter manusia yang lebih beragam, kebebasan yang lebih besar, tuntutan akademik yang lebih tinggi, sekaligus berbagai pilihan tentang masa depan.

Di titik inilah mahasiswa baru mulai mencari jawaban atas pertanyaan yang sering kali tidak terucapkan, “Saya ingin menjadi siapa? Saya ingin berkembang ke mana? Lingkungan seperti apa yang akan membentuk diri saya? Dan untuk apa sebenarnya saya kuliah?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa baru tidak hanya membutuhkan ruang kuliah. Mereka membutuhkan ruang tumbuh.

Di sinilah dakwah kampus memiliki posisi yang penting. Dakwah tidak semestinya dipahami hanya sebagai ceramah, kajian, atau aktivitas keagamaan formal. Dakwah adalah usaha menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan, dalam cara berpikir, bersikap, belajar, berorganisasi, berkarya, membangun relasi, menyelesaikan persoalan, hingga mempersiapkan masa depan.

Kampus merupakan ruang strategis untuk itu. Mahasiswa adalah kelompok intelektual yang sedang dibentuk menjadi calon pemimpin, profesional, pendidik, birokrat, pengusaha, ilmuwan, aktivis, maupun berbagai profesi lainnya. Karena itu, membangun kesadaran mahasiswa sejak awal berarti ikut menyiapkan wajah masyarakat pada masa depan.

Mahasiswa bukan sekadar pencari gelar, melainkan aktor perubahan yang mempunyai tanggung jawab intelektual dan moral. Dakwah kampus karenanya perlu hadir sebagai gerakan yang menghubungkan iman, ilmu, intelektualitas, kepedulian sosial, dan perubahan.

Mahasiswa Baru dan Kebutuhan Akan Ruang Tumbuh

Mahasiswa baru datang ke kampus dengan membawa latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang sudah aktif berorganisasi sejak sekolah, ada yang sama sekali belum pernah berorganisasi. Ada yang percaya diri, ada yang masih minder. Ada yang sudah mempunyai cita-cita yang jelas, ada pula yang masih mencari arah.

Mereka tidak bisa diperlakukan sebagai kelompok yang seragam. Karena itu, ikhtiar dakwah pada masa awal mahasiswa baru ialah menyusun strategi dengan mempertanyakan “Bagaimana kita bisa menjadi lingkungan pertama yang membantu mahasiswa baru menemukan potensi terbaik dirinya?”

Pertanyaan ini penting karena organisasi mahasiswa semestinya tidak hanya menjadi tempat berkumpul. Organisasi harus menjadi ruang belajar, ruang bertumbuh, ruang aktualisasi, sekaligus ruang pengabdian.

Dalam konteks inilah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) memiliki tawaran yang cukup kuat.

IMM bukan hanya menawarkan identitas organisasi, tetapi sebuah proses pembentukan diri. Mahasiswa dapat menemukan jati dirinya melalui interaksi, diskusi, pengalaman organisasi, perkaderan, kegiatan sosial, maupun proses menghadapi berbagai persoalan bersama.

Di IMM, mahasiswa belajar berbicara ketika sebelumnya mungkin takut menyampaikan pendapat. Belajar memimpin ketika sebelumnya hanya menjadi peserta. Belajar bekerja sama dengan orang yang berbeda karakter. Belajar mengelola kegiatan, mengatur waktu, menyusun gagasan, berkomunikasi, menyelesaikan konflik, dan mengambil keputusan.

Semua itu adalah skill kehidupan yang tidak selalu diperoleh secara langsung di ruang kuliah.

IMM sebagai Ruang Menemukan Jati Diri

Masa mahasiswa adalah masa pencarian identitas. Seseorang mulai menentukan nilai hidupnya, lingkungan pergaulannya, cara berpikirnya, bahkan mulai menyusun gambaran tentang masa depannya.

Maka, menemukan organisasi yang tepat pada fase ini dapat menjadi salah satu faktor penting dalam pembentukan karakter.

IMM dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal dirinya sendiri. Ia dapat mengetahui apakah dirinya mempunyai kemampuan komunikasi, kepemimpinan, menulis, riset, advokasi, kewirausahaan, pendidikan, sosial, maupun bidang lainnya. Ia diberi kesempatan mencoba, melakukan kesalahan, belajar, lalu mencoba kembali.

Dari proses tersebut lahir keberanian. Keberanian untuk berbicara, keberanian untuk berpikir, keberanian untuk berbeda, keberanian untuk mengambil tanggung jawab, dan yang lebih penting keberanian untuk bermanfaat bagi orang lain.

