Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Postmodernisme: Echo Chambers dan Ilusi Kebenaran Digital

Postmodernisme: Echo Chambers dan Ilusi Kebenaran Digital

  • account_circle Adi Kurnia
  • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
  • visibility 134
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Adram Qaisullah Tihurua

Jean-François Lyotard mendefinisikan postmodernisme sebagai “incredulity toward metanarratives“, yaitu ketidakpercayaan terhadap narasi-narasi besar yang selama berabad-abad menjadi fondasi peradaban manusia. Narasi tentang agama, kemajuan, sains, ideologi maupun sejarah tidak lagi diterima sebagai sumber kebenaran yang memiliki legitimasi universal. Postmodernisme dengan demikian tidak sekadar menghadirkan kritik terhadap modernitas, melainkan juga membongkar keyakinan bahwa manusia dapat mencapai suatu kebenaran yang bersifat objektif dan berlaku untuk semua orang.

Pada titik tertentu, skeptisisme tersebut memang membebaskan manusia dari berbagai bentuk dogmatisme. Namun, dalam perkembangan masyarakat digital, warisan postmodernisme justru melahirkan persoalan baru yang lebih kompleks. Ketika semua narasi dicurigai dan seluruh klaim kebenaran dianggap relatif, manusia kehilangan pijakan epistemologis yang dapat dijadikan standar kolektif. Akibatnya, kebenaran tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang harus ditemukan melalui proses pencarian yang rasional, melainkan sebagai sesuatu yang dapat diproduksi, dikonstruksi bahkan diperdagangkan.

Fenomena ini semakin terlihat dalam dunia digital yang didominasi oleh algoritma media sosial. Internet yang pada awalnya dipandang sebagai medium paling demokratis yang memungkinkan setiap orang mengakses informasi secara bebas. Akan tetapi, kebebasan tersebut secara perlahan berubah menjadi ruang gema yang dikenal sebagai echo chambers. Echo chambers adalah kondisi ketika seseorang hanya terpapar oleh informasi, opini dan pandangan yang sesuai dengan keyakinannya sendiri. Algoritma bekerja dengan menyajikan konten-konten yang disukai pengguna, sehingga seseorang semakin jarang berhadapan dengan pandangan yang berbeda.

Di dalam ruang gema tersebut, kebenaran tidak lagi diuji melalui perdebatan argumentatif. Sebaliknya, suatu gagasan dianggap benar karena terus-menerus diulang oleh kelompok yang memiliki keyakinan serupa. Semakin banyak orang yang mempercayainya, semakin besar pula kesan bahwa gagasan tersebut merupakan kenyataan yang tidak terbantahkan. Dalam kondisi seperti ini, popularitas perlahan menggantikan validitas. Jumlah pengikut lebih dihargai daripada kualitas argumen. Viralitas menjadi sebuah ukuran kebenaran yang baru.

Situasi ini mengingatkan pada kritik para filsuf yunani terhadap kaum sofis. Bagi Socrates dan Plato, kaum sofis adalah kelompok yang lebih mementingkan kemampuan meyakinkan orang lain daripada menemukan kebenaran itu sendiri. Kebenaran tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang objektif, melainkan sebagai hasil dari keterampilan retorika dan persuasi. Ironisnya, dunia digital hari ini justru menghidupkan kembali semangat sofisme tersebut dalam bentuk yang jauh lebih masif. Perbedaannya hanya terletak pada medium. Jika dahulu sofis berbicara di alun-alun kota, kini mereka berbicara melalui layar handphone, algoritma dan platform media sosial.

Akibat dari fenomena ini adalah munculnya ilusi kebenaran digital. Sebuah informasi dianggap benar bukan karena sesuai dengan fakta, melainkan karena sering muncul di lini masa. Psikologi modern menyebut gejala ini sebagai illusory truth effect, yaitu kecenderungan manusia untuk mempercayai suatu informasi hanya karena informasi tersebut terus diulang. Dengan kata lain, pengulangan menciptakan kesan kebenaran. Kebohongan yang disebarkan berkali-kali dapat tampak lebih meyakinkan daripada fakta yang jarang terdengar.

Dalam konteks sosial dan politik, kondisi ini sangat berbahaya. Masyarakat tidak lagi terbelah berdasarkan fakta yang berbeda, melainkan berdasarkan realitas yang berbeda. Setiap kelompok hidup dalam dunianya masing-masing, lengkap dengan narasi, tokoh, musuh dan kebenarannya sendiri. Dialog menjadi semakin sulit karena setiap pihak merasa telah memiliki legitimasi yang cukup untuk mempertahankan keyakinannya. Tidak ada lagi ruang bersama tempat fakta dapat diuji secara objektif.

Lebih jauh lagi, situasi tersebut membuka jalan bagi lahirnya totalitarianisme mayoritas. Ketika kebenaran ditentukan oleh jumlah orang yang mempercayainya, maka mayoritas memperoleh posisi yang sangat dominan. Mereka tidak hanya menentukan apa yang dianggap benar tetapi juga menentukan apa yang boleh dikatakan dan apa yang harus disingkirkan. Kebenaran akhirnya berubah menjadi produk konsensus sosial semata. Mereka yang berbeda pandangan tidak lagi dibantah melalui argumen, melainkan dibungkam melalui tekanan massa, persekusi digital atau bahkan pengucilan sosial.

