akademikBeritaJogjakarta

Menata Ulang Kompas Profetik: Penyusunan Alat Ukur Implementasi ISP dalam Grand Design PK IMM FAI UMY

KABARMUH.ID, YOGYAKARTA – PK IMM FAI UMY bersama Agung Rezki, Rahmat, Simin, dan Aden menggelar diskusi bersama Profesor Heddy Shri Ahimsa-Putra, Dosen Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Diskusi berlangsung di Taman Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM. Pertemuan ini diadakan untuk bersilaturrahmi sekaligus meminta pandangan Profesor Ahimsa tentang Upaya PK IMM FAI UMY dalam merumuskan indikator impelementasi gerakan Ilmu Sosial Profetik (ISP) yang digagas oleh Prof. Kuntowijoyo dalam bukunya, di mana Prof. Ahimsa juga mengkritisi pemikiran ISP dalam bukunya Paradigma Profetik Islam, Selasa, (30/06/26).

Diskusi diawali dengan pemaparan oleh pengurus PK IMM FAI UMY mengenai latar belakang gerakan mereka. Sejak tahun 2015, teori ISP telah diinternalisasikan ke dalam grand design organisasi untuk menerjemahkan pilar “Trikoda” (Tri Kompetensi Dasar) IMM, di mana nilai Humanitas diterjemahkan sebagai humanisasi, Intelektualitas sebagai liberasi, dan Religiusitas sebagai transendensi. Di lingkungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Komisariat FAI menjadi satu-satunya wadah yang konsisten merawat diskursus ini melalui berbagai forum seperti forum kaderisasi MADILOG dan agenda diskusi filsafat NGOPI, serta diskursus lainnya. Meskipun sudah menjadi diskusi panjang, PK IMM FAI UMY masih merasakan kendala besar dalam mengukur keberhasilan program kerja mereka, seperti kegiatan pemberdayaan masyarakat di Desa Binaan Ledok Timoho. Selama ini, indikator keberhasilan program dirasa masih didasarkan pada metode “cocoklogi”, dimana keterbatasan metodologis dari pengurus untuk merumuskan indikator etika profetik yang kokoh secara mandiri.

Menanggapi kegelisahan tersebut, Prof. Heddy Shri Ahimsa-Putra memberikan kritikan teoretisnya yang tajam. Beliau menjelaskan bahwa dalam buku Paradigma Profetik Islam, gagasan Prof. Kuntowijoyo memiliki kelemahan berupa lompatan teoretis yang mengasumsikan wahyu (Al-Qur’an) dapat langsung diturunkan menjadi gerakan konkret tanpa melalui jembatan khazanah pengetahuan ulama terdahulu, tradisi kitab kuning, serta ranah tasawuf atau sufisme. Padahal, khazanah tasawuf sangat kaya akan nilai transendensi, liberasi, dan humanisasi yang ideal. Prof. Ahimsa juga menekankan pentingnya menggunakan istilah “Ilmuisasi Islam” alih-alih Islamisasi Ilmu yang dinilai kurang logis, serta meletakkan nama “Profetik Islam” secara spesifik karena pilar-pilar gerakan profetik dasarnya juga diklaim oleh ideologi Barat seperti Marxisme dan agama-agama lain di luar Islam. Lebih lanjut, beliau membenarkan langkah pengurus untuk tidak mengabaikan pilar transformasi individu (psikologi profetik) dan transformasi budaya sebelum melompat jauh ke arah transformasi sosial.

Sebagai jalan keluar dan arahan metodologis, Prof. Ahimsa memotivasi pengurus IMM FAI agar menghilangkan mentalitas rendah diri dan berani menuangkan draf indikator buatan mereka sendiri ke dalam bentuk tulisan. Ide-ide yang abstrak hanya dapat dikritisi, diuji logikanya, dan disempurnakan apabila telah mewujud menjadi sebuah naskah fisik. Beliau menjabarkan alur penurunan ideologi yang sistematis, di mana nilai-nilai abstrak harus diturunkan secara logis menjadi sebuah kebijakan, kemudian program kerja, hingga masuk ke aspek pelaksanaan dan indikator hasil. Pengurus pun harus jeli memisahkan mana indikator untuk proses pelaksanaan dengan mana indikator untuk capaian hasil. Di samping itu, Prof. Ahimsa memberikan saran agar PK IMM FAI UMY tidak sekadar membawa ISP di lingkup internal fakultas agama saja, melainkan mulai memperluas gerakan dakwah ini ke delapan fakultas lain di UMY, termasuk fakultas eksak seperti teknik dan kedokteran, agar nilai-nilai profetik dapat tersebar secara kolektif di kalangan mahasiswa.

Menjelang akhir diskusi, Prof. Ahimsa menyatakan kesediaannya secara terbuka untuk terus membantu proses belajar pimpinan IMM UMY. Sebagai rencana tindak lanjut, PK IMM FAI UMY berkomitmen untuk segera menyusun dokumen tertulis mengenai akumulasi pelaksanaan grand design serta draf indikator ISP kepada Prof. Ahimsa secara bertahap. Selain itu, organisasi juga berencana menginisiasi sebuah seminar atau simposium akademik dengan mengundang Prof. Ahimsa sebagai salah satu pembicara utama untuk membedah rumusan gerakan sosial profetik secara mendalam di masa mendatang.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button