Muhammadiyah Zakat Summit 2026 Paparkan Potensi ZISWAF Capai Rp343 Triliun LAZISMU di Lampung Didorong Lebih Progresif
- account_circle Nurul Fahri Friyanda
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 13
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID; SEMARANG – Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (LAZISMU) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyelenggarakan perhelatan akbar bertajuk Muhammadiyah Zakat Summit (MZS) di Semarang, Jawa Tengah. Kegiatan yang berlangsung sejak 2 hingga 9 November 2026 ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat tata kelola filantropi Islam di Indonesia.
Rangkaian acara MZS ini mencakup sejumlah agenda utama, di antaranya Sekolah Amil, Sertifikasi Amil, Simposium, dan akan dipuncaki dengan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) LAZISMU.
Khusus pada agenda simposium yang dihadiri oleh perwakilan pengurus LAZISMU dari seluruh Indonesia, acara menghadirkan narasumber Prof. Burhanuddin Muhtadi. Ia memaparkan hasil riset terbarunya mengenai peta filantropi di Indonesia yang menunjukkan angka fantastis.
Dalam paparannya, Prof. Burhanuddin mengungkapkan bahwa total donasi Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) di Indonesia selama setahun terakhir mencapai Rp343 triliun. Dari nilai tersebut, dua pertiga di antaranya berasal dari infak dan sedekah. Sementara itu, porsi zakat, wakaf, dan kurban hanya mencakup sepertiga atau sekitar 36 persen. Secara rincian, dana tersebut terbagi menjadi kurban (15,2%), wakaf (9,8%), zakat mal (7,9%), dan zakat fitrah (2,5%).
Riset ini juga membedah demografi para penderma. Temuan menarik menunjukkan bahwa donasi ZISWAF paling banyak diberikan oleh Generasi X sebesar 33,2 persen, disusul kaum Milenial sebesar 32,2 persen. Sementara itu, kaum Gen Z menyumbang 17,7 persen dan kelompok Baby Boomers sebesar 16,7 persen.
Lebih lanjut, Prof. Burhanuddin memaparkan preferensi penyaluran donasi di tengah masyarakat. Berdasarkan survei, para dermawan menginginkan agar dana mereka difokuskan pada program pengentasan kemiskinan (23,9%) dan pendidikan (21,5%). Diikuti oleh bantuan kemanusiaan (17,3%), dakwah (17,3%), pemberdayaan ekonomi (7,4%), dan pelayanan kesehatan (7,0%).
Di akhir paparannya, ditekankan pula sebuah temuan evaluatif bagi lembaga zakat formal. Rendahnya penyaluran derma masyarakat melalui lembaga formal seperti LAZISMU ternyata bukan disebabkan oleh krisis kepercayaan terhadap amil. Faktor utamanya adalah kurangnya popularitas lembaga di mata publik. Diketahui, LAZISMU baru dikenal oleh sekitar 29 persen responden dibandingkan dengan lembaga amil lainnya. Oleh karena itu, para amil LAZISMU didorong untuk mampu mengenalkan dan menyosialisasikan keberadaan lembaga secara lebih masif ke tengah masyarakat.
Merespons hasil riset tersebut, angka dan tren demografi penyumbang yang didominasi Gen X dan Milenial ini harus menjadi pemantik bagi penggerak filantropi di daerah, utamanya LAZISMU wilayah Lampung. Amil di Lampung dituntut untuk tampil lebih progresif dan inovatif. Tidak lagi sekadar konvensional, gerakan zakat di Lampung perlu mengadopsi kampanye digital yang kreatif guna menjaring segmen Milenial dan Gen Z, serta mendesain program unggulan yang secara nyata menjawab kebutuhan pengentasan kemiskinan dan pendidikan. Membangun kesadaran publik secara masif, agar potensi ekonomi umat di Lampung tidak lagi mengendap di saluran informal, melainkan terkelola profesional berdampak besar.
Kontributor: pri
Editor: Nurul Fahri
- Penulis: Nurul Fahri Friyanda
