
Oleh Agung Rezki
Masa-masa awal IMM sebagai organisasi perlawanan, kini hanya tinggal kenangan yang bisa dibaca di buku-buku sejarah IMM ataupun Muhammadiyah. Gerakan IMM saat ini cenderung berorientasi pada penyelesaian program yang telah dibentuk ketika rapat kerja pimpinan, bukan sebagai gerakan kolektif yang membantu perkembangan kader dan penanaman nilai atau core value. Ketidakmampuan kader dalam mengkritisi permasalahan dengan kerangka metodologis menjadi indikasi kematian sebuah organisasi. Terjadinya konflik internal, hilangnya nilai, matinya tradisi fastabiqul khairat menjadi hal yang lumrah kita temui pada tataran komisariat, cabang, daerah, bahkan pusat. IMM sebagai organisasi perkaderan dan pergerakan harus bangkit dari kebiasaan buruk itu, kebiasaan lama dan terlalu meromantisasi sejarah jangan menjadikan Ikatan terlena sehingga sulit untuk berkembang.
Salah satu tokoh yang membidani berdirinya IMM, Djazman Al-Kindi menyebutkan bahwa IMM merupakan sekelompok dari manusia akademi Indonesia. Kader IMM harus menjadikan kampus dan masyarakat sebagai tempat melatih diri dan meningkatkan ilmu sehingga kembali kepada identitas awal (Al-Kindi, 2020). Ideologi yang menjadi landasan gerakanpun tidak boleh hanya tertulis kusam di lembar buku karena jarang dibaca, akan tetapi menjadi hidup dengan gerakan yang kontekstual sesuai dengan Islam berkemajuan. Oleh karena itu, kader IMM harus mengembalikan identitas awal sebagai Akademia IMM sehingga terbentuklah akademisi Islam yang berakhlak mulia.
Salah satu buku yang membahas tentang akademia IMM adalah buku IMM STUDIES karya M.Amin Aziz. Torehan dalam buku inilah yang menginspirasi penulis untuk menemukan langkah yang tepat dalam membentuk akademia IMM. Langkah yang bisa digunakan untuk menciptakan akademia IMM adalah;
Budaya Riset IMM
Akademia selama ini hanya diartikan sebagai institusi pendidikan kenegaraan yang memiliki hubungan antara peserta didik dalam menyelesaikan masa studinya. Pada konteks ke Indonesiaan, definisi ini tidaklah keliru. Namun, jika direkam kembali kepada akar sejarahnya, akademia merupakan tanah tempat plato mengajarkan ilmu kepada para muridnya (Aziz, 2022). Jika ditarik kepada realitas sekarang, dunia kampus menjadi salah satu bagian dari akademi itu sendiri, karena menjadi wadah pelajar untuk bertukar pikiran dan mencari ilmu seluas-luasnya.
Akan tetapi, hal yang menjadi perhatian penulis adalah terlalu banyaknya gagasan yang didiskusikan tanpa adanya tulisan yang mengikat. IMM sebagai organisasi intelektual sering mengagendakan program diskusi, workshop, debat, tetapi hanya sebatas forum mengadu gagasan tanpa adanya karya nyata dalam bentuk tulisan. Hal ini bukan mengatakan agenda diskusi dan literasi lainnya tidak berguna, akan tetapi era sekarang kita butuh semacam jurnal riset sebagai karya dalam mengeksplore ide-ide cemerlang kader.
Jika dilihat dari segi implikasi, penelitian memiliki peran sebagai metode pengembangan organisasi, metode penentuan konsep gerak, dan pengembangan individu kader secara akademis.
Dari aspek ideologi, penelitian menjadi kegiatan yang sesuai dengan ideologi IMM pada 6 penegasan, yakni ilmu amaliah amal ilmiah. Maka, sebagai upaya dinamisasi gerakan yang adaptif, perlu kiranya penelitian menjadi tradisi di IMM.
Revitalisasi Ideologi IMM
“Ideologi IMM saat ini layaknya candu, mudah dijual mudah juga dibeli” (Aziz, 2022), mengulas problem ideologi dalam artikel Matinya Ideologi IMM yang diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah, ada empat faktor matinya ideologi IMM, pertama Ideologi dianggap paradigma tertutup kedua Ideologi tidak mampu menjadi sumber inspirasi kader ketiga Ideologi tidak memberi makna mendalam terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan keempat Ideologi tidak mampu menjadi dasar moral kader. Oleh karena itu, tradisi pengajian harus selalu dimassifkan, perkaderan harus dimaknai sebagai gerakan penanaman ideologi, peran instruktur dalam mengawal perkaderan, dan implementasi cita-cita IMM harus menjadi dasar gerakan.
Tantangan terberat dalam revitalisasi ini adalah mengubah ideologi dari sekadar dokumen mati menjadi ruh yang hidup dalam setiap gerak kader. Ideologi IMM, seperti yang terkandung dalam Enam Penegasan, harus menjadi lensa yang digunakan kader untuk menganalisis dan merespons persoalan zaman. Misalnya, poin tentang “ilmu amaliah, amal ilmiah” bukan hanya slogan, melainkan panggilan untuk memastikan bahwa ilmu yang didapat di kampus harus memberi dampak nyata bagi masyarakat (amaliah), dan setiap tindakan atau program (amal) harus berbasis pada kajian dan data yang valid (ilmiah).
Peningkatkan peran instruktur menjadi vital. Mereka bukan sekadar fasilitator materi, tetapi teladan hidup yang merefleksikan nilai-nilai ideologi atau ideologi berjalan. Instruktur harus mampu menjadi mentor yang membimbing kader dalam mengkontekstualisasikan ideologi di tengah isu-isu kontemporer, seperti krisis lingkungan, tantangan digital, atau masalah keadilan sosial. Jika ideologi berhasil ditanamkan sebagai kesadaran moral yang mendalam, kader tak akan mudah terjerumus pada konflik internal atau pragmatisme program belaka. Mereka akan memiliki kompas yang jelas, yaitu fastabiqul khairat dalam bingkai Islam berkemajuan.
Penutup
Menuju Akademia IMM adalah sebuah keadaan yang pasti terjadi. Jalan menuju cita-cita ini terletak pada dua pilar utama: budaya riset yang mengikat gagasan dan menjadikannya karya nyata, serta revitalisasi ideologi melalui pengajian yang masif dan perkaderan yang dimaknai sebagai penanaman core value. IMM harus meninggalkan kenyamanan meromantisasi sejarah dan fokus pada tanggung jawab historisnya sebagai kelompok akademi Indonesia yang bergerak.
Dengan menjadikan kampus sebagai wadah akademi, fokus riset menjadi tradisi, dan ideologi sebagai dasar moral yang hidup, IMM akan bangkit dari stagnasi program menuju gerakan kolektif yang adaptif, kritis, dan berakhlak mulia. IMM harus kembali menjadi organisasi perlawanan intelektual di mana setiap kader adalah akademisi yang memiliki integritas keilmuan dan keislaman yang kokoh. Hanya dengan cara ini, Ikatan akan terus relevan dan mampu menjawab tantangan zaman, mengukir sejarah baru yang lebih cemerlang, dan mewujudkan cita-cita terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia.
Editor: Muhammad Farhan



