
KABARMUH.ID, Semarang – Darul Arqam Paripurna (DAP) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tahun 2026 resmi dibuka dengan semangat transformasi di Universitas Muhammadiyah Semarang pada Rabu, 15 April 2026.
Kegiatan ini tidak lagi diposisikan sekadar sebagai agenda formal organisasi, melainkan sebagai momentum strategis untuk membentuk arah baru kepemimpinan kader muda IMM di masa produktif mereka.
Mengusung semangat melampaui capaian sebelumnya, DAP tahun ini tampil dengan wajah baru yang lebih segar, baik dari sisi manajerial maupun fasilitas pendukung. Jika dibandingkan dengan penyelenggaraan pada 2017, terdapat lompatan signifikan dalam penyelenggaraan kegiatan.
Namun demikian, kekuatan utama DAP kali ini justru terletak pada komposisi pesertanya yang didominasi oleh kader muda. Hal ini menjadi langkah konkret untuk mendorong percepatan sirkulasi elite kepemimpinan di tingkat nasional yang sebelumnya dinilai mengalami stagnasi.
Ketua Umum DPP IMM, Riyan Betra Delza, dalam pidato pembukaannya menghadirkan pendekatan berbeda dengan memaparkan hasil Riset Sensus Nasional Kader IMM. Langkah ini dinilai sebagai “kejutan budaya” yang memberikan gambaran objektif mengenai kondisi riil organisasi.
Berdasarkan data tersebut, tingkat partisipasi kader dalam jenjang perkaderan menunjukkan angka yang belum ideal. DAD tercatat sebesar 71,8 persen, DAM 59,6 persen, sementara yang mencapai tahap Darul Arqam Paripurna hanya 7,5 persen.
Dari sisi pendidikan, mayoritas kader merupakan lulusan S1 (66,1 persen), disusul S2 (22,1 persen), dan S3 (3,7 persen). Sementara itu, dari aspek ekonomi, sebanyak 25,8 persen kader belum bekerja, dan hanya 15,9 persen yang berprofesi sebagai akademisi.
“Kondisi kita sebenarnya tidak seindah yang sering diceritakan dalam narasi-narasi romantis organisasi,” tegas Riyan Betra selaku Ketua Umum DPP IMM saat memaparkan data tersebut.
Ia juga mengingatkan pentingnya kejujuran intelektual dalam membaca realitas. “Jangan sampai kita terjebak pada idealisme semu”.
Data menunjukkan tantangan riil ada di depan mata, mulai dari rendahnya partisipasi di level paripurna hingga isu kemandirian ekonomi kader. Kita butuh solusi konkret, bukan sekadar retorika,” tambahnya.
DAP 2026 diharapkan menjadi laboratorium strategis bagi kader IMM untuk merumuskan kembali peran organisasi secara lebih relevan dan kontekstual.
Berbasis data dan berorientasi masa depan, langkah sensus nasional ini menjadi pijakan penting dalam mendorong gerak organisasi yang lebih presisi dan berdampak nyata bagi masyarakat.



