Muhammadiyah Dorong Kurban yang Menjangkau Pelosok dan Menguatkan Kemandirian

KABARMUH.ID, Surabaya – Di tengah berbagai tantangan sosial yang masih dihadapi masyarakat, Muhammadiyah mendorong pemaknaan baru terhadap ibadah kurban. Tidak hanya sebagai ritual keagamaan yang berlangsung setiap Iduladha, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan sosial yang mampu menghadirkan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini masih minim akses pembangunan.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Dialog Publik TVMu bertema “Kurban Muhammadiyah Berdampak untuk Negeri” yang digelar Kamis (4/6/2026). Forum ini menghadirkan sejumlah narasumber dari Muhammadiyah, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), dan Lazismu untuk membahas bagaimana kurban dapat menjadi bagian dari solusi sosial yang berkelanjutan.
Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PP Muhammadiyah, Muchamad Arifin, menjelaskan bahwa kurban memiliki dimensi spiritual dan sosial yang tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, Al-Qur’an menempatkan perintah kurban berdampingan dengan salat sebagai simbol keseimbangan hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesama.
“Kurban mengajarkan bahwa keimanan yang kuat harus melahirkan manfaat bagi sesama. Karena itu, kurban tidak boleh berhenti pada aspek ritual, tetapi harus mampu menjawab persoalan sosial yang dihadapi masyarakat,” ujarnya.
Kurban sebagai Jalan Dakwah dan Kemandirian Masyarakat
Bagi Muhammadiyah, distribusi hewan kurban bukan sekadar penyaluran bantuan pangan. Kurban juga menjadi sarana memperkuat dakwah, membangun solidaritas sosial, dan menghadirkan perhatian kepada masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman, perbatasan, maupun wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Melalui jaringan dai yang tersebar di berbagai daerah, Muhammadiyah berupaya memastikan manfaat kurban dapat menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini jarang tersentuh layanan sosial maupun keagamaan.
Arifin menjelaskan bahwa pendekatan tersebut sejalan dengan model dakwah pemberdayaan yang selama ini dijalankan LDK Muhammadiyah. Selain memberikan pembinaan keagamaan, masyarakat juga didorong untuk mengembangkan berbagai program produktif berbasis potensi lokal seperti peternakan, pertanian, dan penguatan ekonomi keluarga.
“Semangat kurban harus terus hidup sepanjang tahun. Karena itu, dakwah pemberdayaan yang kami lakukan menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan kurban yang benar-benar berdampak bagi kehidupan masyarakat,” jelasnya.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa nilai pengorbanan dalam kurban tidak berhenti pada proses penyembelihan hewan semata. Lebih dari itu, kurban dipandang sebagai energi sosial yang mampu menggerakkan perubahan, memperkuat kemandirian masyarakat, serta menghadirkan harapan bagi kelompok yang membutuhkan.
Melalui sinergi bersama Lazismu dan berbagai mitra strategis lainnya, Muhammadiyah terus mengembangkan model kurban yang tidak hanya menghadirkan kebahagiaan sesaat saat Iduladha, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang bagi pembangunan masyarakat yang berdaya, mandiri, dan sejahtera.