Pada akhirnya, tantangan terbesar masyarakat digital bukanlah kekurangan informasi, melainkan hilangnya kemampuan untuk membedakan antara kebenaran dan popularitas. Postmodernisme mengajarkan manusia untuk mencurigai narasi besar tetapi era digital telah membawa kecurigaan tersebut ke titik yang lebih ekstrim: kecurigaan terhadap kemungkinan adanya kebenaran itu sendiri. Ketika semua hal dianggap relatif, manusia tidak menjadi lebih bebas, melainkan semakin mudah terombang-ambing oleh arus informasi yang terus berubah.

Oleh karena itu, persoalan utama di zaman ini bukan lagi bagaimana memperoleh informasi sebanyak mungkin, melainkan bagaimana membangun kembali standar kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Sebab tanpa pondasi epistemologis yang kokoh, masyarakat akan terus hidup dalam ruang gema yang memproduksi ilusi demi ilusi. Dan ketika ilusi telah diterima sebagai kenyataan, maka yang tersisa bukanlah kebijaksanaan, melainkan sekadar keramaian yang mengaku sebagai kebenaran.

Editor: Muhammad Farhan

  • Penulis: Adi Kurnia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Semarak! Mahasantri Pondok Shabran UMS Satukan Masyarakat Lewat Festival Ramadhan

    Semarak! Mahasantri Pondok Shabran UMS Satukan Masyarakat Lewat Festival Ramadhan

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 88
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Festival Ramadhan 2026 yang diselenggarakan pada Sabtu – Minggu, (7-8/3) berlangsung meriah dan sangat khidmat. Mengusung tema “Bersama Ramadhan, Menyemai kebaikan, Menuai kebahagiaan.” Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi berbagai elemen masyarakat dalam menyemarakkan bulan suci Ramadhan. Festival ini diselenggarakan melalui kerjasama antara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah […]

  • Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa’ Muhammadiyah Blimbingrejo Adakan Tahrib Ramadan 

    Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa’ Muhammadiyah Blimbingrejo Adakan Tahrib Ramadan 

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 78
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, JEPARA- Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa’ Muhammadiyah Blimbingrejo kembali menyambut bulan suci Ramadhan dengan penuh suka cita melalui kegiatan Tarhib Ramadhan 1447 H yang dilaksanakan pada Senin, (16 Februari 2026 M, 28 Syakban 1447 H).  Kegiatan ini menjadi agenda penting tahunan sekaligus menggantikan KBM pada hari tersebut, dengan melibatkan seluruh santri dan ustadz/ah sebagai bentuk […]

  • Milad ke-9 Ponpes Asy-Syifa’ Muhammadiyah Blimbingrejo Berlangsung Meriah dan Penuh Makna

    Milad ke-9 Ponpes Asy-Syifa’ Muhammadiyah Blimbingrejo Berlangsung Meriah dan Penuh Makna

    • calendar_month Minggu, 26 Apr 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 94
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Jepara — Ponpes Modern Asy-Syifa’ Muhammadiyah Blimbingrejo sukses menyelenggarakan rangkaian kegiatan Milad ke-9 dengan penuh khidmat dan semarak. Mengusung tema “Maju Mencerdaskan Ummat”, acara berlangsung selama dua hari, Sabtu–Ahad (25–26 April 2026), dengan berbagai kegiatan religius, edukatif, dan hiburan yang melibatkan seluruh civitas pesantren serta masyarakat sekitar. Kegiatan dimulai pada Sabtu malam (25/4) dengan […]

  • Upgrading Pimpinan Hizbul Wathan UMS 2026: Penguatan Kapasitas dan Soliditas Kepemimpinan

    Upgrading Pimpinan Hizbul Wathan UMS 2026: Penguatan Kapasitas dan Soliditas Kepemimpinan

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 120
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surakarta – Hizbul Wathan Universitas Muhammadiyah Surakarta (HW UMS) menyelenggarakan kegiatan Upgrading Pimpinan Hizbul Wathan UMS Tahun 2026, bertempat di Ruang Meeting Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta, Senin (19/01). Kegiatan upgrading ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan, pemahaman organisasi, serta memperkuat soliditas pimpinan dalam menjalankan amanah kepengurusan tahun 2026. Upgrading menjadi langkah awal strategis bagi […]

  • Fenomena Curhat ke ChatGPT, Psikolog UMS: AI Tidak Bisa Gantikan Empati Manusia

    Fenomena Curhat ke ChatGPT, Psikolog UMS: AI Tidak Bisa Gantikan Empati Manusia

    • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
    • account_circle Andi Rezti Maharani
    • visibility 95
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin masif turut mempengaruhi perilaku masyarakat, termasuk dalam ranah psikologis seperti mencurahkan isi hati atau mencari solusi masalah pribadi melalui ChatGPT. Fenomena ini disoroti oleh dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prilya Shanty Andrianie, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Menurutnya, kemajuan teknologi seperti AI adalah hal yang tidak […]

  • Akademi Dai Digital Muhammadiyah adalah Ikhtiar Strategis Maksimalkan Dakwah Era Digital

    Akademi Dai Digital Muhammadiyah adalah Ikhtiar Strategis Maksimalkan Dakwah Era Digital

    • calendar_month Sabtu, 21 Jun 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 115
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Jakarta — Ketua Panitia Akademi Dai Digital Muhammadiyah, Ahmad Nur Muhaimin, S.Ud, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk mempersiapkan kader-kader dakwah Muhammadiyah menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks, khususnya di ruang digital. “Akademi ini adalah ikhtiar nyata untuk memaksimalkan potensi dakwah di era digital. Dunia maya telah menjadi ruang baru peradaban, dan […]

expand_less