Karena itu, dakwah IMM kepada mahasiswa baru tidak cukup dengan mengatakan bahwa IMM adalah organisasi Islam. Mahasiswa perlu diperlihatkan bagaimana nilai Islam itu dapat menjadi kekuatan untuk membangun dirinya.

Dari Organisasi Menuju Prestasi dan Karir

Ada anggapan bahwa aktif berorganisasi akan mengganggu kuliah. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah apabila organisasi dijalankan tanpa manajemen waktu dan tanpa kesadaran akademik.

Namun, organisasi yang sehat justru dapat menjadi ruang pendukung prestasi akademik dan nonakademik.

Mahasiswa belajar mengatur prioritas. Belajar bekerja dalam target. Belajar mencari informasi. Belajar berdiskusi. Belajar menyusun tulisan. Belajar berpikitr kritis. Belajar berbicara di depan umum. Bahkan belajar membangun jejaring.

Semua pengalaman itu pada akhirnya dapat menjadi modal sosial dan profesional.

Perjalanan kader tidak berhenti di dalam organisasi. Kader justru diharapkan mampu menyebarkan nilai perjuangan ke berbagai bidang kehidupan. Kampus menjadi laboratorium awal untuk belajar sebelum kader terjun lebih luas ke masyarakat.

Maka, mahasiswa baru perlu diberi pemahaman bahwa ber-IMM bukan berarti menjauh dari masa depan profesional. Justru sebaliknya, IMM harus membantu mahasiswa mempersiapkan masa depannya.

Mahasiswa kedokteran dipersiapkan menjadi dokter profesional yang berintegritas. Mahasiswa pendidikan dipersiapkan menjadi pendidik yang memiliki kepedulian sosial. Mahasiswa hukum dipersiapkan menjadi insan hukum yang menjunjung keadilan. Mahasiswa ekonomi dipersiapkan menjadi profesional yang memiliki etika dan keberpihakan kepada kemaslahatan.

Begitu pula dengan berbagai disiplin ilmu lainnya. Karier tidak perlu dipertentangkan dengan dakwah.

Karier yang dibangun dengan ilmu, integritas, profesionalitas, dan orientasi pengabdian justru dapat menjadi bagian dari dakwah.

Inilah gagasan penting tentang karier sebagai ibadah dan diaspora kader, kader tidak selamanya berada di ruang organisasi, tetapi harus mampu membawa nilai-nilai kebaikan ke ruang profesi dan kehidupan masyarakat.

Maka, Bagaimana Cara Mengajak Mahasiswa Baru?

Di sinilah strategi dakwah diperlukan.

Dakwah tidak cukup hanya bermodal niat baik. Niat adalah fondasi, tetapi strategi adalah jalan untuk mewujudkannya.

Allah berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…”
QS. An-Nahl: 125

Ayat ini memberikan pelajaran bahwa cara berdakwah sama pentingnya dengan pesan yang disampaikan.

Maka, ada beberapa ikhtiar yang dapat dilakukan IMM dalam menghadapi masa awal mahasiswa baru.

1. Pemetaan Kader Baru

Langkah pertama adalah mengenali. Mahasiswa baru dapat dipetakan berdasarkan latar belakang, minat, karakter, kemampuan, aktivitas, kebutuhan, dan potensinya. Informasi dapat diperoleh melalui perkenalan, interaksi informal, kegiatan mahasiswa baru, media sosial, maupun pengamatan terhadap aktivitas mereka.

Namun pemetaan bukan berarti memberi label. Pemetaan adalah usaha untuk memahami pendekatan yang tepat.

Ada mahasiswa yang senang berdiskusi. Ada yang lebih nyaman melalui kegiatan sosial. Ada yang tertarik pada kepemimpinan. Ada yang tertarik pada akademik. Ada yang menyukai kegiatan kreatif.

Dakwah yang baik berusaha menemukan pintu masuk yang sesuai dengan karakter mad’u.

2. Mengajak dengan Hikmah dan Dialog yang Menggembirakan

Dakwah perlu menghadirkan suasana yang menggembirakan, bersahabat, dan manusiawi.

Dialog harus lebih banyak daripada ceramah satu arah. Dengarkan keresahan mereka. Dengarkan impian mereka. Dengarkan persoalan akademiknya, persoalan pergaulannya, bahkan kebingungannya tentang masa depan.

Dari sana dakwah menemukan relevansinya. Dakwah bukan memaksakan seseorang menjadi seperti yang kita inginkan.

Dakwah adalah menemani seseorang menemukan jalan kebaikan. Dakwah semestinya menghadirkan harapan, ketenangan, dan jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna.

3. Menggunakan Cara-Cara Kreatif

Generasi mahasiswa hari ini hidup dalam ekosistem digital. Maka dakwah tidak boleh berhenti di ruang kajian.

