Silaturahmi Akbar 12.500 Guru Muhammadiyah Jateng Perkuat Pendidikan Menuju Indonesia Emas
- account_circle Irsyad Hakim Affandi
- calendar_month 44 menit yang lalu
- visibility 26
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID, SURAKARTA – Sebanyak 12.500 guru Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Jawa Tengah menghadiri Silaturahmi Akbar Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Jawa Tengah di Edutorium KH. Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (7/11/2026). Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat profesionalisme, kesejahteraan, dan peran guru dalam mencerahkan peradaban.
Mengusung tema “Guru Muhammadiyah: Profesional, Sejahtera”, kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga menjelang Zuhur tersebut dihadiri sejumlah tokoh pendidikan dan Muhammadiyah. Di antaranya Prof. Din Syamsuddin, M.A., Ph.D. sebagai narasumber utama, Dirjen GTK Kemendikdasmen Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Ketua PP FGM, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jawa Tengah, serta perwakilan Kemendikdasmen dan Kemenag Jawa Tengah.
Ketua Panitia sekaligus Ketua FGM Jawa Tengah, Bambang Kusmiyanto, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada UMS yang telah menjadi tuan rumah dengan dukungan fasilitas yang diperkirakan mencapai Rp140 juta. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum bagi guru Muhammadiyah untuk mengambil peran dalam menyongsong Indonesia Emas.

“Forum ini adalah momentum menuju Indonesia Emas, di mana guru Muhammadiyah harus menjadi penggerak utama mencerahkan semesta,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., mendorong para guru Muhammadiyah untuk mengembangkan lima daya, yakni daya panggil, daya juang, daya saing, daya inovasi tiada henti, dan daya beli. Ia juga menawarkan beasiswa sebesar 50 persen bagi guru Muhammadiyah yang ingin melanjutkan pendidikan jenjang magister (S2) dan doktor (S3) di UMS.
Harun turut mengingatkan pentingnya kemampuan guru dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurutnya, guru harus terus berinovasi agar tetap menjadi sumber pengetahuan dan rujukan bagi peserta didik.
“Jangan sampai anak-anak kita lebih percaya kepada AI daripada kepada gurunya karena gurunya tidak punya daya inovasi tiada henti,” tegasnya.
Ketua PP FGM Sutomo, M.Ag., menyebut November 2026 sebagai momentum istimewa untuk meneguhkan kembali jati diri guru Muhammadiyah yang profesional dan sejahtera. Ia mengapresiasi antusiasme ribuan guru yang hadir sebagai bukti kuatnya solidaritas dan semangat perjuangan dalam dunia pendidikan.
“Kehadiran Panjenengan semua adalah bukti bahwa guru Muhammadiyah itu solid, militan, dan siap menjadi agen peradaban menuju Indonesia Emas,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Didik Suhardi, Ph.D., menegaskan bahwa FGM memiliki peran strategis dalam mendukung pengembangan pendidikan Muhammadiyah. Peran tersebut diwujudkan melalui keterlibatan FGM dalam penyusunan kurikulum dan buku pembelajaran.
Sejumlah produk pembelajaran yang dikembangkan di antaranya buku MIPA bilingual sejak 2025, serta buku IPS bilingual bahasa Inggris dan buku bahasa Inggris bilingual bahasa Mandarin pada 2026. Selain itu, FGM juga tengah menyiapkan Muhammadiyah Training Center (MTC) sebagai pusat peningkatan kompetensi guru Muhammadiyah.
Dukungan terhadap pengembangan kualitas guru Muhammadiyah juga disampaikan Dirjen GTK Kemendikdasmen, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. Ia mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut dan mendorong penguatan kerja sama antara pemerintah dan penyelenggara pendidikan swasta.
“Ada beberapa hal yang dapat kita gotong royongkan, salah satunya adalah peningkatan kualitas guru, khususnya seluruh guru Muhammadiyah, serta hal-hal yang berkaitan dengan kesejahteraan guru,” ungkapnya.

Puncak kegiatan diisi dengan tausiyah inspiratif oleh Prof. KH. Din Syamsuddin, M.A., Ph.D. Dalam tausiyahnya, ia menegaskan bahwa guru merupakan pencerah umat yang harus memiliki kesiapan untuk menjadi pendidik yang siap jadi dan siap pakai.
Ia memperkenalkan konsep Prophetic Teaching yang menekankan pengembangan tiga aspek secara seimbang, yakni head (pikiran), heart (hati), dan hand (keterampilan). Menurutnya, seorang guru tidak cukup hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi juga harus mampu menerapkan metode pengajaran yang tepat.
Antusiasme mengikuti kegiatan tersebut juga dirasakan para peserta dari berbagai daerah. Perwakilan Guru Muhammadiyah Brebes, Faiz Hanani, S.Pd., M.M., mengungkapkan rasa syukurnya karena dapat menjadi bagian dari pertemuan besar tersebut. Sebanyak 100 guru Muhammadiyah dari Brebes turut hadir bersama ribuan guru lainnya.
“Alhamdulillah 100 Guru Muhammadiyah Brebes bisa ikut membersamai 12.500 guru Muhammadiyah se-Jateng. Kami pulang membawa lima daya: daya panggil, daya juang, daya saing, daya inovasi tiada henti, dan daya beli,” ungkap Kepala SMK Muhammadiyah Bumiayu tersebut.
Ia berharap pertemuan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu mendorong langkah nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Menurutnya, guru Muhammadiyah harus terus mengembangkan kemampuan agar mampu menghadapi perkembangan zaman, termasuk kemajuan teknologi AI.
“Jangan sampai silaturahmi ini hanya tepuk tangan dan foto bersama. Harus ada langkah nyata,” tegasnya.
Kesan mendalam juga disampaikan Naely Inayati, S.Pd.I., M.Pd., Kepala MIM Linggapura Tonjong. Ia menceritakan perjalanan rombongan guru Muhammadiyah Brebes yang berangkat dari Bumiayu menuju Surakarta pada malam hari demi mengikuti kegiatan tersebut.
“Hati kami ini bergetar. Ternyata kita tidak sendiri. Kita adalah bagian dari gerakan besar yang mencerahkan semesta,” tuturnya.
Menurut Naely, tugas guru tidak sebatas menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga menanamkan nilai-nilai adab, akhlak, dan hikmah kepada peserta didik.
Melalui Silaturahmi Akbar ini, FGM Jawa Tengah meneguhkan komitmen untuk memperkuat solidaritas, meningkatkan profesionalisme, serta memperjuangkan kesejahteraan guru. Lebih dari itu, guru Muhammadiyah diharapkan terus mengambil peran sebagai pendidik sekaligus pencerah peradaban di tengah berbagai tantangan pendidikan masa kini.
Penulis : Tarqum Aziz JurnalisMu
Editor : Irsyad Hakim Affandi
- Penulis: Irsyad Hakim Affandi
