BeritaInspirasiJateng

Riset Corner IMM Jateng: Dari Kader Struktural Menuju Gerakan Intelektual

KABARMUH. ID, Jawa Tengah – Di tengah tantangan kemandekan tradisi akademik di kalangan mahasiswa, Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Jawa Tengah meluncurkan Riset Corner #1 sebagai ruang konsolidasi intelektual kader. Kegiatan bertajuk “Motivasi dan Orientasi Kader IMM: Meneguhkan Tradisi Akademik dan Riset untuk Gerakan Intelektual yang Berkemajuan” ini digelar secara daring pada Selasa (20/1/2026) pukul 19.30 WIB dan diikuti oleh kader IMM se-Jawa Tengah.

Meski dilaksanakan secara virtual, forum berjalan dinamis dan menunjukkan antusiasme tinggi peserta. Diskusi berlangsung aktif, menunjukkan bahwa kader benar-benar membutuhkan ruang akademik yang hidup, bukan sekadar acara formal, tetapi tempat untuk belajar berpikir kritis dan memahami riset.

Riset Corner #1 menghadirkan Dr. Moh. Indra Bangsawan, S.H., M.H., Ketua Bidang Lingkungan Hidup IMM Jawa Tengah periode 2022–2024 sekaligus Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden Republik Indonesia, sebagai pemateri utama. Kegiatan ini dirancang sebagai langkah awal untuk meneguhkan budaya riset dan intelektualitas sebagai fondasi gerakan IMM yang progresif dan relevan dengan tantangan zaman.

Dalam sambutannya, Ketua Bidang Riset dan Teknologi DPD IMM Jawa Tengah, Jundi Abdullah, menegaskan bahwa Riset Corner bukan agenda insidental, melainkan upaya membangun ekosistem riset yang berkelanjutan.
“Kami berharap ini menjadi awal dari ekosistem riset di IMM Jawa Tengah yang terus bergulir ke depannya,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua Umum DPD IMM Jawa Tengah, Nia Nur Pratiwi, menekankan pentingnya menjadikan riset sebagai identitas kader IMM. Menurutnya, penguasaan metodologi riset merupakan modal strategis bagi Immawan dan Immawati untuk berkiprah di berbagai ruang publik.
“Kami berharap Riset Corner ini menjadi tradisi yang terus dilanjutkan. Riset harus menjadi nilai tambah kader IMM agar mampu berkontestasi di ruang-ruang publik lain dengan bekal metodologi yang kuat dan kapasitas sebagai peneliti. Program ini tidak boleh berhenti di DPD, tetapi harus diturunkan hingga cabang dan komisariat,” tegasnya.

Dalam pemaparannya, Dr. Moh. Indra Bangsawan menyoroti pentingnya penataan motivasi dan orientasi kader IMM sebelum berbicara lebih jauh tentang riset. Ia merujuk pada pemikiran Prof. Dr. Haedar Nashir yang menekankan lima fondasi utama kader IMM.

Pertama, kader harus meneguhkan orientasi gerakan berbasis Matan Ideologi (MAD), MKCHM, dan Kepribadian Muhammadiyah. Kedua, membangun tradisi iqra dengan keberanian membaca berbagai referensi secara terbuka. Ketiga, kemampuan memanage diri, sebab kegagalan sering kali bersumber dari ketidakmampuan menaklukkan diri sendiri. Keempat, menumbuhkan militansi bermuhammadiyah yang dilandasi integritas. Kelima, membumikan gagasan, yakni mengubah ide menjadi kekuatan nyata yang menggerakkan kehidupan organisasi.

Ia menegaskan bahwa kelima fondasi tersebut menjadi prasyarat penting sebelum kader masuk pada wilayah teknis dan konseptual riset. Menurutnya, riset tidak boleh dipahami sekadar sebagai kewajiban akademik, tetapi sebagai instrumen perubahan.
“Riset adalah upaya sistematis untuk menemukan kebenaran melalui metode ilmiah, yang mencakup tujuan yang jelas, usaha untuk mencapai tujuan tersebut, serta penggunaan metode ilmiah yang tepat,” jelasnya.

Melalui Riset Corner #1, DPD IMM Jawa Tengah menegaskan komitmennya untuk mengembalikan riset dan intelektualitas sebagai nadi gerakan. Forum ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya kader IMM yang tidak hanya aktif secara struktural, tetapi juga kuat secara akademik dan mampu menjawab problem sosial secara ilmiah.

Kontributor: Faozan Syifaurrahman

Editor: Muhammad Farhan

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button