Bedah Kriteria Pemimpin Ideal, BEM KASTRAT FAI UMS Gelar Diskusi Lintas Ormawa
- account_circle Putri Oktaviana Susanti
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 14
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto Bersama Peserta dan Panitia Diskusi Publik Incompetence is a Crime
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID, SURAKARTA – Pentingnya kompetensi dan integritas dalam kepemimpinan menjadi sorotan dalam diskusi publik bertajuk Incompetence is a Crime yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Bidang Kajian Strategis (KASTRAT) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Kamis (29/10/2026).
Kegiatan yang melibatkan sejumlah organisasi mahasiswa (Ormawa) FAI UMS ini menghadirkan perwakilan Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HMP PAI), Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (HMP IQT), Hukum Ekonomi Syariah (HMP HES), serta Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Muhammad Abduh. Diskusi tersebut diikuti puluhan mahasiswa UMS dengan mengangkat persoalan urgensi menjadi, memilih, dan mempersiapkan pemimpin yang kompeten.
Tema Incompetence is a Crime atau ketidakmampuan merupakan kejahatan diangkat untuk mengkritisi bahaya kepemimpinan tanpa kapasitas yang memadai. Sebab, inkompetensi seorang pemimpin bukan sekadar persoalan kelemahan personal, melainkan dapat berdampak pada kepentingan banyak orang melalui keputusan dan kebijakan yang tidak tepat.
Diskusi diawali oleh Ketua HMP PAI, Rio Ramadhani, yang mengulas inkompetensi dari perspektif pendidikan dan moral. Ia menyoroti pentingnya sistem pendidikan dalam mencetak calon pemimpin yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga integritas dan kapabilitas kepemimpinan. Pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk kualitas individu sebelum menerima tanggung jawab yang lebih besar di tengah masyarakat.

Sesi Pemaparan Materi/Diskusi oleh Perkawilan ORMAWA
Selanjutnya, Ketua Umum HMP IQT, Muhammad Yusuf A., menguraikan kriteria kepemimpinan ideal berdasarkan perspektif Al-Qur’an. Ia menekankan pentingnya menyerahkan suatu urusan kepada orang yang memiliki keahlian dan kapasitas di bidangnya. Amanah yang diberikan kepada seseorang tanpa kompetensi berisiko menimbulkan kesalahan, bahkan dapat membawa kehancuran terhadap urusan yang dipimpinnya.
Dari perspektif Hukum Ekonomi Syariah, Ketua HMP HES, Gandi Teguh A., membahas dampak inkompetensi pemimpin terhadap kebijakan publik, keadilan sosial, dan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Menurut perspektif yang dipaparkannya, keputusan pemimpin harus didasarkan pada ilmu dan pertimbangan yang tepat agar sejalan dengan prinsip maqashid syariah, yakni tujuan-tujuan hukum Islam yang berorientasi pada terwujudnya kemaslahatan.
Sementara itu, Ketua Umum IMM Muhammad Abduh, Handito Putro, mengkaji bahaya pemimpin inkompeten melalui perspektif Trilogi IMM atau Tri Kompetensi Dasar, yaitu religiusitas, intelektualitas, dan humanitas.
Ketiga kompetensi tersebut menjadi landasan penting dalam kepemimpinan. Dari dimensi religiusitas, pemimpin harus menyadari bahwa kepemimpinan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Dari dimensi intelektualitas, pemimpin dituntut memiliki landasan keilmuan dan kemampuan berpikir yang memadai. Adapun dari dimensi humanitas, kepemimpinan harus berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan serta menghindari kebijakan yang merugikan masyarakat.
Tidak hanya membahas kriteria pemimpin ideal, diskusi ini juga mengarahkan mahasiswa untuk melakukan refleksi terhadap kapasitas dirinya sendiri. Mahasiswa tidak cukup hanya kritis dalam menilai kompetensi seorang pemimpin, tetapi juga perlu membangun integritas, memperluas wawasan, dan mengembangkan kemampuan sesuai bidang keilmuannya.
Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi pengkritik kebijakan, tetapi juga calon pemimpin yang mampu menghadirkan perubahan dan memberikan kemanfaatan bagi masyarakat.
Melalui kolaborasi lintas organisasi mahasiswa ini, BEM KASTRAT bersama Ormawa FAI UMS berharap diskusi tersebut dapat menumbuhkan kesadaran mahasiswa agar lebih kritis dan selektif dalam menyikapi persoalan kepemimpinan. Kompetensi dan integritas diharapkan tidak berhenti menjadi wacana dalam forum diskusi, tetapi terinternalisasi dalam sikap dan tindakan mahasiswa, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat.
Kontributor: Putri Oktaviana Susanti dan Irsyad Hakim Affandi
Editor: Anqiya Zaki Mushoddiq
- Penulis: Putri Oktaviana Susanti
- Editor: Anqiya Zaki Mushoddiq
