Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Dosen UMS Bahas Desain Ideal Sistem Pemilu untuk Perkuat Kualitas Demokrasi

Dosen UMS Bahas Desain Ideal Sistem Pemilu untuk Perkuat Kualitas Demokrasi

  • account_circle Nurul Fahri Friyanda
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 8
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KABARMUH.ID; SURAKARTA – Desain sistem pemilihan umum (pemilu) berperan penting dalam menentukan kualitas demokrasi, keterwakilan politik, dan efektivitas pemerintahan. Karena itu, pembaruan sistem pemilu perlu mempertimbangkan keadilan representasi, stabilitas politik, serta perlindungan hak konstitusional warga negara.

Hal tersebut menjadi salah satu pokok bahasan yang disampaikan Muhammad RM Fayasy Failaq, S.H., M.H., dari Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dalam Seminar Konstitusi yang diselenggarakan Komunitas Pemerhati Konstitusi (KPK), Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dalam pemaparannya, Fayasy menjelaskan bahwa sistem pemilu merupakan mekanisme untuk mengonversi perolehan suara menjadi kursi yang diperoleh partai politik dan kandidat. Desain tersebut tidak hanya berkaitan dengan teknis pemungutan suara, tetapi juga memengaruhi pola kompetisi partai politik dan pembentukan sistem kepartaian.

“Tiga variabel utama dalam desain sistem pemilu, yakni rumusan pemilu atau metode penghitungan suara menjadi kursi, struktur pemungutan suara yang mengatur teknis surat suara, serta besaran daerah pemilihan berdasarkan jumlah kursi yang diperebutkan,” ungkapnya, Sabtu, (10/10/2026).

Ketiga variabel tersebut, lanjutnya, memiliki implikasi terhadap keterwakilan politik. Sistem pluralitas atau mayoritas cenderung mendorong penyederhanaan jumlah partai, sedangkan sistem proporsional memberikan peluang keterwakilan yang lebih luas bagi partai politik, termasuk partai kecil dan menengah.

“Besaran daerah pemilihan dan penerapan ambang batas parlemen juga menjadi faktor yang memengaruhi jumlah partai yang memperoleh kursi. Daerah pemilihan dengan alokasi kursi lebih sedikit cenderung membatasi keterwakilan partai kecil, sedangkan alokasi kursi yang lebih banyak membuka peluang bagi beragam partai untuk masuk ke parlemen,” terang dosen FHIP UMS itu.

Lebih lanjut, Fayasy menekankan pentingnya mempertimbangkan berbagai kriteria dalam merancang sistem pemilu. Di antaranya adalah mewujudkan keterwakilan yang adil, memfasilitasi pemerintahan yang stabil dan efektif, mendorong akuntabilitas pemerintah dan wakil rakyat, serta memberikan kemudahan bagi pemilih.

“Desain pemilu juga perlu memperkuat institusi partai politik agar berkembang sebagai organisasi yang memiliki ideologi dan program kerja, bukan sekadar kendaraan bagi figur tertentu. Selain itu, sistem pemilu perlu menyediakan ruang bagi oposisi untuk menjalankan fungsi pengawasan terhadap kekuasaan,” tegasnya.

Pertimbangan lain mencakup kesesuaian sistem dengan kapasitas administrasi penyelenggara pemilu serta kepatuhan terhadap standar internasional, termasuk prinsip kesetaraan hak pilih, penyelenggaraan pemilu secara berkala, dan jaminan kebebasan serta kerahasiaan dalam memilih.

Dalam konteks Indonesia, desain sistem pemilu menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keberagaman kelompok sosial, politik, agama, dan budaya hingga tingginya ongkos politik, politik uang, persoalan demokratisasi partai, personalisasi politik, dinasti politik, serta hubungan antara sistem presidensial dan multipartai.

“Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa pembaruan sistem pemilu perlu dilakukan dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap kualitas demokrasi secara menyeluruh. Perubahan regulasi tidak cukup hanya berorientasi pada mekanisme pemilihan, tetapi juga perlu memperhatikan keterwakilan masyarakat, akuntabilitas politik, dan efektivitas pemerintahan,” tambahnya.

Dalam seminar tersebut, Fayasy juga memaparkan gagasan inverted election atau sistem pemilu terbalik sebagai salah satu alternatif yang dapat dikaji dalam pengembangan desain pemilu. Gagasan ini berangkat dari pendekatan pemilihan yang diawali dengan proses eliminasi kandidat sebelum pemilih menentukan pilihan akhir.

Dalam model tersebut, putaran pertama diarahkan untuk mengeliminasi kandidat, sedangkan putaran kedua digunakan untuk memilih kandidat terbaik sekaligus membangun legitimasi hasil pemilihan. Model ini juga mengenal tahapan penyaringan, mulai dari verifikasi partai peserta pemilu, proses internal partai, hingga pemilihan umum untuk eliminasi dan penentuan pilihan akhir.

Pendekatan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa masyarakat dapat memiliki kecenderungan lebih mudah mencapai kesepakatan mengenai kandidat yang dianggap paling tidak layak dibandingkan menentukan satu kandidat terbaik di antara sejumlah pilihan.

Meski demikian, penerapan sistem pemilu terbalik memiliki tantangan, terutama berkaitan dengan biaya operasional yang harus ditanggung penyelenggara maupun peserta pemilu. Karena itu, gagasan tersebut memerlukan kajian lebih lanjut dari sisi hukum, teknis penyelenggaraan, dan dampaknya terhadap perilaku pemilih.

