Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » HPKP IMM dan BEM FAI UMP Gelar Diskusi Politik Perempuan: Perempuan Harus Bersuara

HPKP IMM dan BEM FAI UMP Gelar Diskusi Politik Perempuan: Perempuan Harus Bersuara

  • account_circle Adi Kurnia
  • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
  • visibility 83
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KABARMUH.ID, PURWOKERTO – Jum’at (24/4/2026), Bidang Hikmah Politik dan Kebijakan Publik (HPKP) IMM Komisariat Buya Hamka Universitas Muhammadiyah Purwokerto bersama Kementerian Sosial Politik (Sospol) BEM Fakultas Agama Islam UMP menggelar diskusi politik perempuan dengan tema “Dari Raden Ajeng Kartini ke Generasi Kini: Antara Emansipasi, Relevansi Perjuangan, dan Realitas Kesetaraan dalam Politik Gender”. Kegiatan yang berlangsung di lingkungan kampus UMP ini diikuti oleh sejumlah komisariat di Cabang A.K. Anshori Purwokerto serta para delegasi BEM Fakultas se-UMP.

Narasumber tunggal, Muhandisa Elvin Pramita, memantik diskusi dengan menyoroti pemikiran kritis R.A. Kartini yang kerap direduksi sekadar simbol kebaya dan tata krama. Padahal, melalui surat-suratnya kepada Stella Zeehandelaar sejak 1899, Kartini secara gamblang membahas pendidikan, poligami, feodalisme, hingga kritik sistem kolonial. Peneliti Elisabeth Riedel menyebut surat-surat itu sebagai pemikiran politik radikal, bukan curhat biasa. Penolakan Kartini terhadap feodalisme terekam dalam kalimat ikoniknya: “Panggil aku Kartini saja”  keberanian seorang putri bupati yang sadar menolak privilese gelarnya sendiri.

Pemaparan kemudian merambah pada tantangan emansipasi masa kini. Hak-hak restoratif perempuan meliputi keamanan dan privasi mutlak, kebebasan bersuara dan mengkritik, otonomi ekspresi diri, kesetaraan karier dan kepemimpinan, serta penegakan hukum tegas terhadap kekerasan seksual. Muhandisa menegaskan bahwa Hak Penegakan Keadilan Hukum harus didorong dengan sanksi berat seperti skorsing atau DO bagi pelaku kejahatan seksual, guna memberikan efek jera absolut. Selain itu, Hak Perlindungan Etika Interaksi juga krusial: menolak segala bentuk normalisasi pelecehan verbal, body shaming, maupun candaan tidak etis, baik di ruang sosial maupun digital.

“Perempuan itu harus dihargai. Sebagai laki-laki, ketika ada perempuan lewat, jangan dipandang dengan cara yang merendahkan. Bukan karena dia memakai baju ketat atau longgar, tapi karena dia manusia yang punya martabat,” tegas Muhandisa. Ia menjelaskan bahwa penghormatan terhadap perempuan dimulai dari kesadaran paling dasar: tidak menjadikan tubuh perempuan sebagai objek pandang atau bahan candaan. “Perempuan terlalu murah jika hanya dinilai dari lekuk tubuhnya. Ia lebih harum dari kasturi, menyempurnakan yang cacat, memberi riuh bagi yang sunyi.”

Diskusi semakin hidup saat Hasyifa, salah satu peserta, melontarkan pertanyaan kritis: “Apakah pendidikan Indonesia gagal melahirkan perempuan-perempuan yang kritis?”

Menjawab pertanyaan ini, Muhandisa menjelaskan bahwa kegagalan pendidikan tidak bersifat mutlak, namun sistem pendidikan di Indonesia memang masih sarat dengan bias gender dan cenderung mengajarkan kepatuhan ketimbang keberanian bersuara. Ia mencontohkan bagaimana narasi sejarah sering meminggirkan peran perempuan kritis. Terkait isu pemerkosaan 1998, Muhandisa menegaskan: “Pemerkosaan 98 tidak akan pernah bisa dihapus. Siapa yang bicara ‘lupakan 98’ berarti dia sedang menyiapkan generasi yang tunduk pada kebiadaban. Luka sejarah tidak bisa diputihkan. Justru pendidikan harus berani membuka luka itu agar tidak bernanah. Pendidikan yang gagal adalah pendidikan yang mengajarkan kita melupakan, bukan belajar dari kesalahan.”

