Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Sistem Pendidikan menurut Paulo Freire dan Kaitannya dengan Indonesia

Sistem Pendidikan menurut Paulo Freire dan Kaitannya dengan Indonesia

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Rabu, 13 Apr 2022
  • visibility 1.219
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Luthfia Anisa’ (202110230311040)

Pada era ini pendidikan merupakan komponen penting dalam hidup. Pendidikan merupakan jembatan bagi kalangan masyarakat yang ingin memutar nasib status sosialnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa seorang yang tidak memiliki fondasi pendidikan yang kuat kemungkinan akan mengalami kesulitan dalam menggapai status sosial yang dihormati masyarakat pada umumnya. Namun  hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat di Indonesia dan beberapa negara lainnya yang masih menganut sistem yang menindas para pelajar supaya sejalan dengan pendapat pengajar atau lebih banyak dikenal sebagai istilah pendidikan dehumanis. Hal tersebut sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh  seorang penulis buku dari Brasil bernama Paulo Freire, dia mengungkapkan bahwa pendidikan merupakan hal yang  penting dalam kehidupan manusia terutama agar  mengenal eksistensinya. Menurutnya pendidikan humanis yaitu pendidikan yang memanusiakan manusia sangat dibutuhkan karena sistem pendidikan  tersebut menempatkan manusia pada suatu objek, bukan subjek. Sistem pendidikan yang diciptakan oleh Freire merupakan sistem pendidikan yang membebaskan tanpa ada perbedaan starta sosial dan menciptakan sistem humanisme di dalamnya. Yang artinya kita sedang bergerak melawan sistem pendidikan dehumanisme. Sistem dehumanisme sendiri memosisikan seorang pengajar sebagai pemeran utama, sedangkan peserta didik harus menerima semua pendapat dari pengajar. seorang murid dan guru harus merasakan bagaimana menjadi subjek dan objek saat proses pembelajaran berlangsung. Freire juga mengungkapkan bahwa pembebasan kaum tertindas dalam hal pendidikan harus dibarengi dengan kesadaran dari kaum tertindas dan penindas, jika kaum tertindas tidak memiliki keinginan untuk berbicara dan atau bertindak dengan keadaan yang di alami akan mustahil jika sistem pendidikan yang bebas dapat terjadi.

Perjalanan Paulo Freire menjadi penggagas kebebasan dan humanisme pendidikan tidaklah suatu yang yang mudah. Freire sempat dipenjarakan karena mengkritik seorang cendekiawan asal Brasil yang menulis sebuah artikel yang terlalu condong kepada sistem pemerintahan di Eropa, dia berpikir bahwa pendidikan di Brasil masih tergolong kuno dan tidak ada pergerakan di dalamnya. Keterlibatan Freire dalam bidang pendidikan di mulai saat dia ditunjuk menjadi direktur Pelayanan Extension Kultural Universitas Recife untuk melaksanakan program kenal aksara dan setelah itu ia mulai menulis buku-buku yang hingga sekarang masih dikenal oleh khalayak ramai, salah satu buku yang paling terkenal adalah buku yang berjudul Pedagogy of the Opressed atau yang lebih sering dikenal Pendidikan Kaum Tertindas. Pria kelahiran 19 September 1921 ini merupakan tokoh pendidikan yang sangat pemberani dan kontroversial, karena pada eranya dia berani menuntut sistem pendidikan yang telah mapan dalam masyarakat Brasil. Bagi dia, sistem pendidikan yang ada sama sekali tidak berpihak pada rakyat miskin yang tertindas namun sebaliknya justru mengasingkan dan menjadi alat penindasan oleh penguasa dan kaum penindas.

Jika ditelaah lebih dalam, sistem pendidikan di Brazil pada zaman perjuangan Freire tidak jauh berbeda dengan keadaan sistem pendidikan di Indonesia yang menganut sistem kurikulum lama, pada masa itu kita masih sering banyak menemui praktik-praktik penindasan dan ketidakbebasan saat menempuh pendidikan. Para pelajar SD hingga SMA dituntut agar unggul secara akademiknya saja dan hanya menerima materi dari para pengajar, tidak ada kesempatan bagi para pelajar untuk berpendapat dan mengutarakan pendapatnya, bahkan akan dianggap sebagai siswa yang tidak sopan jika menyanggah pendapat dari guru. Menurut teori dari Freire, pada sistem pendidikan kurikulum lama, pelajar diibaratkan sebagai ‘sistem bank’ yang tugasnya hanya menampung ilmu serta pengetahuan dari guru atau pengajar tanpa adanya kesempatan untuk bertukar pikiran di antara keduanya.

