BeritaInspirasiJateng

Keynote Penutupan Akademi Riset IMM Jateng, Ode Rizki Prabtama Soroti Rendahnya Budaya Ilmiah

KABARMUH.ID, SURAKARTA – Minggu, 1 Februari 2026, Ruang Siti Badillah Perpustakaan UMS masih tampak seperti sehari sebelumnya sejak dimulainya Riset Bootcamp Akademi Riset DPD IMM Jawa Tengah. Setelah melewati 2 hari satu malam, akhirnya Akademi Riset DPD IMM Jawa Tengah resmi usai pada sore hari di hari kedua.

Dalam seremonial penutupan Akademi Riset, DPD IMM Jawa Tengah menghadirkan Ode R Prabtama selaku Ketua DPP IMM Bidang Pendidikan Bahasa dan Potensi Akademik sebagai pembicara keynote speech.

Bang Ode—begitu beliau akrab disapa,—mengawali penyampaian materinya yang ia beri judul “Meneguhkan peran kader IMM sebagai Pelopor Gerakan Berbasis Riset” dengan menyatakan bahwa riset merupakan budaya langka di IMM.

Lalu beliau juga menceritakan pengalamannya yang pernah menginisiasi berdirinya School of Research. Dengan berkonsep seperti Akademi Riset saat ini, School of Research memiliki 60 peserta. Jumlah yang cukup banyak untuk sebuah kelas riset. Namun sayangnya, dari 60 peserta yang mengikuti, hanya 4 peserta yang berhasil membuahkan hasil.

Selanjutnya, Ode melemparkan pertanyaan “Mengapa Riset Penting bagi Gerakan Mahasiswa?”, sebagai bahan diskusi para peserta.

“Bagi saya pribadi, melihat gerakan mahasiswa yang sudah diamanahi beban sejarah seperti menjadi agent of change dan lain sebagainya, maka dengan riset, setidaknya gerakan mahasiswa tidak menjadi gerakan yang gagal,”  tanggap salah satu peserta.

Selanjutnya, Ode memaparkan data bahwa sejak 2010, rasio peneliti di Indonesia masih sangat rendah. Indonesia hanya berada pada angka 110/1.000.000, angka yang sangat jauh dari rata rata dunia, 1.368/1.000.000. Hal ini dikarenakan masih banyaknya masyarakat Indonesia yang tidak peduli pada hal-hal ilmiah, melainkan lebih percaya pada hal-hal berbau mistis.

“Ketika ditanya mengapa ini begini? Mengapa itu begitu? Jawaban masyarakat Indonesia hanya “entah, dari jaman nenek moyang saya sudah begini”. Hal ini lah yang membuat kita sebagai masyarakat Indonesia memerlukan peningkatan pada hal riset.

Selain kuantitas researcher Indonesia yang sedikit, publikasi ilmiah Indonesia juga masih kalah dari negara-negara tetangga.

“Publikasi Indonesia hanya 29% dari Vietnam dan 70% dari Thailand, padahal jumlah populasi masyarakat Indonesia lebih banyak sekitar 2-3 kali lebih banyak,” tuturnya.

Menurutnya, salah satu faktor lain dari rendahnya riset di Indonesia juga tercermin dari sedikitnya masyarakat Indonesia yang menempuh pendidikan S2 dan S3. Kira kira hanya 0.53% dari total masyarakat Indonesia yang menempuh magister dan doktoral berdasarkan data tahun 2024.

“Selemah-lemahnya kita, bacalah minimal satu jurnal dalam sepekan. Cari juga disertasi-disertasi dari mancanegara,”.

“Yang kita baca tiap hari bukan berita sebenarnya. Kita hanya melihat dunia lewat sosial media. Kita hanya melihat bacaan-bacaan dengan judul yang clickbait, dan komentar-komentar netizen yang tidak berfaedah,” ucapnya.

“Sebenarnya, kemampuan membaca orang Indonesia itu tinggi, hanya saja, yang dibaca sekedar pesan WhatsApp, komentar netizen, dan lainnya,” tambahnya lagi.

Akademi Riset DPD IMM Jawa Tengah resmi ditutup setelah penyampaian kesan dan pesan oleh peserta Akademi Riset, dan diakhiri dengan sesi dokumentasi.

Editor: Choiril Amirah Farida

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button