Ia lalu mengajak seluruh peserta khususnya perempuan untuk berefleksi: “Kamu mau jadi perempuan seperti apa? Jadilah perempuan yang bersuara. Jangan seperti luka yang dipendam hingga jadi nanah. Karena perempuan yang diam hanya akan menjadi mumi yang kehilangan harga diri.”

Sebagai penutup, peserta diajak merefleksikan teladan tokoh perempuan lintas zaman: Khadijah, wanita pertama pengimani Islam yang mendonasikan hartanya untuk dakwah; Ibu Sumarsih, pencetus Aksi Kamisan yang telah digelar lebih dari 900 kali di berbagai kota Indonesia; serta Christina Hammock Koch, astronot wanita pemecah rekor 328 hari di Stasiun Luar Angkasa Internasional dan misi Artemis II mengelilingi bulan.

____________________________________________

PUISI “PEREMPUAN” Karya Muhandisa Elvi Pramita
(Dibacakan di akhir diskusi)

saya astuti
anak seorang gerwani
yang bapaknya mati ditembak polisi
dicaci, maki, sumpah serapah sudah seperti sarapan pagi
tapi hal yang paling aku sesali adalah menjadi perempuan
pe rem puan. seolah menjadi kutukan abadi
andai saja aku laki-laki aku dihalalkan untuk melawan
2 dekade aku kehilangan tubuhku, kesucianku
siapa pula laki-laki yang mau melirik perempuan tidak perawan
lagi pula di negara ini perempuan selalu dinilai dari tubuhnya
nama asliku chen li, aku tionghoa yang diperkosa tahun 65
negeriku bungkam, tidak ada untungnya juga membela minoritas yang tertindas
bahkan katanya, luka masa laluku akan segera diputihkan
seolah semua kebiadaban hanya bualan
kau pikir diamku hanya kemayu?
kau salah besar, bahkan jika aku mati aku akan lebih menggema di dalam kubur
900 kali aku mengangkat payung hitam, menuntut keadilan, membungkam rapat lukaku yang lama-lama jadi nanah
aku pribumi, harusnya hukum dapat mengadili
tapi pada nyatanya surat-surat itu berakhir jadi bungkus nasi
tertawa, kalian perempuan juga bukan?
berapa kali rasa aman terenggut?
takut bertemu banyak laki-laki di seberang jalan, atau takut pulang larut malam?
baju longgar dianggap suci, baju ketat dianggap jual diri?
ahh, pada akhirnya juga kau telan pahit itu bulat-bulat.
jangan sepertiku sudah lama mati menjadi mumi kehilangan harga diri
ah sudahlah. tuhan saja yang akan mengadili mereka
sedang aku akan ongkang-ongkang tertawa sembari menyeruput anggur kemenangan di akhirat.

___________________________________________

AMANAT PENUTUP

Muhandisa menegaskan di akhir diskusi: “Perempuan terlalu murah jika hanya dinilai dari lekuk tubuhnya. Ia lebih harum dari kasturi, menyempurnakan yang cacat, memberi riuh bagi yang sunyi. Maka jadilah perempuan yang bersuara. Jangan biarkan sejarah memutihkan lukamu. Dan bagi laki-laki: ketika seorang perempuan lewat, cukup tundukkan pandanganmu. Itu awal dari peradaban.”

Kontributor: Ilyas Fachriansyah

Editor: Unaise Albunayya

  • Penulis: Adi Kurnia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pakar Geofisika Geografi UMS Dorong Tata Ruang Berbasis Risiko Bencana

    Pakar Geofisika Geografi UMS Dorong Tata Ruang Berbasis Risiko Bencana

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 125
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Ancaman bencana alam di Indonesia tidak hanya dipengaruhi faktor alam, tetapi juga oleh cara manusia menata ruang dan wilayah. Akademisi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Annisa Trisnia Sasmi, S.Si., M.T., menegaskan pentingnya penataan ruang berbasis tingkat kerawanan bencana wilayah untuk menekan risiko korban jiwa dan kerugian material di masa depan. Menurutnya, kawasan […]

