Paradoks Skripsi: Mengapa Ilmu Manajemen Sulit Diterapkan pada Diri Sendiri
- account_circle Wynne Kurniawan
- calendar_month 18 menit yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto Pribadi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sebagai mahasiswa manajemen semester 3, saya sering mendengar dosen menjelaskan bahwa manajemen itu pada dasarnya soal merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, dan mengawasi atau yang biasa dikenal dengan POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling), materi yang sudah berkali-kali muncul di beberapa mata kuliah sehingga mahasiswa biasanya bisa menjawabnya dengan lancar saat ujian. Saya sendiri memang belum sampai ke tahap menyusun skripsi, tetapi dari cerita mahasiswa tingkat akhir yang sedang berjuang menyelesaikannya, ternyata cukup banyak dari mereka yang justru kesulitan mengatur skripsinya sendiri, padahal ilmu yang mereka pelajari sama dengan yang sedang saya pelajari sekarang.
Penyebab pertama adalah mengetahui teori dan menjalankannya itu ternyata dua hal yang berbeda jauh, sebab mahasiswa tahu bahwa membuat jadwal dan target itu penting, namun ketika tiba waktunya mengerjakan, rasa malas dan keinginan untuk beristirahat sebentar sering kali menang lebih dulu tanpa disadari. Hal serupa sudah saya alami pada tugas kuliah biasa, misalnya tugas kelompok yang awalnya dijadwalkan dengan rapi tetapi akhirnya baru dikerjakan ketika batas waktunya sudah dekat.
Penyebab kedua terletak pada perbedaan peran, yaitu di perusahaan seorang manajer memiliki atasan, tim, dan tenggat yang jelas, akibatnya pekerjaan harus terus berjalan, sedangkan dalam skripsi semua peran itu dipegang sendiri oleh mahasiswa, mulai dari membuat rencana, mengerjakannya, sampai mengecek apakah targetnya sudah tercapai atau belum. Dosen pembimbing memang ada, tetapi tentu tidak bertemu setiap hari, sehingga tanpa teguran dari orang lain, rencana yang sudah dibuat dengan semangat di awal mudah sekali dibiarkan begitu saja.
Penyebab ketiga berkaitan dengan tekanan psikologis yang muncul ketika mahasiswa mulai membayangkan betapa panjangnya jalan yang harus dilalui, mulai dari mencari judul yang layak, menyusun latar belakang, mengumpulkan data, hingga menghadapi revisi yang bisa datang berkali-kali dari dosen pembimbing. Kecemasan semacam itu perlahan membuat sebagian mahasiswa menunda membuka berkas skripsinya, karena setiap kali layar laptop menyala yang terbayang hanyalah tumpukan pekerjaan yang belum tersentuh, sementara ponsel di sebelahnya menawarkan hiburan yang jauh lebih ringan dan menyenangkan. Fungsi pengawasan yang seharusnya dijalankan oleh diri sendiri pun melemah, sebab tidak ada lagi yang mengingatkan bahwa waktu terus berjalan dan bahwa satu bulan yang terbuang tanpa kemajuan sudah cukup untuk menggeser target kelulusan.
Akibat dari kebiasaan menunda tersebut tidak berhenti pada soal waktu saja. Mahasiswa yang kelulusannya mundur satu atau dua semester harus menanggung biaya kuliah tambahan, sementara teman seangkatannya sudah mulai bekerja dan menata kehidupan masing-masing, sehingga muncul perasaan tertinggal yang justru memperburuk semangat mengerjakan. Lingkaran seperti ini cukup ironis bagi mahasiswa manajemen, sebab mereka dididik untuk mampu mengelola sumber daya, termasuk waktu dan tenaga, tetapi gagal memperlakukan dirinya sendiri sebagai sumber daya yang perlu dikelola dengan sungguh-sungguh. Ketidaksesuaian antara apa yang diketahui dan apa yang dilakukan itulah yang membuat persoalan ini layak dibicarakan.
Ilmu manajemen sebenarnya masih dapat diterapkan untuk diri sendiri, selama menggunakan metode yang disederhanakan, misalnya dengan membagi tugas skripsi menjadi sasaran kecil tiap minggu dan menjadikan waktu bimbingan sebagai batas waktu yang wajib dipatuhi. Menginformasikan kepada teman mengenai sasaran yang dimiliki juga sangat berguna, karena adanya orang lain yang meminta kabar perkembangannya dan secara tidak langsung membuat mahasiswa merasa lebih bertanggung jawab.
Perencanaan yang realistis perlu dimulai dari kejujuran terhadap kemampuan diri, artinya target harian sebaiknya cukup kecil untuk dikerjakan bahkan pada hari ketika semangat sedang turun, seperti menulis satu paragraf atau membaca satu jurnal, sebab kemajuan kecil yang konsisten jauh lebih bermanfaat daripada rencana besar yang hanya bertahan tiga hari. Pengorganisasian juga dapat dilakukan dengan menyiapkan tempat dan waktu khusus untuk mengerjakan skripsi, misalnya perpustakaan kampus pada pagi hari, supaya otak terbiasa mengaitkan suasana tersebut dengan kegiatan menulis. Fungsi penggerakan bisa dibantu dengan membentuk kelompok belajar kecil yang saling membacakan hasil tulisan, sedangkan fungsi pengawasan dijalankan dengan mencatat capaian mingguan dan mengevaluasi penyebab ketika target tidak terpenuhi, bukan sekadar menyalahkan diri sendiri.
Pihak kampus juga dapat mengambil bagian dengan memberikan jadwal bimbingan yang lebih teratur dan umpan balik yang jelas pada setiap pertemuan, karena mahasiswa yang tahu apa yang harus diperbaiki cenderung lebih mudah memulai pekerjaannya kembali dibandingkan mahasiswa yang pulang bimbingan dengan rasa bingung. Dukungan teman sebaya, keluarga, dan dosen pembimbing pada akhirnya berfungsi seperti struktur organisasi kecil yang menggantikan atasan dan tim yang tidak dimiliki mahasiswa ketika mengerjakan skripsi seorang diri.
Mahasiswa semester awal seperti saya sebenarnya masih memiliki waktu yang cukup panjang untuk melatih kebiasaan ini sejak sekarang, mulai dari tugas-tugas kecil yang selama ini sering dikerjakan menjelang tenggat. Membiasakan diri menulis daftar pekerjaan, memberi tenggat pribadi yang lebih awal daripada tenggat resmi, dan menilai ulang hasil kerja setiap pekan merupakan latihan sederhana yang kelak sangat berguna ketika skripsi benar-benar tiba di depan mata. Kedisiplinan tidak tumbuh dalam semalam, melainkan dibentuk oleh pengulangan yang sering terasa membosankan.
Dapat disimpulkan bahwa ilmu manajemen tidak hanya terletak pada seberapa paham mahasiswa terhadap teorinya, tetapi pada seberapa berani mempraktikkannya pada diri sendiri. Skripsi bukan sekadar tugas akhir untuk memperoleh gelar, tetapi proses belajar yang menguji kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan mengatur diri. Dapat dikatakan bahwa “Ilmu manajemen baru benar-benar dikuasai ketika seseorang mampu mengelola dirinya sendiri sebelum mengelola orang lain.”
Penulis: Wynne Kurniawan Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Muhammadiyah Ponorogo
- Penulis: Wynne Kurniawan
- Editor: M. Nur Isholattudin
