Mahasiswa UMS Raih Silver Medal WICE 2026 Lewat Inovasi Green Accounting Berbasi IoT dan Blockchain
- account_circle Muhammad Farhan
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 41
- comment 0 komentar
- print Cetak

Mahasiswa UMS Raih Silver Medal WICE 2026 Lewat Inovasi Green Accounting Berbasis IoT dan Blockchain
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID, SURAKARTA – Bagaimana memastikan laporan keberlanjutan perusahaan benar-benar mencerminkan kondisi lingkungan di lapangan? Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjawab tantangan tersebut melalui EnviroChain, inovasi digital berbasis Internet of Things (IoT) dan blockchain untuk mendukung pemantauan lingkungan secara real-time dan optimalisasi akuntansi hijau (green accounting).
Inovasi bertajuk “EnviroChain: Optimizing Blockchain and IoT-Based Green Accounting Records in Sensitive Industrial Sectors in Indonesia” tersebut berhasil meraih Silver Medal dalam ajang 8th World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026 di SEGi University, Malaysia. Kompetisi internasional ini berlangsung melalui rangkaian daring dan luring, dengan tahap luring pada 20-24 September 2026.
Ketua Tim EnviroChain, Heilin Alber Siva Haryoko, menjelaskan bahwa inovasi tersebut berangkat dari kesenjangan antara kebijakan keberlanjutan perusahaan dan praktik lingkungan dalam operasional industri. Menurutnya, pelaporan keberlanjutan membutuhkan dukungan sistem yang mampu menyajikan data aktual, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Ide pengembangan EnviroChain berawal dari persoalan adanya kesenjangan antara kebijakan formal perusahaan dengan praktik operasional di lapangan. Kami melihat bahwa perusahaan tidak hanya membutuhkan laporan keberlanjutan, tetapi juga sistem yang dapat membantu memastikan data lingkungan berasal dari kondisi aktual dan dapat dipantau secara berkelanjutan,” ujar Heilin, Jumat (2/10/2026).
EnviroChain dirancang sebagai platform pelaporan lingkungan terdesentralisasi yang mengintegrasikan sensor IoT dan blockchain. Sensor digunakan untuk memantau sejumlah parameter lingkungan, mulai dari emisi CO₂, NOx, SO₂, partikulat, pH air limbah, suhu, hingga kandungan logam berat. Data hasil pemantauan kemudian dikirimkan ke server untuk diproses dan dicatat dalam sistem.
Untuk memperkuat transparansi dan integritas pencatatan, EnviroChain menggunakan permissioned blockchain Hyperledger Fabric dengan mekanisme cryptographic hash. Data yang masuk melalui sistem menjalani proses validasi sebelum dicatat dalam distributed ledger, sehingga riwayat pencatatan dirancang agar tidak mudah diubah atau dimanipulasi.
Platform ini juga dilengkapi Real-Time Environmental Dashboard yang menyajikan hasil pemantauan sensor dalam bentuk grafik interaktif. Selain itu, fitur AI Consultant dirancang untuk menganalisis tren emisi dan konsumsi energi sekaligus memberikan rekomendasi efisiensi energi, optimalisasi proses operasional, dan strategi pengurangan emisi.
Pada aspek pelaporan, EnviroChain menghadirkan Green Leaderboard untuk menampilkan kinerja lingkungan perusahaan berdasarkan data tervalidasi serta ESG Reporter untuk membantu pengolahan data menjadi laporan keberlanjutan yang mengacu pada standar Global Reporting Initiative (GRI) dan POJK 51/2017. Ketiga aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) diintegrasikan melalui pemantauan lingkungan, transparansi pencatatan, dan akses informasi kinerja lingkungan bagi publik.
Pengembangan inovasi ini melibatkan mahasiswa lintas disiplin, yakni Heilin Alber Siva Haryoko dan Fauzan Muhammad Ihsan dari Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Alhimnie Rusydie dari Teknik Informatika Fakultas Komunikasi dan Informatika, serta Muhammad Yusuf Ridho dari Teknik Industri Fakultas Teknik UMS. Kolaborasi tersebut didampingi dosen pembimbing Candra Kusuma Wardana, S.E., MBA.
“Kolaborasi lintas disiplin menjadi bagian penting dalam pengembangan EnviroChain. Dari Manajemen, kami melihat persoalan dari sisi green accounting, ESG, dan pelaporan lingkungan. Kemudian aspek teknologi kami kembangkan bersama teman-teman dari Teknik Informatika, sementara Teknik Industri membantu kami melihat bagaimana solusi ini dapat dikaitkan dengan proses dan kebutuhan di lingkungan industri,” jelas Heilin.
Sementara itu, Fauzan Muhammad Ihsan menuturkan bahwa pengembangan EnviroChain tidak hanya berfokus pada penciptaan teknologi, tetapi juga bagaimana solusi tersebut dapat menjawab kebutuhan nyata industri. Sebelum mengikuti presentasi di hadapan dewan juri internasional, tim terlebih dahulu melalui proses seleksi dan memperoleh Letter of Acceptance (LoA). Apresiasi dewan juri dalam sesi presentasi mengantarkan EnviroChain meraih Silver Medal pada sesi awarding WICE 2026.
“Kami berharap EnviroChain tidak berhenti sebagai sebuah inovasi dalam kompetisi, tetapi dapat terus dikembangkan agar memberikan manfaat yang lebih luas. Harapannya, teknologi ini dapat membantu perusahaan tidak hanya melaporkan kinerja lingkungan, tetapi juga menggunakan data tersebut untuk melakukan perbaikan nyata dalam operasional,” pungkas Fauzan.
Kontributor: Alvian/Humas
Editor: Muhammad Farhan
- Penulis: Muhammad Farhan