Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Terlalu Ngefans Sama Artis Bisa Ganggu Kesehatan Mental? Ini Penjelasannya

Terlalu Ngefans Sama Artis Bisa Ganggu Kesehatan Mental? Ini Penjelasannya

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Kamis, 26 Jun 2025
  • visibility 121
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Ummu ‘Afifah, Mahasiswa Magister Sains Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Di era media sosial yang serba cepat ini, tak butuh waktu lama bagi seseorang untuk merasa “dekat” dengan selebritas idolanya. Hanya dengan membuka Instagram atau TikTok, kita bisa tahu artis favorit kita sedang makan apa, liburan ke mana, bahkan sedang curhat soal masalah pribadinya. Batas antara publik dan pribadi menjadi semakin kabur. Dalam sekejap, kekaguman pun berubah menjadi keterikatan emosional yang intens, seolah-olah mereka bagian dari hidup kita.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak dulu orang punya tokoh panutan atau idola. Tapi kini, dengan koneksi digital tanpa batas, hubungan itu terasa semakin nyata. Sayangnya, yang tampak seperti hal sepele ini bisa pelan-pelan menyusup ke ranah yang jauh lebih dalam: kesehatan mental.

Dari Kagum Menjadi Terlalu Terikat

Mengidolakan seseorang bisa menjadi sumber motivasi dan semangat. Namun, tidak sedikit orang yang tanpa sadar melangkah lebih jauh, melewati batas wajar. Perasaan suka itu berubah menjadi obsesi, yang dalam istilah psikologi dikenal sebagai celebrity worship. Bukan hanya sekadar mengagumi, tetapi merasa sangat terikat secara emosional, bahkan seolah-olah hidup mereka punya makna karena keberadaan sang idola.

Penelitian menunjukkan bahwa ada tiga tingkat intensitas celebrity worship. Di level terendah, seseorang hanya mengidolakan artis untuk hiburan. Namun, semakin dalam, mulai terbentuk ikatan emosional yang tidak rasional. Bahkan, pada tahap paling ekstrem, seseorang bisa merasa memiliki sang idola, atau bersedia melakukan hal-hal berisiko demi mereka.

Apa yang terlihat sebagai kekaguman biasa, sebenarnya bisa merusak banyak aspek dalam hidup seseorang, mulai dari cara memandang diri sendiri, hingga kehilangan arah hidup.

Pelarian dari Dunia Nyata

Bagi sebagian orang, mengikuti kehidupan artis bisa menjadi pelarian dari realitas yang keras. Ketika merasa kesepian, tertekan, atau tak puas dengan diri sendiri, dunia selebritas terasa seperti ruang pelipur lara. Tapi pelarian ini bukan solusi. Justru bisa memperburuk keadaan ketika kenyataan kembali menampar, karena tidak ada strategi coping yang benar-benar dibangun.

Layar kaca dan media sosial sering kali hanya menampilkan sisi terbaik dari kehidupan sang idola, tubuh ideal, wajah tanpa cela, rumah mewah, pasangan sempurna. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan. Mulai merasa tak cukup. Lama-kelamaan, identitas diri pun tergeser oleh ilusi yang kita ciptakan sendiri.

Hubungan yang Tak Pernah Seimbang

Ikatan antara penggemar dan selebritas adalah hubungan sepihak, atau dalam psikologi disebut parasosial relationship. Kita merasa dekat, mengenal, bahkan menyayangi mereka. Tapi sang idola? Tak tahu kita ada. Dan saat mereka melakukan sesuatu yang tak kita harapkan—menikah, berhenti berkarya, bahkan ganti gaya hidup—kita bisa merasa dikhianati, seolah kehilangan seseorang yang sangat berarti.

Ironisnya, hubungan semu ini bisa menyita banyak energi emosional. Waktu habis untuk stalking, begadang demi update terbaru, lupa tidur, lupa makan, bahkan menjauh dari orang-orang di sekitar yang nyata hadir dalam hidup.

Ketika Kesehatan Mental Mulai Terganggu

Psikologi mengenal konsep well-being atau kesejahteraan mental dan emosional. Carol Ryff, seorang psikolog terkenal, menyebut bahwa kesejahteraan sejati mencakup enam aspek penting: penerimaan diri, relasi sosial yang sehat, kemandirian, kemampuan mengontrol hidup, tujuan hidup yang jelas, dan pertumbuhan pribadi.

Sayangnya, pada banyak kasus celebrity worship yang berlebihan, semua aspek itu terganggu. Orang mulai kehilangan arah hidup karena terlalu sibuk mengikuti kehidupan orang lain. Mereka merasa rendah diri, menjauh dari hubungan sosial yang nyata, dan kehilangan kendali atas emosi—semuanya karena satu hal: hidup mereka terlalu bergantung pada eksistensi seseorang yang bahkan tidak mengenal mereka.

Penelitian pun membuktikan, penggemar fanatik selebritas cenderung lebih rentan mengalami kecemasan, depresi, dan kesepian. Mereka memiliki kepuasan hidup yang lebih rendah dan lebih sulit mengelola emosi secara sehat.

Mencintai Diri, Bukan Bayangan Orang Lain

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Langkah pertama adalah menyadari batas wajar. Mengidolakan itu boleh—bahkan sehat, selama tidak mengganggu kehidupan pribadi. Tanyakan pada diri sendiri: Apakah aku masih hidup untuk diriku sendiri, atau sudah terlalu larut dalam hidup orang lain?

