Ustadz Arifin Suparman Kupas Profil Ideal Pimpinan Muhammadiyah di Hadapan Kader Kukar
Pengajian bulanan Muhammadiyah Kukar menghadirkan refleksi mendalam tentang profil kader dan pimpinan persyarikatan.

KUTAI KARTANEGARA – Tausiah Ustadz Arifin Suparman dalam pengajian bulanan Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Kabupaten Kutai Kartanegara di Masjid Mujahiddin, Desa Sidomulyo, Kecamatan Anggana, Ahad (3/5/2026), menghadirkan refleksi mendalam tentang seperti apa sesungguhnya profil ideal seorang pimpinan, mubaligh, dan jamaah Muhammadiyah.
Dalam ceramahnya yang mengangkat tema “Profile Pimpinan, Mubaligh dan Jamaah Muhammadiyah & Aisyiyah”, Ustadz Arifin menegaskan bahwa menjadi bagian dari Muhammadiyah tidak cukup hanya dengan status administratif, melainkan harus tercermin dalam pola pikir, kebiasaan, hingga komitmen nyata terhadap gerakan persyarikatan.
“Menjadi Muhammadiyah itu bukan sekadar tercatat namanya, tapi bagaimana nilai-nilai Muhammadiyah hidup dalam keseharian kita,” ujarnya di hadapan hampir seribu peserta.
Ia menjelaskan bahwa kepemimpinan Muhammadiyah bertumpu pada manhaj berpikir yang benar, yaitu memiliki pedoman, metode, dan sistem yang kokoh dalam memahami Islam dan menjalankan organisasi.
Menurutnya, seorang pimpinan Muhammadiyah harus memiliki orientasi dakwah yang proporsional, mengedepankan ilmu, dan menjadikan Al-Islam serta Kemuhammadiyahan sebagai dasar berpijak.
“Kalau pimpinan kehilangan manhaj, maka arah gerakan juga bisa kehilangan orientasi,” katanya.
Salah satu poin penting yang ditekankan adalah menjaga tradisi keilmuan.
Ia mencontohkan pentingnya ketelitian dalam persoalan ibadah, seperti pemahaman arah kiblat, Kalender Hijriah Global Tunggal, maupun ketepatan waktu shalat.
“Keilmuan adalah napas Muhammadiyah. Jangan sampai kita malas belajar, padahal kita bagian dari gerakan tajdid,” tegasnya.
Selain itu, Ustadz Arifin menyoroti pentingnya pengkaderan.
Ia menyebut bahwa kaderisasi terbaik bukan sekadar memberi teori, melainkan memberikan ruang dan kesempatan.
“Pengkaderan yang utama adalah pemberian kesempatan. Beri ruang bagi kader muda untuk belajar memimpin, berdakwah, dan berorganisasi,” ujarnya.
Menurutnya, regenerasi adalah syarat mutlak agar Muhammadiyah tetap hidup dan berkembang.
“Kalau semua ingin tampil sendiri, kader tidak akan pernah tumbuh,” katanya.

Karakter lain yang ditekankan adalah gemar bermusyawarah.
Ia mengingatkan bahwa budaya organisasi Muhammadiyah dibangun di atas tradisi dialog dan kolektivitas, bukan keputusan sepihak.
“Musyawarah bukan formalitas. Di situlah ruh kebersamaan dan kebijaksanaan tumbuh,” ujarnya.
Tak kalah penting, ia mengingatkan bahwa pimpinan dan kader Muhammadiyah harus rajin menghadiri pengajian Muhammadiyah.
Menurutnya, pengajian adalah ruang penyegaran ideologis sekaligus penguatan spiritual.
“Kalau jarang hadir, perlahan rasa memiliki terhadap persyarikatan bisa memudar,” tuturnya.
Dalam era digital, Ustadz Arifin juga menekankan pentingnya meng-viral-kan pemikiran tokoh Muhammadiyah.
Ia mengingatkan kader agar aktif menyebarkan gagasan mencerahkan dari para tokoh persyarikatan, bukan justru terjebak pada narasi negatif.
“Jangan sibuk menghujat tokoh sendiri. Sebarkan pemikiran yang membangun umat,” katanya.
Ceramah itu semakin menarik ketika ia menyampaikan indikator-indikator sederhana namun bermakna, seperti hafal lagu-lagu Muhammadiyah, memiliki batik Muhammadiyah atau Aisyiyah, hingga menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui Muhammadiyah.
Bagi sebagian orang, hal-hal tersebut mungkin tampak sederhana.
Namun menurutnya, simbol-simbol itu merefleksikan rasa memiliki terhadap organisasi.
“Kalau kita cinta, pasti ada ekspresi nyata dari kecintaan itu,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh kader untuk aktif mempromosikan amal usaha Muhammadiyah, baik di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, maupun dakwah digital.
“Sekolah, rumah sakit, Lazismu, koperasi, media dakwah—semua itu milik gerakan. Kalau bukan kita yang mengenalkan, siapa lagi?” katanya.
Lebih jauh, Ustadz Arifin menyinggung pentingnya dukungan administratif seperti memiliki Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (KTAM), membayar iuran anggota, serta memiliki aplikasi pendukung organisasi.
Menurutnya, hal tersebut adalah bentuk disiplin organisatoris yang mencerminkan keseriusan dalam ber-Muhammadiyah.
Pesan yang paling kuat dari ceramahnya adalah ajakan untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai bagian dari identitas hidup, bukan sekadar aktivitas sesekali.
“Muhammadiyah harus hadir dalam pikiran, dalam amal, dalam kebiasaan, dan dalam keputusan hidup kita,” tegasnya.
Tausiah itu meninggalkan kesan mendalam bagi peserta.
Banyak yang mengaku merasa seperti sedang bercermin, mengevaluasi sejauh mana komitmen mereka terhadap persyarikatan.
Di akhir ceramah, Ustadz Arifin mengingatkan bahwa tantangan Muhammadiyah ke depan semakin kompleks.
Karena itu, dibutuhkan pimpinan dan kader yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara ideologis, matang secara organisatoris, dan tulus dalam pengabdian.
Melalui pengajian di Anggana, pesan tersebut menggema kuat: bahwa masa depan Muhammadiyah akan sangat ditentukan oleh kualitas kadernya hari ini. Sebuah refleksi yang sederhana, tetapi sarat makna bagi perjalanan gerakan Islam berkemajuan di Kalimantan Timur.(ay.1)



