
KABARMUH.ID, JAKARTA – Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) sukses menyelenggarakan Muhammadiyah Youth Diplomacy Forum (DYF) selama tiga hari, 26 hingga 28 September 2025. Forum yang berfokus pada pelatihan diplomat muda ini menegaskan kesiapan kader Muhammadiyah untuk mengambil peran strategis di kancah global.
DYF yang mengusung tema “Muhammadiyah Diplomats as Catalysts of Global Change” ini dilaksanakan di Gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat. Acara ini merupakan hasil kolaborasi penting antara DPP IMM dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI dan Lembaga Hubungan dan Kebijakan Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Antusiasme peserta tak terbendung. Forum ini diikuti oleh delegasi dari berbagai kampus (PTN dan PTMA), kader IMM se-Indonesia, dan bahkan perwakilan kader IMM dari luar negeri, seperti dari Tehran, sudan dan Cina. Turut hadir sebagai delegasi dr IMM Shobron Universitas Muhammadiyah Surakarta, Ahmad Satrio Imaduddin dari PWM Jawa Tengah dan Pemas dari PWM Sumatera Selatan.
Fadhil Mahdi, Kepala Bidang Hubungan Luar Negeri DPP IMM, menjelaskan bahwa forum ini adalah agenda perdana yang bertujuan meningkatkan fokus global dalam gerakan IMM. “Kegiatan kami khusus untuk mencetak diplomat muda, agar kader tidak mendikotomi dalam pergerakan dan menjadikan IMM semakin inklusif,” tegas Fadhil Mahdi.

Latihan Diplomasi dan Pemetaan Perubahan Peradaban, DYF diselenggarakan sebagai upaya DPP IMM untuk menyongsong masa depan gerakan IMM yang berorientasi global, khususnya di bidang sosial, politik, dan ekonomi. Fokus utama pelatihan mencakup simulasi sidang Model Organization of Islamic Cooperation (MOIC) dan sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sesi Stadium General disampaikan oleh Bapak Muhammad Anis Matta, L.c , Wakil Mentri Hubungan Internasional, yang memaparkan pandangan tajam mengenai kondisi geopolitik global. Anis Mata mengaitkan lahirnya Muhammadiyah pada 1912 yang berada di tengah pergolakan pemikiran dunia Islam dan ancaman keruntuhan Kekhilafahan Utsmaniyah.
Ia menyimpulkan bahwa tatanan global saat ini sedang berada dalam “tatanan gelap”.
“Tatanan lama sudah mati, tetapi tatanan dunia baru belum muncul. Kita harus siap menghadapi pergulatan pemikiran dan perubahan peradaban,” ujar Anis Mata. Ia mendefinisikan diplomasi sebagai, “seni tentang bagaimana meyakinkan orang; kita mau dan orang mau mendukung kemauan kita,” sembari menyarankan agar para kader belajar menjadi ‘petarung jalanan’ demi memiliki mental yang kuat dalam berdiplomasi.
Sementara itu, Dr. Imam Addaruqutni, M.A. selaku ketua dari Lembaga Hubungan dan Kebijakan Internasional PP Muhammadiyah, menyambut baik inisiatif ini. Ia menekankan bahwa diplomasi bukan hanya milik kalangan tertentu, melainkan milik semua orang, dan penting bagi anak muda Indonesia untuk berlatih serta terjun langsung ke arena internasional.
Antusiasme Peserta Tunjukkan Relevansi Isu, Antusiasme peserta terlihat jelas hingga sesi diskusi. Mizan Al Arab, Ketua Panitia DYF, mengapresiasi semangat para peserta untuk berpartisipasi aktif, meskipun keterbatasan waktu membuat tidak semua pertanyaan dapat terjawab.
Mizan juga mengutip pandangan terkait pentingnya sikap negara berdaulat di mata dunia, senada dengan peran penting diplomasi di kancah internasional.
Forum ini diharapkan menjadi kick-off bagi para kader IMM untuk lebih giat belajar, mengasah kemampuan negosiasi, dan benar-benar menjadi calon diplomat masa depan yang mewujudkan cita-cita Muhammadiyah sebagai Katalis Perubahan Global.
Penulis : Ahmad Satrio Imaduddin (Kader IMM Shobron)
Editor: Alfarabi



