EMPOWER UMS, Ruang Dukungan Kesehatan Mental bagi Dosen dan Tendik
- account_circle Maysali
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 27
- comment 0 komentar
- print Cetak

EMPOWER UMS
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

EMPOWER UMS
KABARMUH.ID, SURAKARTA – Hari Kesehatan Mental Sedunia (World Mental Health Day) diperingati setiap 10 Oktober. Pada 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengangkat tema “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change” yang menekankan pentingnya mendengarkan pengalaman nyata dan menjadikan suara setiap individu sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih mendukung kesehatan mental.
Kampus merupakan ruang bersama bagi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan (tendik) yang memiliki pengalaman berbeda dalam menjalani kehidupan akademik, bekerja, berinteraksi, serta menghadapi berbagai tuntutan. Karena itu, perhatian terhadap kesehatan mental perlu menjangkau seluruh civitas academica, termasuk dosen dan tendik yang menjalankan peran penting dalam keberlangsungan institusi pendidikan.
Sebagai bentuk perhatian terhadap kesehatan mental dosen dan tendik, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Direktorat Sumber Daya Manusia dan Organisasi (DSDMO) menghadirkan EMPOWER (Employee Mental Health & Wellbeing Center), sebuah sistem skrining yang membantu mengenali kondisi psikologis sekaligus memberikan rekomendasi penanganan sesuai dengan hasil skrining. Kehadiran layanan ini berawal dari pertanyaan yang disampaikan dalam program DSDMO Menyapa mengenai tempat untuk memperoleh bantuan ketika dosen dan tendik membutuhkan konseling.
Kaur Pengembangan Organisasi Rohyan Al Hani, S.T., dari DSDMO menyebut awal mula tercetusnya ide EMPOWER. Dalam kegiatan DSDMO Menyapa, muncul pertanyaan mengenai fasilitas pendampingan kesehatan mental bagi dosen dan tendik. Saat mahasiswa telah memiliki Student Mental Health and Well-being Support (SMHWS), dosen dan tendik juga membutuhkan wadah untuk mengenali kondisi kesehatan mental mereka dan memperoleh arahan ketika menghadapi persoalan psikologis.
“Ketika waktu DSDMO Menyapa itu, ada yang menyampaikan terkait kondisi mental tendik dan juga dosen. Nah, bertanya seperti ini, kalau mahasiswa kan punya SMHWS. Kalau dosen tendik ke mana? karena belum ada wadah yang menangani itu gitu. Sehingganya kita bentuk EMPOWER untuk mengatasi masalah itu,” jelas Rohyan, Jumat (9/10/2026).
Melalui EMPOWER, dosen dan tendik dapat melakukan skrining awal untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi psikologis yang sedang dialami. Rohyan menerangkan, tidak semua persoalan kesehatan mental harus langsung ditangani oleh tenaga profesional. Dalam kondisi tertentu, seseorang mungkin hanya membutuhkan istirahat atau langkah penanganan sederhana lainnya.
Untuk mengakses layanan tersebut, dosen dan tendik dapat masuk menggunakan akun UMS melalui laman my.ums.ac.id. Setelah masuk, pengguna dapat memilih menu EMPOWER dan menjawab sejumlah pertanyaan skrining yang telah disediakan dalam sistem.
Pertanyaan yang tersedia berjumlah sekitar 40-50 butir dengan pilihan jawaban yang telah ditentukan. Pertanyaan tersebut mencakup sejumlah aspek, seperti kondisi kegelisahan dan interaksi dengan orang lain. Pengguna memilih jawaban yang paling sesuai dengan kondisinya, kemudian sistem mengolah jawaban tersebut untuk menghasilkan skor dan rekomendasi.
Rohyan menjelaskan, rekomendasi diberikan berdasarkan tingkat kondisi psikologis yang teridentifikasi melalui skrining. Apabila hasilnya menunjukkan kondisi yang masih tergolong ringan, sistem dapat memberikan arahan awal, seperti beristirahat atau melakukan langkah lain yang sesuai. Sementara itu, pengguna yang menunjukkan indikasi kondisi sedang hingga berat akan disarankan memperoleh bantuan profesional.

