BeritaInspirasiJateng

IMM Kota Semarang Gelar Webinar Green Qurban, Dorong Ibadah Kurban yang Ramah Lingkungan

KABARMUH.ID, SEMARANG — Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kota Semarang menggelar webinar online bertajuk “Green Qurban IMM Kota Semarang” pada Senin, 25 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung melalui Zoom tersebut mengangkat tema “Qurban Hijau, Bumi Terjaga, Umat Berkah” sebagai ikhtiar membangun kesadaran ekologis menjelang pelaksanaan Idul Adha.

Webinar ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Hening Parlan, Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah sekaligus Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, serta Dr. Muchammad Sobri, S.Pt., M.P., Ketua Majelis Lingkungan Hidup PWM Jawa Tengah. Kegiatan juga diawali dengan keynote speech dari Haikal Nabil, Ketua Umum PC IMM Kota Semarang.

Dalam pemaparannya, Hening Parlan menekankan bahwa Idul Adha tidak sekedar dimaknai sebagai ritual penyembelihan hewan kurban, tetapi juga sebagai momentum memperkuat kepedulian terhadap bumi. Menurutnya, spirit pengorbanan dalam kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS mengandung nilai keteladanan, keikhlasan, serta tanggung jawab moral yang relevan dengan upaya menjaga lingkungan hidup. Materi Hening juga menegaskan bahwa menjaga alam merupakan bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi, termasuk dengan mengurangi sampah plastik, mengelola limbah, dan membangun kebiasaan hidup yang lebih berkelanjutan.

Konsep Green Qurban atau kurban hijau menjadi penting karena pelaksanaan Idul Adha kerap menghasilkan timbulan sampah, terutama dari penggunaan kantong plastik sekali pakai untuk distribusi daging kurban. Karena itu, masyarakat didorong menggunakan alternatif ramah lingkungan seperti besek bambu, daun jati, daun pisang, maupun wadah guna ulang. Dorongan ini sejalan dengan imbauan Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH yang mengajak masyarakat merayakan Idul Adha tanpa sampah plastik melalui penggantian kantong plastik sekali pakai dengan wadah ramah lingkungan.

Hening juga mengajak peserta melihat Green Qurban sebagai gerakan dakwah ekologis. Menurutnya, perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti membawa wadah sendiri saat mengambil daging kurban, mengurangi penggunaan plastik, memanfaatkan bahan alami, serta mengolah limbah organik menjadi produk yang bermanfaat. Dalam materi yang disampaikan, pengelolaan limbah seperti sisa konsumsi panitia atau bahan dapur dapat diarahkan menjadi eco enzyme, pupuk, atau bahan lain yang memiliki nilai manfaat.

Sementara itu, Dr. Muchammad Sobri menjelaskan Green Qurban dari sisi ilmiah, khususnya terkait kualitas daging, pengendalian mikroorganisme, dan pengelolaan limbah hewan kurban. Ia menerangkan bahwa kualitas daging dipengaruhi oleh kondisi hewan sebelum disembelih, proses penyembelihan, pengeluaran darah, serta penanganan pasca-penyembelihan. Hewan yang mengalami stres berlebih sebelum disembelih dapat menghasilkan daging dengan kualitas kurang baik, sementara proses penyembelihan yang higienis dan tepat dapat membantu menekan potensi kontaminasi.

Dalam paparannya, Sobri juga menyoroti pentingnya pencegahan kontaminasi bakteri seperti Salmonella sp dan E. coli pada daging kurban. Praktik higienis seperti penggunaan alat yang bersih, pemisahan area kotor dan bersih, penggunaan APD oleh petugas, serta pencegahan pecahnya isi perut hewan menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan daging. Selain itu, pendinginan daging setelah penyembelihan juga perlu diperhatikan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme pembusuk dan patogen.

Sobri turut memperkenalkan praktik baik Green Qurban melalui pengelolaan limbah hewan kurban menggunakan Bioreaktor Kapal Selam. Melalui teknologi tersebut, limbah seperti isi rumen, sisa pakan, dan bagian organik lainnya dapat diolah menjadi biogas serta pupuk organik. Dengan demikian, limbah kurban tidak mencemari lingkungan, tetapi justru dapat dikonversi menjadi energi dan bahan yang bermanfaat bagi pertanian.
Praktik Green Qurban berbasis pengelolaan limbah juga telah dikembangkan Muhammadiyah di Pati, Jawa Tengah, melalui Laboratorium Bioreaktor Kapal Selam MLH PWM Jawa Tengah di Desa Langse, Kecamatan Margorejo. Program tersebut menjadi contoh pelaksanaan kurban berbasis pengurangan sampah, pengelolaan limbah, dan pemanfaatan teknologi lingkungan.

Berdasarkan rangkuman diskusi webinar, peserta juga membahas solusi praktis seperti penggunaan wadah guna ulang, besek, eco enzyme untuk pembersihan area kurban, serta pengelolaan limbah hewan secara bertanggung jawab. Diskusi menekankan bahwa Green Qurban tidak harus dimulai dari langkah besar, tetapi dapat diterapkan secara bertahap melalui perubahan kebiasaan kecil yang konsisten.

Melalui kegiatan ini, PC IMM Kota Semarang berharap gerakan Green Qurban dapat menjadi kesadaran bersama, terutama di kalangan kader muda Muhammadiyah, takmir masjid, panitia kurban, dan masyarakat luas. Green Qurban bukan sekadar mengganti plastik dengan besek atau daun, termasuk membangun cara pandang baru bahwa ibadah kurban juga harus menghadirkan kemaslahatan bagi manusia, lingkungan, dan generasi mendatang.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button