
KABARMUH.ID, TULUNGAGUNG – Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Tulungagung sukses menggelar agenda “Ngobrol Budaya” bertajuk “Budaya Tanpa Sekat: Membangun Dialog, Merawat Toleransi” pada Sabtu (15/8/2026). Bertempat di Warunk Salman, acara ini menjadi ruang perjumpaan pemikiran yang inklusif bagi generasi muda Tulungagung.
Diskusi ini menghadirkan akademisi lintas disiplin sekaligus Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Kusen, S.Ag., M.A., Ph.D., atau yang lebih akrab disapa Kyai Cepu. Forum ini tidak hanya dipadati oleh kader IMM dan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Tulungagung, tetapi juga dihadiri secara antusias oleh perwakilan IMM se-AG Raya dan organisasi mahasiswa eksternal se-Kabupaten Tulungagung.
Sebagai pengantar dialog, Kyai Cepu membedah korelasi mendasar antara budaya dan agama. Beliau secara tegas menyampaikan pandangan bahwa agama dan budaya adalah dua hal yang terikat dalam satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
“Dalam kaidah ushul fiqih, disebutkan bahwa suatu kewajiban tidak akan sempurna jika tidak ada yang mendukung, maka yang mendukung itu hukumnya wajib,” tegas Kyai Cepu.
Sebagai contohnya, sholat fardhu adalah sesuatu yang wajib, karena shalat sah jika menutup aurat, maka mencari atau membeli pakaian untuk menutup aurat hukumnya menjadi wajib. Pakaian merupakan produk budaya manusia, sehingga agama dan budaya menjadi hal yang sangat terikat. Budaya tidak hanya terbatas pada ritual ataupun benda kuno saja, namun budaya adalah cara hidup, pola pikir, dan hasil karya yang dibuat oleh manusia.
Memasuki sesi inti yang difokuskan pada pemikiran Fiqih Kebudayaan, narasumber membedah dua pokok pembahasan utama.
Pertama, tentang Budaya Berpikir Muhammadiyah. Kyai Cepu mengurai akar sejarah dan epistemologi pemikiran warga Muhammadiyah. Dalam diskusi ini, beliau membahas mengenai cara berfikir muhammadiyah dan salafi karena topik ini masih relevan dengan kondisi Muhammadiyah saat ini.
“Muhammadiyah lebih kontekstual memaknai dalil Al-Qur’an dan Hadits, sedangkan salafi lebih sering tekstual,” katanya.
Kedua, budaya berpikir orang kaya vs. orang miskin. Diskusi berlanjut pada analisis kritis terhadap perbedaan pola pikir (mindset) dan mentalitas sosio-struktural. Beliau membedah bagaimana kelas sosial mempengaruhi sudut pandang, respons terhadap peluang, hingga cara bertahan hidup antara kelompok berkecukupan dan masyarakat miskin.
“Misalkan ada anak dan ayah. Berfikirnya orang miskin, ayah akan berkata kepada anaknya ‘kamu harus rajin agar kamu bisa bekerja disana’, kalau orang kaya, ayah akan menanyakan kepada anaknya ‘kamu bekerja untuk siapa?’,” jelas Kyai Cepu.
Melalui diskusi interaktif ini, PC IMM Tulungagung berharap dapat memecah sekat-sekat dogmatis serta membangun jembatan dialog yang sehat. Agenda ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang hangat, mempertegas komitmen gerakan pemuda Tulungagung dalam merawat nilai-nilai toleransi dan keberagaman di ruang publik.
Kontributor: Khamidah Naimawati
Editor: Dwi Kurniadi