  • Pimpinan BikersMu Korwil Jawa Tengah dan BikersMu Chapter Rembang Resmi Dikukuhkan di Rembang, “Melaju Bersama Dakwah”

    Pimpinan BikersMu Korwil Jawa Tengah dan BikersMu Chapter Rembang Resmi Dikukuhkan di Rembang, “Melaju Bersama Dakwah”

    • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 126
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID; REM­BANG — Ratusan pengendara sepeda motor dari berbagai daerah di Jawa Tengah berkumpul di Taman Budaya Sambongan, Rembang, Sabtu malam (12/9/2026), dalam acara Pengukuhan Pengurus BikersMu Koordinator Wilayah (Korwil) Jawa Tengah. Sebanyak 53 pengurus BikersMu Korwil Jawa Tengah resmi dikukuhkan oleh Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah. Pengukuhan tersebut menjadi […]

  • Lelucon Jadi Guru: Tertawa di Tengah Laporan Keuangan Negara

    Lelucon Jadi Guru: Tertawa di Tengah Laporan Keuangan Negara

    • calendar_month Sabtu, 16 Agt 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 94
    • 0Komentar

    Oleh: Khosiyatika, M.Pd, (Ketua Bidang IMMawati Jawa Tengah, Guru SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga) Jadi guru itu kadang seperti jadi pelawak, harus tetap menghibur meski isi dompet dan kepala sama-sama kosong. Tapi siapa sangka, lelucon terbesar datang bukan dari kelas, tapi dari gedung kementerian. Belum lama ini, Sri Mulyani Menteri Keuangan yang terkenal tegas dan […]

  • Alumni Green Youth Quake Training Terbitkan Buku Energi Berkelanjutan untuk Indonesia

    Alumni Green Youth Quake Training Terbitkan Buku Energi Berkelanjutan untuk Indonesia

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 85
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Jakarta – GreenFaith Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam penguatan peran pemuda pada isu ekologi dan keadilan iklim. Komitmen tersebut diwujudkan melalui buku Energi Berkelanjutan untuk Indonesia oleh Penerbit Suara Muhammadiyah, karya alumni Green Youth Quake Training (GYQT) yang diselenggarakan pada 25–29 Juli 2025 di Pesantren Ekologi Misykat Al-Anwar, Bogor. Buku ini ditulis oleh Najihus […]

  • MIM Digdaya Bolon Borong Prestasi di Aisyiyah Student Competition Indonesia (ASCI) ke-9 2025

    MIM Digdaya Bolon Borong Prestasi di Aisyiyah Student Competition Indonesia (ASCI) ke-9 2025

    • calendar_month Senin, 22 Des 2025
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 119
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, KARANGANYAR – Setelah tiga hari berkompetisi dengan penuh semangat, Qobilah Hizbul Wathan (HW) Puteri dari MIM Digdaya Bolon, Colomadu, sukses membawa pulang torehan prestasi membanggakan dalam ajang Aisyiyah Student Competition Indonesia (ASCI) 2025. Acara yang berlangsung pada 16-18 Desember 2025 yang diselenggarakan di Tawangmangu, Karanganyar ini menjadi panggung pembuktian bagi siswi-siswi MIM Digdaya Bolon. […]

  • Mahasiswa KKN Kelompok 4 UIN Syekh Wasil Kediri Kunjungan ke Susteran Puteri Kasih sebagai Penguatan Moderasi Beragama

    Mahasiswa KKN Kelompok 4 UIN Syekh Wasil Kediri Kunjungan ke Susteran Puteri Kasih sebagai Penguatan Moderasi Beragama

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 77
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, KEDIRI — Dalam rangka memperkuat nilai Moderasi Beragama, Mahasiswa KKN Kelompok 4 UIN Syekh Wasil Kediri yang melaksanakan KKN di Kelurahan Pakelan melakukan kunjungan edukatif ke Susteran Puteri Kasih yang berada di . Jl.Brawijaya, Pakelan, Kec. Kota, Kota Kediri, hari ini. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk menumbuhkan sikap saling menghargai, toleransi, […]

expand_less