Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Inspirasi » Seni sebagai Dakwah, UMS Tegaskan Pandangan Muhammadiyah terhadap Kesenian

Seni sebagai Dakwah, UMS Tegaskan Pandangan Muhammadiyah terhadap Kesenian

  • account_circle Zulfan Falakhi
  • calendar_month Kamis, 19 Jun 2025
  • visibility 80
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Kajian Tarjih secara daring melalui Zoom Meeting pada Selasa (17/6). Kajian pada kesmapatan kali ini mengangkat tema “Seni dalam Perspektif Muhammadiyah”, merujuk pada hasil Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih ke-23 yang dilaksanakan di Banda Aceh pada tahun 1995. Narasumber utama dalam kajian ini adalah Yayuli, S.Ag., M.P.I., yang memaparkan prinsip-prinsip seni dalam pandangan Islam sebagaimana dirumuskan oleh Muhammadiyah.

Dalam paparannya, Yayuli menjelaskan bahwa seni dipandang sebagai bagian dari fitrah manusia yang telah dianugerahkan oleh Allah. Fitrah tersebut mengandung unsur keindahan yang tidak boleh diabaikan, melainkan harus dipelihara sesuai dengan ketentuan syariat.

“Seni adalah potensi dasar manusia yang mencerminkan keindahan, dan karena itu ia bersifat mubah selama tidak menimbulkan mudarat,” ujar Yayuli yang juga sebagai Kabid Pengalaman AIK dan Kaderisasi Pondok Lembaga Pengembangan Pondok Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) UMS.

 

Kabid Pengamalan AIK dan Kaderisasi Pondok Lembaga Pengembangan Pondok Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Yayuli, S.Ag., M.P.I.

Dua diktum penting yang lahir dari Munas Tarjih ke-23 Banda Aceh menjadi dasar pandangan Muhammadiyah terhadap seni. Pertama, seni merupakan fitrah manusia yang harus dijaga. Kedua, menciptakan dan menikmati seni diperbolehkan selama tidak menyebabkan kerusakan (fasad), bahaya (dharar), atau menjauhkan dari Allah (ba’id ‘anillah).

Pandangan tersebut, lanjut Yayuli, kemudian ditegaskan kembali dalam Muktamar Muhammadiyah ke-44 di Jakarta pada tahun 2000, yang menetapkan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM).

Dalam dokumen itu disebutkan bahwa seni dan budaya dapat menjadi media dakwah dan sarana membangun peradaban yang berkeadaban.

“Muhammadiyah juga mendorong pengembangan sastra Islam sebagai bagian dari strategi kebudayaan yang bernilai tauhid. Seni dipandang tidak bertentangan dengan prinsip tauhid, melainkan menjadi wujud nyata dari kesadaran terhadap sifat-sifat Allah yang Mahabaik, Mahabenar, dan Mahaindah,” kata dosen UMS itu.

Untuk memperkuat strategi kebudayaan, Muhammadiyah menyelenggarakan Halaqah Tarjih pada 2–4 November 2001 di Solo. Halaqah ini menghasilkan dua pendekatan strategis, yakni strategi pro-eksistensi dan strategi ko-eksistensi dalam pengembangan seni tradisi yang selaras dengan nilai-nilai Islam.

Yayuli juga menyinggung soal hukum bentuk-bentuk seni seperti seni patung, lukisan, dan relief. Ia menekankan bahwa dalam Al-Qur’an tidak ditemukan larangan eksplisit atas bentuk-bentuk seni tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam kisah Nabi Sulaiman dalam Surat Saba’ ayat 12–13 yang menggambarkan adanya patung-patung dalam istananya.

“Namun, seni tetap harus berada dalam koridor syariat. Ia tidak boleh melahirkan kesombongan, kefasikan, atau menjadi pengganti zikir kepada Allah,” tegasnya.

Dalam konteks ini, Muhammadiyah menekankan pentingnya pemahaman yang mendalam dan panduan yang jelas untuk menilai berbagai ekspresi seni dalam kehidupan modern.