Tidak adanya diskusi dan dialog antara pengajar dan pelajarlah yang menjadi kesalahan cukup fatal pada sistem ini. Freire mengungkapkan bahwa praksis mendasari konsep dialog dalam pendidikan. Dialog adalah kebutuhan eksistensial manusia. Menurut Freire dialog merupakan  aksi dan refleksi, maka dialog bukan sekedar memindahkan ide/pendapat kepada orang lain, bukan pula sebuah perdebatan. Dialog sendiri menurut Freire merupakan suatu  upaya yang dilakukan dengan sabar dan telaten untuk mencapai   hubungan horizontal yang baik dan sikap saling percaya di antara para pelaku dialog (pengajar dan pelajar). Tentunya harus dibarengi dengan pemikiran kritis dan logis saat berdialog. Karena dengan melibatkan pemikiran kritis, dialog mampu mempertontonkan hubungan antara dunia dan manusianya, serta diharapkan tidak ada praktik dikotomi di dalamnya. Para pelaku dialog yang kritis memahami bahwa realitas adalah proses dan perubahan berkelanjutan, setiap pemikiran tidak terlepas dari aksi, dan setiap hubungan aksi dan pemikiran mampu menghancurkan penindasan dan menciptakan sistem pendidikan baru yang lebih mengedepankan humanisme.  Realitasnya pendapat dan pemikiran Paulo Freire memang benar adanya, walaupun tidak dapat  dijadikan acuan, namun pada era ini praktik penindasan dan dehumanisme dapat berdampak cukup buruk terhadap karakter anak bangsa.

Pada tahun 2013 pemerintah mengganti sistem kurikulum lama ke kurikulum baru yang lebih modern dan kreatif, meskipun sistem ini masih jauh berbeda dengan pendapat Freire, setidaknya hal tersebut akan membantu. Dengan harapan bahwa setelah perombakan kurikulum Pada sistem kurikulum ini, pelajar diajak untuk lebih berpikir kritis serta tidak hanya mengandalkan pemaparan materi dari pengajar atau guru. Walaupun begitu usaha pemerintah tidak berjalan sesuai dengan rencana, seperti benang kusut, masalah ini tidak kunjung menemukan ujungnya. Saat pertama kalinya kurikulum baru diterapkan banyak terjadi polemik dari pelajar dan orang tua, mereka menilai bahwa sistem ini hanya merugikan para pelajar secara finansial lantaran uang gedung yang di bayarkan tidak sepadan dengan jasa yang diberikan lembaga pendidik. Seperti yang diungkapkan oleh Paulo Freire bahwa pembebasan serta humanisme sistem pendidikan akan terlaksana jika dialogik  berlawanan dengan anti-dialogik. Tindakan dialogik berarti sikap yang menunjukkan kerja sama, yang artinya sangat diperlukan kesatuan antara pemimpin dengan masyarakat untuk mencapai sistem pendidikan yang bebas dan humanisme. Sangat mustahil jika kaum tertindas akan bebas hanya dengan penekanan atau pemaksaan dari pemimpin. Sedangkan sikap anti-dialogik ditunjukkan dengan penyesuaian diri, akibatnya tidak ada perubahan di dalamnya dan tenggelam dalam tindasan dan ketidakbebasan.

Pada hakikatnya pendapat Paulo Freire mengenai sistem pendidikan serta pemikiran cemerlangnya mengenai pembaharuan sistem pendidikan memang berhubungan dengan persentase kemajuan pola pikir manusia di seluruh belahan dunia, teori dan pendapatnya menguraikan dengan cara apa manusia pendidikan menjadikan manusia lebih bebas, eksis, dan berpengaruh ke dunianya sendiri. Namun pendapat yang Freire ungkapkan tidak serta merta dapat ditelan mentah-mentah, masih banyak dari beberapa halyang harus disesuaikan dengan keadaan, kebiasaan dan jati diri bangsa, tidak semua negara dapat menerapkan. Dari semua paparan mengenai perjalanan karier Paulo Freire di bidang pendidikan kita dapat mengambil makna bahwa memiliki pemikiran yang berbeda dengan mayoritas masyarakat di zamannya bukanlah suatu kejahatan, lakukanlah selagi hal tersebut memiliki dampak positif.  Namun perlu digaris bawahi kembali, bahwa tidak semua pemikiran dari Paulo Freire dapat di contoh dan diterapkan sebagai  acuan sistem pendidikan  ke beberapa negara, tentunya hal tersebut harus disesuaikan dengan culture, kebiasaan dan jati diri bangsa tersebut, selain itu penulis kurang setuju dengan sikap Freire yang mengkritik seorang cendekiawan, karena artikelnya yang membahas bangsa Eropa. Sikap tersebut kiranya kurang baik, selagi sistem pendidikan dari negara lain itu baik dan sesuai dengan jati diri bangsa, sah-sah saja jika diterapkan bahkan dijadikan acuan sebagai sistem pendidikan.