Konten media sosial, video pendek, desain kreatif, podcast, diskusi santai, kegiatan olahraga, forum intelektual, pengabdian masyarakat, kegiatan seni, hingga aktivitas kewirausahaan dapat menjadi pintu masuk dakwah.

Yang penting bukan sekadar ramai. Yang penting adalah nilai apa yang ditawarkan.

IMM perlu menunjukkan bahwa menjadi bagian dari organisasi berarti memperoleh pengalaman yang dapat membentuk diri.

4. Propaganda Kebaikan: Tawarkan Nilai, Bukan Sekadar Nama

Kata “propaganda” dalam konteks ini harus dimaknai sebagai penyebarluasan gagasan dan nilai-nilai kebaikan.

Jangan hanya mengatakan:
“Ayo masuk IMM.”
Tetapi tunjukkan:
“Di sini kamu bisa belajar.”, “Di sini kamu bisa berkembang.”, “Di sini kamu bisa menemukan teman seperjuangan.”, “Di sini kamu bisa melatih kemampuanmu.”, “Di sini kamu bisa belajar memahami masyarakat.”, “Di sini kamu bisa mempersiapkan masa depanmu.”
Dan yang paling penting:
“Di sini kita belajar menjadikan ilmu, organisasi, profesi, dan kehidupan sebagai jalan pengabdian kepada Allah.”

IMM sebagai organisasi kader memang memiliki orientasi pada kualitas kader, bukan semata-mata memperbesar jumlah anggota. Karena itu, proses mengajak mahasiswa baru harus diarahkan pada proses pembentukan, bukan sekadar perekrutan.

5. Pendekatan Keakraban

Pada akhirnya, banyak orang bergabung bukan karena sebuah poster.

Mereka bergabung karena pengalaman bersama manusia di dalamnya.

Seorang senior yang mau membantu mahasiswa baru ketika kesulitan mencari ruang kelas. Teman yang menemani mengerjakan tugas. Kakak tingkat yang memberikan informasi akademik. Teman diskusi yang mau mendengarkan. Kelompok yang menerima tanpa menghakimi.

Hal-hal sederhana seperti itu terkadang menjadi dakwah yang jauh lebih kuat daripada pidato panjang.

Karena manusia sering kali tertarik kepada nilai setelah terlebih dahulu merasakan ketulusan orang yang membawa nilai tersebut.

Tantangan Dakwah Tidak Sedikit

Ikhtiar dakwah tentu tidak selalu berjalan mulus. Ada mahasiswa yang malas berorganisasi, ada yang merasa organisasi tidak penting, ada yang hanya ingin fokus kuliah, ada yang sudah memiliki lingkungan pertemanan sendiri, ada pula persoalan internal organisasi yang justru membuat mahasiswa baru tidak tertarik.

Belum lagi tantangan eksternal berupa berbagai pandangan negatif, penolakan, kompetisi antarorganisasi, hingga propaganda yang berusaha menjauhkan mahasiswa dari organisasi tertentu.

Tetapi tantangan terbesar terkadang bukan berasal dari luar.

Tantangan terbesar justru bisa berasal dari dalam diri kader sendiri.

Ketika kader mulai kehilangan semangat, ketika organisasi hanya menjadi tempat mencari jabatan, ketika kader tidak mampu memberikan keteladanan, ketika kegiatan hanya ramai di awal tetapi tidak berkelanjutan.

Karena itu, dakwah tidak hanya membutuhkan strategi merekrut mahasiswa baru. Dakwah membutuhkan pembenahan internal organisasi.

Jika IMM ingin mengajak mahasiswa baru menjadi bagian dari perjuangan, maka kader IMM sendiri harus terlebih dahulu menunjukkan bahwa organisasi ini memang layak menjadi ruang bertumbuh.

Kesolidan Organisasi adalah Bagian dari Strategi Dakwah

Dakwah membutuhkan kekompakan. Strategi sehebat apa pun akan kehilangan daya apabila kadernya tidak solid.

Pembagian tugas harus jelas. Komunikasi harus baik. Senior dan junior harus saling bekerjasama dan memahami. Setiap kader harus memahami tujuan gerakan.

Organisasi juga harus mampu membangun budaya yang sehat. Tidak boleh ada ego kelompok yang berlebihan. Tidak boleh ada persaingan internal yang menghabiskan energi. Tidak boleh ada kader yang merasa bekerja sendirian.

Sebab dakwah adalah pekerjaan kolektif. Organisasi adalah alat perjuangan yang membutuhkan kerja sama, struktur, dan tujuan bersama. Dalam perspektif IMM, aktivitas organisasi dapat menjadi ibadah ketika dijalankan dengan niat pengabdian, amanah, keseriusan, dan tanggung jawab.

