Inspirasi

Dari Vakum Menuju Bergerak: Perjalanan Rudi Membangun Muhammadiyah Mentawai

Kepulauan Mentawai dikenal sebagai wilayah kepulauan dengan tantangan geografis yang tidak ringan. Akses transportasi terbatas, jarak antarpulau berjauhan, jaringan komunikasi belum merata, serta kondisi umat Islam sebagai minoritas menjadi realitas sehari-hari. Dalam situasi seperti inilah Muhammadiyah dituntut untuk tidak sekadar hadir sebagai organisasi, tetapi benar-benar hidup dan berperan bagi umat. Tantangan itulah yang kini dihadapi dan dijalani oleh Rudi, S.Pi., M.Si., Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Perjalanan Rudi di Muhammadiyah dimulai dari bawah. Pada 2016, ia diminta mengemban amanah sebagai Sekretaris Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kepulauan Mentawai. Saat itu, Muhammadiyah di Mentawai masih berjalan terseok, dengan pergerakan yang belum tertata dan minim kader yang memahami ideologi persyarikatan.

“Tahapan awal itu lebih banyak belajar dan menguatkan diri. Muhammadiyah di Mentawai belum solid, tapi saya yakin kalau dikelola dengan sabar, perlahan bisa bangkit,” ujar Rudi pada Ahad (14/12/2025).

Rudi, S.Pi., M.Si., Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Tahun 2019, keterlibatannya dalam pengelolaan organisasi semakin intens. Pada 2022, ia dipercaya menjadi Bendahara PDM Kepulauan Mentawai, posisi yang membuatnya memahami secara langsung kondisi riil persyarikatan, mulai dari keterbatasan keuangan hingga persoalan aset yang belum tertata dengan baik. Puncaknya, pada Musyawarah Daerah ke-4 tahun 2023 sekaligus Musyawarah pertama PDM Kepulauan Mentawai yang dilaksanakan di Kepulauan Mentawai, Rudi dipilih sebagai Ketua PDM Kepulauan Mentawai hingga sekarang.

Muhammadiyah dan Panggilan Dakwah di Daerah Minoritas

Bagi Rudi, motivasi menghidupkan Muhammadiyah di Mentawai berangkat dari keyakinan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan amar makruf nahi mungkar yang harus memberi manfaat nyata.

“Muhammadiyah harus hadir memberi nilai manfaat, apalagi di daerah minoritas Islam seperti Mentawai. Kita tidak bisa hanya bicara, tapi harus benar-benar dirasakan kehadirannya oleh umat,” tegasnya.

Ia memandang Muhammadiyah bukan hanya sebagai organisasi dakwah, tetapi juga mitra strategis pemerintah daerah dalam pembangunan umat. Melalui pendekatan sosial, edukatif, dan keumatan, Muhammadiyah diharapkan menjadi wadah pembinaan umat serta penguatan nilai-nilai keislaman bagi Muslim Mentawai.

Membenahi Organisasi yang Pernah Vakum

Saat Rudi terpilih sebagai ketua, kondisi Muhammadiyah Mentawai menghadapi banyak persoalan. Pergerakan persyarikatan sempat vakum dan kurang terkelola, konflik kepengurusan masa lalu meninggalkan dampak psikologis, dan Muhammadiyah kurang mendapatkan simpati masyarakat meskipun memiliki nama besar secara nasional.

Aset persyarikatan tidak tertata dengan baik, amal usaha Muhammadiyah bahkan tidak sepenuhnya dikelola oleh kader sendiri. Jumlah kader yang memahami ideologi Muhammadiyah sangat terbatas, sementara tertib administrasi dan dokumentasi organisasi masih lemah. Kondisi diperparah dengan unsur pimpinan yang lebih banyak tinggal di luar Mentawai, sehingga koordinasi dan rapat tidak berjalan optimal.

“Kami jujur melihat kondisi apa adanya. Muhammadiyah besar di luar Mentawai, tapi di Mentawai justru kurang terasa. Ini yang harus kami benahi satu per satu,” kata Rudi.

Konsolidasi dan Ideologi sebagai Kunci

Langkah pertama yang ditempuh Rudi adalah konsolidasi internal dan penguatan ideologi Muhammadiyah. Ia meyakini bahwa organisasi tidak akan bergerak tanpa pemahaman ideologis yang kuat.

“Kader harus paham dulu ideologi Muhammadiyah. Kalau ideologi kuat, gerakan akan hidup meski dengan segala keterbatasan,” ujarnya.

Pengkaderan dilakukan sejak dini, salah satunya dengan mendorong kader muda untuk menuntut ilmu di pondok pesantren Muhammadiyah. Pengajian-pengajian Muhammadiyah diaktifkan kembali sebagai ruang pembinaan, dialog, dan penguatan nilai-nilai keislaman.

Pembinaan Mualaf sebagai Fokus Keumatan

Di Mentawai, pembinaan mualaf menjadi perhatian serius. Sebelum ada upaya terstruktur, pembinaan mualaf berjalan tidak terkoordinasi, tidak berkelanjutan, dan belum didukung data yang valid. Padahal, jumlah mualaf terus meningkat karena berbagai faktor, mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga perkawinan.

“Mualaf adalah umat yang paling rentan. Kalau tidak kita dampingi, mereka sangat mudah goyah. Karena itu pembinaan mualaf menjadi fokus utama Muhammadiyah di Mentawai,” jelas Rudi.

Muhammadiyah kemudian menghadirkan da’i di setiap amal usaha untuk mendampingi dan membina umat, termasuk para mualaf. Strateginya tidak hanya penguatan akidah, tetapi juga penguatan ekonomi melalui gerakan mualaf berdaya.

“Kita ingin mualaf merasa Islam itu rahmatan lil ‘alamin, bukan beban. Keyakinan harus dikuatkan, tapi ekonomi juga harus diperhatikan,” tambahnya.

Dakwah dengan Ikhlas di Daerah 3T

Menggerakkan Muhammadiyah di daerah 3T seperti Mentawai menuntut keikhlasan dan kesabaran. Keterbatasan dana, akses yang sulit, serta kondisi umat sebagai minoritas adalah tantangan nyata.

“Muhammadiyah tidak menjanjikan gaji atau imbalan materi. Yang kita harapkan hanya rida dan pahala dari Allah SWT. Ini kerja ikhlas,” tutur Rudi.

Kehadiran Dai LDK Muhammadiyah di Kepulauan Mentawai

Ia berpesan kepada kader Muhammadiyah di pelosok agar tetap istiqamah berjihad di jalan dakwah, sabar dalam pendampingan mualaf, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan terus memberi manfaat bagi umat.

Bagi Rudi, momen paling berkesan adalah ketika Muhammadiyah mampu melebur dan diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Muhammadiyah harus hadir membawa keberkahan, bukan hanya untuk umat Islam, tapi juga bagi masyarakat luas. Mentawai adalah bagian dari Sumatera Barat, tanah lahirnya Muhammadiyah. Sudah seharusnya Muhammadiyah hidup dan berdaya di sini,” pungkasnya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button