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sinergitas Saudara, Atlet Kembar UMS Raih Medali Emas The First Muhammadiyah Games Cabor Pencak Silat

    Sinergitas Saudara, Atlet Kembar UMS Raih Medali Emas The First Muhammadiyah Games Cabor Pencak Silat

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 13
    • 0Komentar

    KABARMUH,ID. SURAKARTA – Penampilan fantastis Dika Dwi Pratama Putra dan Diky Tri Nugroho Putro, sukses mengantar atlet berdarah kembar asal kontingen Tapak Suci (TS) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) meraih medali emas di ajang The First Muhammadiyah Games Cabang Olahraga (Cabor) Pencak Silat kategori Seni Ganda Putra. Dika dan Diky-sapaan akrabnya merupakan mahasiswa Prodi Pendidikan Jasmani […]

  • The Ozwin Casino Ecosystem: What It Offers Gamers

    The Ozwin Casino Ecosystem: What It Offers Gamers

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 22
    • 0Komentar

    The Ozwin Casino is rapidly making its mark in the iGaming industry with a robust ecosystem designed specifically for gamers. Its rich offerings, combined with a user-friendly interface, make it a captivating choice for both new and seasoned players alike. This article delves into the core aspects of the Ozwin Casino ecosystem, highlighting what it […]

  • Dai Digital, Pengendali Arus Baru dalam Dakwah Muhammadiyah

    Dai Digital, Pengendali Arus Baru dalam Dakwah Muhammadiyah

    • calendar_month Sabtu, 21 Jun 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 19
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Jakarta — Dalam menghadapi era digital yang terus bergerak cepat, Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyelenggarakan Akademi Dai Digital Muhammadiyah bertajuk “Dakwah Transformatif di Era Digital”. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Sabtu–Ahad, 21–22 Juni 2025, di Aula Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. H. Sa’ad Ibrahim, M.A., […]

  • Frequent Blunders When Controlling Your Casino Bankroll

    Frequent Blunders When Controlling Your Casino Bankroll

    • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 10
    • 0Komentar

    We see it repeatedly at 1bet Casino bonus: a player joins, claims a welcome offer, and jumps into the slots or live tables with real excitement. Within an hour, the balance reaches zero, not because the games were unfair, but because no clear spending plan was in place. Controlling a casino bankroll is a skill […]

  • 8 Pengajian Selapanan serentak, Muhammadiyah Banyumas Kukuhkan 2 PRM dan Resmikan 1 Asrama Santri serta 3 Masjid

    8 Pengajian Selapanan serentak, Muhammadiyah Banyumas Kukuhkan 2 PRM dan Resmikan 1 Asrama Santri serta 3 Masjid

    • calendar_month Kamis, 16 Jul 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 26
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, BANYUMAS – Sebanyak 8 Pimpinan Cabang Muhammadiyah di Kabupaten Banyumas menggelar Pengajian Selapanan yang dilaksanakan serentak pada Ahad, 12 Juli 2026. Kegiatan ini dirangkai dengan peresmian 3 masjid, yaitu Masjid Assalam PCM Baturraden, Masjid Ibrahim al-Aziz PCM Sumbang, dan Masjid Zubair bin Awwam PCM Wangon, peresmian Asrama Santri PPM Ar-Raudhoh Wangon, pengukuhan PRM Karangreja […]

  • Merawat Literasi di Tengah Arus Transformasi

    Merawat Literasi di Tengah Arus Transformasi

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 34
    • 0Komentar

    Oleh: Anqiya Zaki Mushoddiq (Mahasiswa Baru Prodi Ilmu Qur’an & Tafsir UMS) Literasi yang Mulai Dikesampingkan Mengetahui kabar tentang perpustakaan sekolah yang dirobohkan untuk pembangunan koperasi, lalu disusul dengan berita pemangkasan anggaran Perpustakaan Nasional yang berdampak pada terhentinya distribusi buku ke berbagai daerah, membuat saya merenung. Mungkin kedua peristiwa tersebut lahir dari pertimbangan dan konteks […]

expand_less