Kajian Tarjih ini juga menyinggung praktik seni dalam kegiatan internal kampus, seperti seni tari yang ditampilkan pada pelantikan pimpinan universitas.

Menurut Yayuli, diperlukan rambu-rambu yang sesuai agar pertunjukan seni tetap mencerminkan nilai-nilai Islam yang diajarkan Muhammadiyah. Kajian ini menjadi bagian dari upaya UMS dalam membangun kesadaran budaya Islami di lingkungan akademik. (Yusuf/Humas)

Dua diktum penting yang lahir dari Munas Tarjih ke-23 Banda Aceh menjadi dasar pandangan Muhammadiyah terhadap seni. Pertama, seni merupakan fitrah manusia yang harus dijaga. Kedua, menciptakan dan menikmati seni diperbolehkan selama tidak menyebabkan kerusakan (fasad), bahaya (dharar), atau menjauhkan dari Allah (ba’id ‘anillah).

Pandangan tersebut, lanjut Yayuli, kemudian ditegaskan kembali dalam Muktamar Muhammadiyah ke-44 di Jakarta pada tahun 2000, yang menetapkan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM).

Dalam dokumen itu disebutkan bahwa seni dan budaya dapat menjadi media dakwah dan sarana membangun peradaban yang berkeadaban.

“Muhammadiyah juga mendorong pengembangan sastra Islam sebagai bagian dari strategi kebudayaan yang bernilai tauhid. Seni dipandang tidak bertentangan dengan prinsip tauhid, melainkan menjadi wujud nyata dari kesadaran terhadap sifat-sifat Allah yang Mahabaik, Mahabenar, dan Mahaindah,” kata dosen UMS itu.

Untuk memperkuat strategi kebudayaan, Muhammadiyah menyelenggarakan Halaqah Tarjih pada 2–4 November 2001 di Solo. Halaqah ini menghasilkan dua pendekatan strategis, yakni strategi pro-eksistensi dan strategi ko-eksistensi dalam pengembangan seni tradisi yang selaras dengan nilai-nilai Islam.

Yayuli juga menyinggung soal hukum bentuk-bentuk seni seperti seni patung, lukisan, dan relief. Ia menekankan bahwa dalam Al-Qur’an tidak ditemukan larangan eksplisit atas bentuk-bentuk seni tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam kisah Nabi Sulaiman dalam Surat Saba’ ayat 12–13 yang menggambarkan adanya patung-patung dalam istananya.

“Namun, seni tetap harus berada dalam koridor syariat. Ia tidak boleh melahirkan kesombongan, kefasikan, atau menjadi pengganti zikir kepada Allah,” tegasnya.

Dalam konteks ini, Muhammadiyah menekankan pentingnya pemahaman yang mendalam dan panduan yang jelas untuk menilai berbagai ekspresi seni dalam kehidupan modern.

Kajian Tarjih ini juga menyinggung praktik seni dalam kegiatan internal kampus, seperti seni tari yang ditampilkan pada pelantikan pimpinan universitas.

Menurut Yayuli, diperlukan rambu-rambu yang sesuai agar pertunjukan seni tetap mencerminkan nilai-nilai Islam yang diajarkan Muhammadiyah. Kajian ini menjadi bagian dari upaya UMS dalam membangun kesadaran budaya Islami di lingkungan akademik. (Yusuf/Humas)

  • Penulis: Zulfan Falakhi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Siswa SMA Muhammadiyah Al-Ghifari Borong Prestasi di FLS3N Lampung Timur 2026

    Siswa SMA Muhammadiyah Al-Ghifari Borong Prestasi di FLS3N Lampung Timur 2026

    • calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 76
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Lampung Timur – Siswa SMA Muhammadiyah Al-Ghifari kembali menorehkan prestasi dalam ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Nasional (FLS3N) tingkat Kabupaten Lampung Timur Tahun 2026. Dalam kegiatan yang berlangsung pada 6 April hingga 2 Mei 2026 tersebut, hasil perlombaan diumumkan pada 5 Mei 2026, dengan dua siswa berhasil meraih juara, yakni Juara 3 Cipta Puisi […]

