BeritaInspirasikabar muhammadiyah

RehaDex System, Alat Deteksi Otot Real-Time Karya Mahasiswa UMS Raih Silver Medal

KABARMUH.ID, SURAKARTA – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta ums.ac.id (UMS) kembali menorehkan prestasi di kancah internasional. Tim RehaDex berhasil meraih medali perak dalam ajang International Science Fair yang diselenggarakan di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Tim yang mengusung inovasi bertajuk “RehaDex System: Smart Finger Extension Monitoring System Based on Real-Time Muscle Strength Detection for Rehabilitation Therapy” ini diketuai oleh Tsannina Saida Lathifa, dengan anggota Najwa Citamajida, Dinaya Ulfah, dan Tutut Setya Linda Mahandini, di bawah bimbingan Adnan Faris Naufal, S.Fis., M.Biomed.

Najwa Citamajida, yang mewakili tim dalam wawancara, menjelaskan bahwa RehaDex System merupakan alat untuk mengukur kekuatan otot secara real-time dengan pendekatan yang lebih objektif. Ia menyoroti bahwa selama ini pengukuran kekuatan otot dalam fisioterapi masih cenderung subjektif.

“Biasanya pengukuran otot masih menggunakan metode Manual Muscle Testing (MMT) yang sifatnya subjektif. Setiap fisioterapis bisa menghasilkan penilaian yang berbeda. Dari situ kami ingin mengembangkan alat yang mampu mengubah penilaian subjektif menjadi objektif,” jelas Najwa saat diwawancarai, Minggu, (19/4).

Ide pengembangan alat ini berawal dari tugas mata kuliah pediatri. Namun, tim melihat adanya permasalahan nyata di lapangan yang kemudian mendorong mereka untuk mengembangkan solusi berbasis teknologi. RehaDex System dirancang untuk memberikan data kekuatan otot secara akurat dan real-time sehingga dapat membantu proses rehabilitasi terapi menjadi lebih terukur.

Tim Mahasiswa UMS dengan karya “Rehadex System”

Dalam proses pengembangannya, tim menghadapi berbagai tantangan, termasuk kendala teknis menjelang perlombaan. Najwa, mengungkapkan bahwa alat sempat mengalami error bahkan sehari sebelum kompetisi berlangsung.

“Pas H-1 alat kami sempat error karena korsleting. Kami harus memperbaiki semalaman tanpa tidur. Alhamdulillah, sebelum presentasi alat sudah kembali normal dan bisa digunakan dengan baik,” ujarnya.

Proses kompetisi diawali dengan pengumpulan artikel ilmiah, kemudian dilanjutkan dengan tahap presentasi dan penjurian secara langsung di booth pameran. Pada tahap ini, tim memaparkan pengembangan produk sekaligus menunjukkan prototipe alat kepada dewan juri.

Melalui ajang tersebut, tim mengaku mendapatkan banyak masukan berharga dari para juri. Saran-saran tersebut menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan lebih lanjut agar produk memiliki validitas yang lebih kuat.

Ke depan, tim RehaDex berencana mengembangkan sistem dengan integrasi berbasis web. Namun, mereka juga mempertimbangkan aspek inklusivitas dengan tetap menyediakan versi offline.

“Kami ingin alat ini bisa digunakan di berbagai wilayah, termasuk daerah yang belum memiliki akses internet. Jadi nantinya akan ada versi berbasis web dan non-web agar lebih fleksibel,” tambah Najwa.

Ini, lanjut Najwa, merupakan komitmen dalam menghadirkan inovasi yang solutif di bidang kesehatan, khususnya dalam mendukung terapi rehabilitasi yang lebih akurat dan berbasis teknologi.

Kontributor: Fika/Humas

Editor: Muhammad Faisal Dwi Rifqi

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button