Seminar Konstitusi yang diselenggarakan pada pada 3 Oktober 2026 tersebut merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-14 Komunitas Pemerhati Konstitusi UIN Sunan Kalijaga. Kegiatan ini mengangkat tema “Menjaga Integritas Demokrasi melalui Hukum Acara Mahkamah Konstitusi dalam Penyelesaian Perselisihan Hasil Pemilu” dan menjadi ruang diskusi mengenai desain sistem pemilu serta perkembangan hukum ketatanegaraan Indonesia.

Kontributor: Fika/Humas

Editor: Nurul Fahri

  • Penulis: Nurul Fahri Friyanda

Rekomendasi Untuk Anda

  • Arifin Suparman: Muballigh Muhammadiyah Harus Berkarakter, Beretika, dan Beridentitas

    Arifin Suparman: Muballigh Muhammadiyah Harus Berkarakter, Beretika, dan Beridentitas

    • calendar_month Senin, 27 Okt 2025
    • account_circle Redaksi Kabarmuh
    • visibility 60
    • 0Komentar

    Babulu, PPU – Suasana aula SMK Muhammadiyah Babulu, Ahad (26/10/2025), terasa hidup ketika Ketua Majelis Tabligh PWM Kalimantan Timur, Ustadz Arifin Suparman, yang akrab disapa Babe Arifin, memaparkan materi bertajuk “Profil dan Bekal Mubaligh Muhammadiyah.” Dalam paparannya, ia menekankan bahwa muballigh Muhammadiyah bukan sekadar penyampai dakwah, tetapi representasi dari wajah Islam berkemajuan. “Mubaligh itu bukan […]

  • Dari Memaknai Islam Hingga Nikmat ber-Islam

    Dari Memaknai Islam Hingga Nikmat ber-Islam

    • calendar_month Sabtu, 27 Jan 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 231
    • 0Komentar

    Oleh: A. Mumtaz Murtadha NB Kader IMM Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS Islam di Indonesia Tentu semua orang di negara ini telah mengetahui apa itu islam? Apa lagi islam di Indonesia itu sendiri? Karena seperti yang telah dikenal bahwa Indonesia merupakan negara nomor satu yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Tetapi biasanya sedikit sekali orang yang […]

  • Selamat Jalan Ir Mohammad Nadjikh

    Selamat Jalan Ir Mohammad Nadjikh

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2020
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 1.287
    • 1Komentar

    “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185). “Semoga amal dan Ibadah Pak Najikh diterima Allah SWT. Dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.” KABARMUH.COM – CEO PT Kelola Mina Laut, Ir Mohammad Nadjikh (57) meninggal dunia, Jumat (17/4/2020) pukul 10.05 WIB. Mohammad Nadjikh dilahirkan di Gresik, 8 Juni 1962. Munarjo, ayahnya, […]

  • Upgrading Pimpinan HW UMS 2025: Membangun Karakter Pemimpin, Komunikasi Efektif, dan Manajemen Berintegritas

    Upgrading Pimpinan HW UMS 2025: Membangun Karakter Pemimpin, Komunikasi Efektif, dan Manajemen Berintegritas

    • calendar_month Jumat, 24 Jan 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 96
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Sukoharjo – Dalam rangka memperkuat kualitas kepemimpinan di berbagai aspek, Hizbul Wathan Kafilah Penuntun Moh Djazman Universitas Muhammadiyah Surakarta mengadakan kegiatan Upgrading Pimpinan 2025 yang dilaksanakan di Ruang Meeting Besar pada Sabtu, (18/01/25) Acara ini diikuti oleh jajaran pimpinan HW UMS 2025 dari seluruh Divisi Dan BKM. Kegiatan ini menghadirkan tiga pemateri utama dengan […]

  • Dari Pra-Modern ke Modern: Pesan Kritis Dr. Hamim Ilyas di Studium General Pondok Shabran UMS

    Dari Pra-Modern ke Modern: Pesan Kritis Dr. Hamim Ilyas di Studium General Pondok Shabran UMS

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 52
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surakarta – Pondok Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Studium General Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 dengan tema “Wawasan Wasathiyah dan Ijtihad Maqasidi dalam Manhaj Tarjih: Ikhtiar Mewujudkan Islam yang Inklusif, Substantif, dan Responsif terhadap Tantangan Kehidupan Modern”, Ahad (1/2/2026). Kegiatan ini digelar di Gedung Pascasarjana Lantai 5 UMS dan diikuti oleh seluruh mahasantri […]

  • Hadiri Pembukaan Turnamen Nasional 1 Tapak Suci UMS: PP TS Berikan Wejangan untuk para Atlet

    Hadiri Pembukaan Turnamen Nasional 1 Tapak Suci UMS: PP TS Berikan Wejangan untuk para Atlet

    • calendar_month Selasa, 28 Jan 2025
    • account_circle Najihus Salam
    • visibility 136
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surakarta – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjadi saksi terciptanya sejarah baru dengan dibukanya Turnamen Nasional 1 Tapak Suci (TS) pada 27 Januari 2025. Acara ini dihelat di Gedung Edutorium Ahmad Dahlan UMS dan akan berlangsung selama empat hari hingga 30 Januari 2025. Dengan melibatkan lebih dari 1.000 atlet dari seluruh penjuru Indonesia, turnamen ini […]

expand_less