UMS Perkuat Ketahanan Ekonomi dan Kesehatan Mahasiswa Muslim di Taiwan melalui Pengabdian Internasional
- account_circle Fika
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 31
- comment 0 komentar
- print Cetak

Suasana Diskusi bersama Mahasiswa Muslim Taiwan
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperkuat kapasitas komunitas mahasiswa Muslim di Taiwan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan Internasional (PkM-KI) bertajuk “Penguatan Ketahanan Ekonomi dan Kesehatan Muslim Student Association di Taiwan”. Program ini mengintegrasikan penguatan ekonomi, kesehatan fisik dan mental, kepemimpinan Islami, serta kelembagaan komunitas untuk mendukung kemandirian mahasiswa Muslim di lingkungan internasional.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 1 Oktober 2026 di Institute of International Management (IMBA), College of Management, National Cheng Kung University (NCKU), Tainan, Taiwan. Program ini diketuai oleh Dr. Aflit Nuryulia Praswati, S.E., M.M., CMA., bersama tim pengabdian multidisiplin UMS, dengan dukungan pembiayaan berdasarkan SK Batch III Tahun 2025/2026 Nomor 451.52/DRPPS/A3.9/VII/2026.
Program ini dilatarbelakangi oleh berbagai tantangan yang dihadapi mahasiswa internasional, mulai dari tuntutan akademik, adaptasi budaya, pengelolaan keuangan, hingga pemeliharaan kesehatan dan kehidupan spiritual. Dalam konteks tersebut, Muslim Student Association tidak hanya berfungsi sebagai wadah aktivitas sosial dan keagamaan, tetapi juga berpotensi menjadi ruang pengembangan kapasitas, kepemimpinan, dan solidaritas antarmahasiswa.
Ketua tim pengabdian, Dr. Aflit Nuryulia Praswati, S.E., M.M., CMA., menjelaskan bahwa ketahanan komunitas membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dengan memperhatikan keterkaitan antara aspek ekonomi, kesehatan, sosial, dan spiritual.
“Ketahanan komunitas tidak hanya ditentukan oleh kemampuan ekonomi, tetapi juga oleh kesehatan fisik dan mental, kualitas kepemimpinan, kekuatan jejaring sosial, serta nilai spiritual yang dimiliki anggotanya. oleh karena itu, program ini diarahkan agar mahasiswa Muslim mampu menjadi pribadi yang sehat, mandiri, produktif, serta mampu mengembangkan komunitasnya secara berkelanjutan,” jelasnya, Jumat (9/10/2026).
Melalui pendekatan tersebut, program PkM-KI dirancang untuk mendorong mahasiswa Muslim mengembangkan kapasitas individu sekaligus memperkuat kemampuan komunitas dalam menghadapi tantangan kehidupan di luar negeri.
“Program pengabdian ini mencakup sejumlah kegiatan utama, yakni penguatan kelembagaan komunitas mitra, pelatihan kesehatan, pelatihan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), mentoring keislaman, edukasi kesehatan keluarga, serta layanan kesehatan,” tambahnya.
Pada aspek kesehatan, peserta memperoleh penguatan pemahaman mengenai empat dimensi kesejahteraan, yaitu kesehatan mental, kesehatan fisik, kesehatan sosial, dan kesejahteraan spiritual.
Kesehatan mental ditekankan melalui pemahaman tentang pengelolaan stres, tekanan, dan emosi. Sementara itu, kesehatan fisik berkaitan dengan pola tidur, pemenuhan nutrisi, aktivitas olahraga, dan kebugaran. Aspek kesehatan sosial diarahkan pada kemampuan membangun hubungan yang sehat dengan keluarga, teman, dan komunitas. Adapun kesejahteraan spiritual diperkuat melalui ibadah dan penerapan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
“Integrasi keempat aspek tersebut menjadi penting karena produktivitas mahasiswa tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh kondisi fisik, mental, dan lingkungan sosialnya. Pemahaman mengenai kesehatan diharapkan membantu anggota komunitas menjaga keseimbangan antara studi, kehidupan sosial, dan kebutuhan pribadi,” tegasnya.