Kita juga perlu mengingat bahwa artis adalah manusia biasa. Mereka punya luka, punya cacat, punya kekurangan yang tidak selalu tampak. Menyadari ini bisa membantu kita berhenti menaruh ekspektasi tak masuk akal.

Yang tak kalah penting adalah memperkuat hubungan nyata di dunia sekitar. Peluk kembali keluarga, sahabat, komunitas. Bangun kembali tujuan dan cita-cita hidup kita. Apa yang membuat kita bahagia? Apa yang membuat kita bangga akan diri sendiri?

Dan terakhir, batasi konsumsi media sosial. Jangan biarkan algoritma mengatur perasaan kita. Pilih konten yang membangun, bukan yang membuat kita merasa kecil.

Mengidolakan seseorang bisa jadi hal yang menyenangkan. Tapi jangan sampai kekaguman itu mengaburkan siapa diri kita sebenarnya. Sebab, pada akhirnya, hidup ini bukan tentang siapa yang kita idolakan, tapi tentang bagaimana kita menjalani hari-hari sebagai diri kita sendiri.

Kesehatan mental adalah hak semua orang. Jangan tukar ketenangan jiwa hanya demi ilusi kehidupan orang lain. Lebih baik menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri, daripada bayangan buram dari kehidupan orang lain.

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • UMS Dampingi MIM PK Tegalampel Kembangkan Branding dan Promosi Sekolah

    UMS Dampingi MIM PK Tegalampel Kembangkan Branding dan Promosi Sekolah

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 42
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Tim Pengabdian Masyarakat dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Workshop Pengembangan Branding dan Promosi di MIM PK Tegalampel. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat citra sekolah dan meningkatkan daya saing di tengah dinamika persaingan dunia pendidikan yang kian kompetitif. Workshop yang diikuti oleh 15 guru dan […]

  • Perkuat Jejaring Global, UMS Jajaki Kolaborasi Strategis dengan Universiti Kebangsaan Malaysia

    Perkuat Jejaring Global, UMS Jajaki Kolaborasi Strategis dengan Universiti Kebangsaan Malaysia

    • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 85
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID; SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus memperluas jejaring internasional sebagai bagian dari upaya mewujudkan visi menjadi perguruan tinggi berkelas dunia. Langkah tersebut diwujudkan melalui kunjungan benchmarking ke Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) yang berlangsung di Kampus Bangi, Malaysia. Delegasi UMS dipimpin langsung oleh Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., dan disambut hangat […]

  • Mahasiswa KKN MAS Kelompok 88 Menyerukan Gerakan Anti Bullying di SDN 07 Pinang Sebatang Barat

    Mahasiswa KKN MAS Kelompok 88 Menyerukan Gerakan Anti Bullying di SDN 07 Pinang Sebatang Barat

    • calendar_month Sabtu, 9 Agt 2025
    • account_circle Zulfan Falakhi
    • visibility 56
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SIAK – Dalam upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah Aisyiyah (KKN Mas) Kelompok 88 menggelar kampanye Gerakan Anti Bullying di SD Negeri 07 Pinang Sebatang Barat. Kegiatan ini menjadi salah satu program kerja unggulan kelompok, yang fokus pada pembentukan karakter positif dan penguatan nilai-nilai […]

  • Ustadz Agus Suwarto: Sabar dan Syukur Adalah Watak Kader Muhammadiyah yang Tangguh

    Ustadz Agus Suwarto: Sabar dan Syukur Adalah Watak Kader Muhammadiyah yang Tangguh

    • calendar_month Selasa, 21 Okt 2025
    • account_circle Redaksi Kabarmuh
    • visibility 63
    • 0Komentar

    Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Timur terus menggerakkan dakwah pencerahan hingga ke akar rumput. Salah satunya melalui kegiatan pengajian rutin Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sungai Pinang yang digelar di Masjid Al Ihsan 2 Samarinda pada Selasa (21/10/2025) malam. Pengajian yang menghadirkan Ustadz Agus Suwarto Edi, M.Sos — Wakil Ketua Majelis Tabligh PWM Kaltim […]

  • Bolehkah Kita Memaksa Allah dalam Doa? Mengurai Batas Antara Kesungguhan Meminta dan Sikap Mendikte Takdir

    Bolehkah Kita Memaksa Allah dalam Doa? Mengurai Batas Antara Kesungguhan Meminta dan Sikap Mendikte Takdir

    • calendar_month Selasa, 13 Okt 2026
    • account_circle Rohana Fathu Rohmah
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Pernahkah kita berada di satu fase di mana sebuah keinginan terasa begitu membakar dada? Pada titik itu, sajadah menjadi saksi bisu betapa malam-malam kita diisi dengan tangisan, puasa sunnah dijalankan tanpa putus, dan lembaran rupiah disedekahkan dengan harapan satu hajat segera terwujud. Namun, di tengah gemuruh ikhtiar spiritual itu, pernahkah terbesit pertanyaan di dalam hati: […]

  • Inovasi Lokal, Prestasi Global: Sampo Jeruk Nipis Anti Ketombe Karya Tim UMS Raih Silver Medal JISF 2026

    Inovasi Lokal, Prestasi Global: Sampo Jeruk Nipis Anti Ketombe Karya Tim UMS Raih Silver Medal JISF 2026

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 121
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Tingginya prevalensi gangguan kulit kepala akibat infeksi jamur di wilayah tropis mendorong kebutuhan akan produk perawatan rambut yang lebih aman dan berkelanjutan. Menjawab isu tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menghadirkan inovasi sampo antiketombe berbasis bahan alam yang berhasil meraih Silver Medal dalam ajang Jakarta International Science Fair 2026 yang […]

expand_less