Sabar dalam Dakwah Bukan Berarti Pasif

Ada satu hal yang sering terlupakan dalam strategi dakwah: kesabaran.

Namun sabar bukan berarti menunggu tanpa melakukan apa-apa. Sabar dalam dakwah adalah kesanggupan untuk tetap menjalankan proses meskipun hasil belum terlihat.

Hari ini kita mengenalkan IMM kepada mahasiswa baru. Besok mungkin belum ada yang bergabung. Minggu depan mungkin masih sedikit. Bulan berikutnya mungkin ada yang datang lalu pergi.

Tetapi proses harus terus berjalan. Karena dakwah bukan proyek instan.

Kita tidak selalu mengetahui kapan sebuah pesan akan tumbuh menjadi kesadaran. Bisa jadi mahasiswa yang hari ini menolak justru beberapa tahun kemudian memahami nilai yang dahulu pernah kita sampaikan.

Maka tugas kader adalah mengikhtiarkan proses sebaik mungkin, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Allah.

Sabar berarti terus memperbaiki strategi. Sabar berarti tidak mudah menyerah. Sabar berarti mampu mengevaluasi kesalahan.
Sabar berarti tetap menjaga akhlak ketika menghadapi penolakan. Sabar berarti tetap bekerja ketika apresiasi belum datang.

Dan sabar berarti tetap yakin bahwa perjuangan yang dilakukan dengan niat karena Allah tidak pernah benar-benar sia-sia.

Dakwah IMM Harus Menawarkan Masa Depan

Pada akhirnya, mahasiswa baru tidak hanya membutuhkan ajakan untuk berorganisasi.

Mereka membutuhkan alasan mengapa organisasi itu penting bagi kehidupannya.

IMM harus mampu menawarkan sebuah visi tentang manusia seperti apa yang ingin dibentuk.

Bukan hanya mahasiswa yang aktif. Tetapi mahasiswa yang berilmu dan beriman.

Bukan hanya mahasiswa yang pandai berbicara. Tetapi mahasiswa yang mampu bekerja.

Bukan hanya mahasiswa yang kritis. Tetapi juga peduli.

Bukan hanya mahasiswa yang memiliki jaringan.
Tetapi mampu menggunakan jaringan itu untuk kebaikan.

Bukan hanya mahasiswa yang mengejar karier. Tetapi profesional yang menjadikan karier sebagai jalan pengabdian.

Bukan hanya kader yang kuat di dalam organisasi. Tetapi kader yang kelak mampu membawa nilai-nilai perjuangan ke berbagai ruang kehidupan.

Inilah hakikat diaspora kader. Keluar dari ruang organisasi untuk memberi manfaat di ruang kehidupan yang lebih luas.

Menjemput Mahasiswa Baru, Menjemput Masa Depan Dakwah

Masa penerimaan mahasiswa baru sesungguhnya bukan hanya musim perekrutan anggota. Ia adalah momentum dakwah.

Di sana ada ribuan anak muda yang sedang mencari arah. Ada yang sedang mencari teman. Ada yang ingin mengembangkan kemampuan. Ada yang ingin berprestasi. Ada yang ingin menjadi pemimpin. Ada yang ingin menemukan makna dari kehidupan perkuliahan.

Mereka adalah manusia-manusia yang sedang berada di persimpangan. Dan IMM memiliki kesempatan untuk hadir di persimpangan tersebut.

Bukan dengan paksaan, bukan dengan doktrinasi, bukan dengan merasa paling benar.

Tetapi dengan keteladanan, keakraban, gagasan, kreativitas, ilmu, dan pelayanan.

Sebab dakwah yang paling kuat sering kali bukan dakwah yang paling keras suaranya, tetapi dakwah yang paling terasa manfaatnya.

Maka ikhtiar dakwah IMM di masa awal mahasiswa baru harus dimulai dari kesadaran bahwa setiap mahasiswa adalah manusia yang memiliki potensi. Tugas kader bukan sekadar mengajak mereka masuk organisasi, tetapi membantu mereka menemukan potensi, mengembangkan kemampuan, membangun karakter, memperluas jaringan, meningkatkan prestasi, memiliki kepedulian sosial, berpikir kritis, dan pada akhirnya menemukan jalan pengabdian masing-masing.

IMM adalah ladang ibadah dan dakwah. Karena itu, setiap proses di dalamnya harus dikembalikan kepada niat pengabdian kepada Allah.

Karena itu, dakwah harus dilakukan dengan niat yang lurus, cara yang baik, strategi yang matang, organisasi yang solid, kreativitas yang terus berkembang, dan kesabaran yang panjang.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button