  • Semarak CRM Awards VI di UMS: Ajang Prestasi Cabang, Ranting, dan Masjid Muhammadiyah

    Semarak CRM Awards VI di UMS: Ajang Prestasi Cabang, Ranting, dan Masjid Muhammadiyah

    • calendar_month Selasa, 14 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 71
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Cabang Ranting Muhammadiyah (CRM) Awards ke VI, seleksi untuk Region Jawa Bagian Timur. Kegiatan ini berlangsung pada Minggu (12/10) di Fakultas Kedokteran, UMS. Agenda seleksi CRM Awards dari Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini diikuti oleh 27 […]

  • BIKERSMU CHAPTER KABUPATEN BANDUNG Touring Sosial ke Tasikmalaya Ponpes Amanah

    BIKERSMU CHAPTER KABUPATEN BANDUNG Touring Sosial ke Tasikmalaya Ponpes Amanah

    • calendar_month Selasa, 30 Sep 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 48
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, BANDUNG – Touring dari Ciparay, Kab. Bandung ke Pesantren Amanah, Kota Tasikmalaya Ahad 28 September 2025 : Persiapan Touring 1. Pengecekan Kendaraan: Sebelum berangkat, pastikan kendaraan dalam kondisi baik, termasuk oli, ban, dan rem. 2. Rute dan Waktu: Tentukan rute yang akan diambil dan perkirakan waktu tempuh. Dari Ciparay ke Tasikmalaya, perjalanan memakan waktu sekitar 2-3 […]

  • Rahasia dan Makna Bulan Sya’ban

    Rahasia dan Makna Bulan Sya’ban

    • calendar_month Kamis, 22 Feb 2024
    • account_circle Najihus Salam
    • visibility 342
    • 0Komentar

    Oleh: Najihus Salam Mahasantri Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS Bulan Sya’ban adalah bulan ke-8 dalam kalender islam yang disebut kalender hijriah. Bulan ini adalah salah satu bulan yang diistimewakan oleh Nabi Muhammad SAW. Banyak keutamaan-keutamaan di bulan ini, salah satunya dalam bulan ini juga Nabi Muhammad SAW banyak melakukan puasa sunnah. Banyak dalil-dalil syar’i yang […]

  • Akhir Tahun Mahasiswa UAD Angkatan 2023 sesi 2, Manfaatkan Waktu Untuk Ikut Baitul Arqam

    Akhir Tahun Mahasiswa UAD Angkatan 2023 sesi 2, Manfaatkan Waktu Untuk Ikut Baitul Arqam

    • calendar_month Selasa, 31 Des 2024
    • account_circle Najihus Salam
    • visibility 134
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, YOGYAKARTA – Lembaga Pengembangan Studi Islam (LPSI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali mengadakan Baitul Arqam sesi 2 untuk para mahasiswa UAD angkatan 2023 pada hari Sabtu-Ahad (28-29/12) di Masjid Islamic Center UAD Kampus IV. Kegiatan ini disiarkan secara offline dan live on Youtube LPSI UAD. Untuk peserta Baitul Arqam pada sesi 2 ini yang […]

  • UMS Gelar Pendampingan Mahasiswa Penerima Beasiswa Kader, Siapkan Kader Unggul Muhammadiyah

    UMS Gelar Pendampingan Mahasiswa Penerima Beasiswa Kader, Siapkan Kader Unggul Muhammadiyah

    • calendar_month Minggu, 19 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 62
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID., SURAKARTA – Lembaga Pengembangan Persyarikatan, Pengkaderan, dan Alumni (LP3A) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar kegiatan Pendampingan dan Koordinasi Penerima Beasiswa Kader UMS pada Jumat (18/10) di Masjid Pesantren Mahasiswa (Pesma) Internasional KH Mas Mansur, Kampus IV UMS. Kegiatan ini bertujuan untuk mengarahkan sekaligus mengkoordinasi mahasiswa penerima beasiswa yang berada di bawah naungan LP3A, serta […]

expand_less