Suasana Diskusi bersama Mahasiswa Muslim Taiwan
Selain kesehatan, lanjutnya, penguatan kapasitas ekonomi dan kelembagaan komunitas menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian. Melalui pengembangan organisasi dan penguatan jejaring sosial, komunitas mahasiswa diharapkan mampu menjadi ruang saling mendukung, berbagi pengetahuan, serta mengembangkan potensi anggotanya secara berkelanjutan.
Penguatan kepemimpinan menjadi bagian lain dari program PkM-KI UMS. Materi yang diberikan menempatkan kepemimpinan sebagai amanah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab, integritas, dan orientasi pada kemaslahatan bersama.
Nilai-nilai kepemimpinan yang diperkenalkan meliputi amanah atau dapat dipercaya dan bertanggung jawab, shiddiq atau jujur dan benar, fathanah atau cerdas dan bijaksana, serta tabligh atau komunikatif dan transparan.
Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi landasan bagi pengurus dan anggota Muslim Student Association dalam mengelola organisasi, mengambil keputusan, membangun komunikasi, serta memberikan pelayanan kepada komunitas.
Program ini juga memperkenalkan nilai-nilai utama Muhammadiyah, antara lain penghargaan terhadap martabat manusia, ukhuwah atau persaudaraan, kasih sayang, etos kerja, kemanusiaan, keilmuan, dan pembangunan peradaban. Penguatan nilai tersebut diarahkan untuk membentuk komunitas mahasiswa Muslim yang berintegritas, terbuka, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Dengan demikian, pengembangan komunitas tidak hanya berorientasi pada keberlangsungan organisasi, tetapi juga pada pembentukan karakter dan peningkatan kontribusi sosial mahasiswa Muslim di lingkungan internasional.
Program PkM-KI ini dilaksanakan oleh tim multidisiplin UMS yang melibatkan keahlian di bidang ekonomi, manajemen, kesehatan, keislaman, dan pengembangan organisasi. Tim tersebut diketuai oleh Dr. Aflit Nuryulia Praswati, S.Sos., S.E., M.M., CMA., bersama Prof. Dr. Muzakar Isa, S.E., M.Si., CSBA., CIPE.; Dr. dr. Yusuf Alam Romadhon, M.Kes., Sp.KKLP.; Siti Aisyah, S.E., M.Si.; Alfiyatul Azizah, Lc., M.Ud.; dr. Asri Alfajri, M.A.R.S.; Candra Kusuma Wardana, S.E., M.B.A.; serta Ibrahim Hasan.
“Keterlibatan tim dari berbagai bidang keilmuan memungkinkan permasalahan komunitas mahasiswa internasional didekati secara lebih komprehensif. Tantangan yang dihadapi mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi atau kesehatan, tetapi juga membutuhkan dukungan kelembagaan, penguatan nilai spiritual, dan kepemimpinan yang efektif,” terang Aflit.
Melalui kegiatan ini, UMS memperluas kontribusi pengabdian kepada masyarakat pada tingkat internasional. Kolaborasi dengan komunitas mahasiswa di Taiwan menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi dalam menghadirkan pengetahuan dan pendampingan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat lintas negara.
“Program ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas Muslim Student Association di Taiwan dalam mengelola organisasi, menjaga kesehatan anggotanya, membangun kemandirian, serta mengembangkan komunitas yang adaptif dan berkelanjutan. Upaya tersebut sekaligus menegaskan peran UMS dalam memperluas manfaat keilmuan dan pengabdian melalui kolaborasi internasional,” pungkasnya. (Fika/Humas)
- Penulis: Fika
- Editor: Annisa' Yasfa Azzahra