EMPOWER UMS
Sementara Yunita Ayu Ardhani, S.Psi., Kaur Asesmen dan Pembinaan SDM DSDMO menambahkan, tindak lanjut bagi pengguna yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut dilakukan melalui Biro Konsultasi dan Pemeriksaan Psikologi (BKPP) Fakultas Psikologi UMS. Layanan tersebut melibatkan psikolog untuk membantu dosen dan tendik memperoleh penanganan sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Kalau tadi seperti yang sudah disampaikan, misalkan di taraf tingkat hasilnya itu sudah sedang ataupun berat, itu baru langsung disarankan untuk ke BKPP,” ungkap Yunita Ayu.
Untuk memberikan rasa aman kepada pengguna, pendampingan tidak hanya melibatkan psikolog dari Fakultas Psikologi UMS, tetapi juga tenaga profesional dari mitra yang telah bekerja sama dengan BKPP. Langkah ini sekaligus menjadi upaya untuk membangun kepercayaan dosen dan tendik agar tidak ragu mencari bantuan ketika menghadapi persoalan kesehatan mental.
Dari sisi sosialisasi, EMPOWER telah diperkenalkan melalui program DSDMO Menyapa serta sejumlah seminar dan lokakarya. Yunita Ayu menyampaikan, beberapa dosen dan tendik telah memanfaatkan fitur tersebut setelah memperoleh informasi mengenai layanan yang tersedia.
Selain melalui sistem skrining, pendekatan personal juga menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi yang lebih terbuka. Dosen dan tendik dapat menyampaikan persoalan yang dihadapi melalui komunikasi langsung dengan pengelola DSDMO apabila belum nyaman menggunakan layanan EMPOWER.
Menurut Yunita Ayu, berbagai program yang dijalankan DSDMO merupakan bagian dari pendekatan yang lebih humanis untuk merangkul dosen dan tendik. Upaya tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kepercayaan sehingga mereka merasa lebih nyaman dalam menyampaikan persoalan yang dihadapi, baik terkait pekerjaan maupun kondisi pribadi.
“Harapannya kesehatan mental di sini juga sudah terjaga. Dan kita tidak harus menunggu untuk menjadi parah dulu kesehatan mentalnya, tapi kita sudah ada wadah, kita sudah punya ruang amannya gitu. Jadi harapannya semua bisa memanfaatkan ruang aman yang sudah tersedia ini dengan baik,” tutur Ayu.
Sementara itu, Rohyan berharap EMPOWER dapat menjadi salah satu instrumen untuk memahami kondisi kesehatan mental dosen dan tendik. Data pemanfaatan layanan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pengelola untuk mengidentifikasi kebutuhan pendampingan serta meningkatkan dukungan yang diberikan.
Ia menegaskan, rendahnya penggunaan layanan tidak serta-merta berarti bahwa seluruh dosen dan tendik mampu mengatasi persoalan secara mandiri. Oleh karena itu, sosialisasi perlu terus dilakukan agar keberadaan EMPOWER diketahui dan dapat dimanfaatkan ketika dibutuhkan. Efektivitas sistem dalam menjangkau kebutuhan pengguna juga perlu menjadi perhatian.
“EMPOWER ini sebenarnya kayak hampir sama kayak dana kesehatan ya. Ada, tapi kalau bisa jangan dipakai,” ujar Rohyan.
Melalui EMPOWER, UMS berharap tercipta lingkungan kerja yang semakin peduli terhadap kesehatan mental dosen dan tendik. Sejalan dengan semangat Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026, kehadiran layanan ini diharapkan menjadi salah satu ruang bagi pengalaman dan kebutuhan psikologis mereka untuk lebih diperhatikan, sekaligus mendorong upaya penanganan sejak dini sebelum persoalan berkembang menjadi lebih serius. (Maysali/Humas)
- Penulis: Maysali
- Editor: Annisa' Yasfa Azzahra